20. Adik-Kakak Sama Aja!

46K 6.9K 634
                                        

Jika kamu pernah mengalami momen menjadi batu, badan susah bergerak, padahal otak sudah memberontak, itulah yang kualami sekarang. Aku nggak bisa berlari mengejar Larung langsung karena itu akan menyakiti Dimas. Tapi aku juga nggak bisa membiarkan Larung pergi tanpa mendengarkan penjelasan, karena itu akan membuat kecurigaannya semakin besar. Kepalaku terasa mau pecah memikirkan hal ini. Aku heran, kenapa Tuhan memberiku ujian seberat ini? Aku merasa ingin menangis saking bingungnya harus bagaimana.

Setelah dua puluh menit yang sangat berat, aku memaksakan diri untuk meninggalkan Dimas bersama Adri dan Toro, dan keluar tergesa-gesa mencari Larung. Aku benar-benar takut kalau dia sudah pergi. Tapi aku bisa menemukannya dengan mudah duduk salah satu sudut halaman kantor polisi. Di tangannya ada rokok, dan sebotol air mineral.

Hidungku terasa pedih begitu melihatnya. Sejak tadi, hatiku terasa terbelah dua. Otakku terasa kepayahan mencari solusi.

Sebenarnya, aku nggak paham kenapa semua bisa jadi seperti ini. Tadi Larung bilang hubunganku dengan Dimas terlalu dekat dan itu menyakitinya. Tapi sekarang Dimas bilang aku memprioritaskan Larung, dan itu menyakitinya. Apakah sikapku selama ini memang salah? Apakah caraku memerlakukan mereka memang salah? Apakah aku memang menyakiti keduanya tanpa sadar? Padahal aku hanya ingin bersikap sewajarnya. Larung pacarku, dan Dimas sahabatku. Bukankah itu sudah jelas? Apa yang sangat salah dari relasi semacam itu?

Larung melihatku, yang tengah berdiri kaku sekitar 5 meter dari tempatnya duduk. Lalu dia tersenyum tipis, dan menepuk tempat di sampingnya. Memintaku mendekat, lalu menjatuhkan puntung rokoknya dan menginjaknya sampai padam.

"Mas ..."

Suaraku serak saat menyapa dan duduk di sebelahnya. Mungkin aku sudah 40% menuju menangis.

"Aku udah ngobrol sedikit sama polisi," kata Larung. "Papa lagi di Bali. Tapi udah dikabari, dan akan pulang segera malam ini. Mungkin ini udah di perjalanan."

Sekarang aku sudah 60 % menuju menangis.

"Sementara ini, polisi belum menemukan ganja di tas dan mobil Dimas. Tapi emang hasil tesnya positif. Jadi jatuhnya dia pemakai, bukan pengedar. Kemungkinan besar Dimas bakal direhab, nggak dipenjara."

Mungkin karena aku sudah tahu tentang hal itu sebelum Larung bilang apa-apa, fokusku hanya pada Larung. Satu tetes air mataku yang bandel dan nggak bisa ditahan meluncur turun. Kuhapus buru-buru sebelum Larung melihatnya.

"Aku justru khawatir gimana Dimas menghadapi teman-temannya nanti. Gimanapun, dia salah karena menodai aksi mahasiswa semacam ini dengan kepentingannya sendiri. Pake ganja lagi. Kasihan juga mahasiswa yang lain yang niatnya murni menyampaikan aspirasi. Meski cuma Dimas yang melakukan kesalahan, bukan mustahil yang lain juga kecipratan." Larung mendesah lelah. "Kalau aja Dimas bisa lebih bijak."

"Aku yang salah ..."

Larung menoleh. Air mataku sudah nggak bisa ditahan lagi.

"Maaf, Mas, maaf ... Aku tahu Dimas nge-ganja dari dulu, tapi aku nggak berani bilang! Aku ... aku sok-sokan pengin nyelesaiin hal ini sendiri dan bantu dia sendiri, padahal aku emang nggak bisa apa-apa ... Ak ... aku udah coba ngikutin Dimas belakangan dan sebisa mungkin ... cegah dia ketemu sama Irene ..." Napasku mulai tersengal, karena aku mulai mengisak. "Aku ... bego! Aku nggak bisa nyelesaiin apa-apa dan malah bikin kamu salah paham!"

"Brilian—"

"Kalau aku bilang dari awal, aku ... mungkin ini nggak perlu kejadian! Dan aku ... Mas, aku nggak ... Nggak aku ..."

Isak tangisku semakin keras, sampai akhirnya aku hanya bisa menangis tanpa bisa berkata-kata lagi. Larung menarikku dalam pelukannya, dan kuhabiskan tangisku di sana.

Ruang Temu RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang