Angkringan Cempluk adalah angkringan kekinian yang hits di kalangan anak muda di kotaku. Sama seperti angkringan pada umumnya, menu yang ditawarkan nggak jauh-jauh dari nasi kucing, sate-satean, gorengan, dan tentu saja kopi jos. Namun, tempat ini menawarkan lokasi yang cukup instagramable. Maklumlah, zaman sekarang poin bagus untuk foto atau nggak, jadi pertimbangan utama untuk datang ke suatu tempat. Tapi yang menambah nilai plus angkringan Cempluk, setiap akhir pekan ada acara live music bersama band-band indie di Solo. Juga ada ajang baca puisi yang terbuka bagi siapa pun. Terkadang bahkan ada acara bedah buku yang digelar di sini. Jadi, angkringan ini bukan semata tempat makan ataupun tempat nongkrong, melainkan juga pertukaran ide kreatif dari banyak orang.
Memang, angkringan ini jadi destinasi favorit para turis baik asing maupun domestik. Followers IG-nya bahkan sudah puluhan ribu. Tapi, ya, tetap saja itu nggak cukup kuat untuk menjelaskan mengapa cowok-cowok predator ini ada di sini. Di kota kelahiranku! Kan mustahil kalo mereka jauh-jauh dari Depok ke Solo hanya untuk menjajal Angkringan Cempluk!
"Naik mobil," jawab Toro waktu kutanya mereka naik apa. "Tadinya si anak sultan ini ngajakin naik motor. Kan gila, ya! Mendingan naik mobil, bisa gantian nyetir."
"Tapi kalian ngapain sih ke sini?" tanyaku masih nggak habis pikir. Lalu aku berpaling pada Dimas, yang tengah asyik main mata dengan cewek di meja sebelah. "Heh! Anak berengsek! Udah tahu temennya mau UAS, malah diajakin nge-trip! Teman macam apa lo?"
Dimas malah tergelak. "Lo juga teman macam apa? Minggu tenang bukannya belajar, malah mudik! Refreshing sendiri, nggak peduli temennya stres belajar!"
Aku mencebik. Refreshing pale lo! Aku justru sedang menyingkir untuk berpikir, tahu!
"Balik kapan?" tanyaku.
"Baru juga nyampe udah ditanyain kapan balik!" gerutu Adri.
Aku berpaling pada Adri, dan menyadari ada yang aneh dengan sahabatku yang satu ini. Suaranya lemah seperti kehabisan tenaga. Rambutnya kusut dan acak-acakan, sementara wajahnya pucat pasi. Berbeda dengan Dimas dan Toro yang memesan kopi serta makanan, Adri bahkan belum memesan apa-apa. Bahkan saat aku datang tadi, Adri tengah meringkuk di pojokan, seperti tumpukan pakaian kotor yang harus di-laundry.
"Lo kenapa?" tanyaku. "Teler?"
Adri baru membuka mulutnya untuk menjawab, Dimas sudah menyambar.
"Mabuk kendaraan!"
Lalu Dimas dan Toro tergelak. Sementara Adri hanya merengut. Kurasa dia terlalu lemas untuk membalas.
"Emang teman durhaka kalian, tuh," gerutuku. "Bukannya dibantuin, malah diledekin!"
Sambil mengomeli dua cowok nggak punya perasaan itu, aku memesankan secangkir teh hangat untuk Adri. Lalu aku mencari tahu kepada pegawai angkringan apakah mereka punya minyak angin. Adri menerima teh hangat yang kupesankan dengan penuh terima kasih.
"Kok bisa sih Adri sampe lemes begitu? Pasti lo berdua nyetirnya kebut-kebutan, deh!" tuduhku.
"Bukan lagi! Kalau tahu mereka berdua nyetirnya kayak gitu, mendingan gue naik motor sendiri! Aman! Bebas! Nggak kudu baca doa sepanjang jalan!" sambar Adri cepat.
"Makanya, gih cari SIM, Dri. Biar lo yang nyetirin kita," kata Toro dengan nada geli. "Ntar gue diem, deh, sepanjang jalan."
"Kalau mau trek-trekan di sirkuit sana! Bukan di jalan TOL dan balapan sama Bus Antarkota! Gue bukan kucing yang nyawanya sembilan! Dan gue nggak mau mati sebelum sarjana!"
Adri yang sepertinya sudah memendam kekesalan lama karena efek mabuk kendaraan, akhirnya mengadukan semuanya kepadaku. Sebenarnya aku ingin tertawa, tapi karena tadi Adri terlihat sangat menderita, aku nggak tega. Jadi aku hanya iya-iya saja. Berbeda dengan Dimas dan Toro yang semakin dimarahi, malah semakin tertawa-tawa senang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Romance[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
