30. Tumbukan

31.5K 5.7K 851
                                        

"Benci banget gue sama ujian open-book! Percuma juga book-nya bisa di-open, jawaban dari soalnya nggak ada di book!" gerutu Adri.

"Apa mendingan take home exam yang satu pertanyaan minimal jawabannya 500 kata?" tanyaku.

Adri manyun. "Nggak ada yang mendingan. Paling enak emang soal pilihan ganda."

"Sana balik ke SD!"

Masih sambil mendengarkan gerutuan Adri, kami pergi ke kantin untuk menyusul Toro. Dia sudah menyelesaikan ujian lebih dulu. Nggak heran, Toro memang paling cerdas di antara kami. Meski dia nggak suka belajar dan uangnya habis untuk beli rokok ketimbang buku, Toro itu cepat paham materi dan analisanya tinggi. Bahkan di antara kami bertiga hanya Toro yang tujuan hidupnya sudah jelas. Dia ingin menjadi notaris seperti Ibunya. Aku dan Adri masih bingung ingin berkarier di bidang apa setelah kuliah. Dimas nggak dihitung karena dia yang paling jelas sekaligus nggak jelas hidupnya. Maksudku, Dimas lebih tertarik fotografi dibandingkan hukum. Tapi kalaupun karier Dimas nggak jelas, dia nggak perlu khawatir nggak punya pekerjaan karena keluarganya punya banyak usaha yang menghasilkan.

Ada banyak pilihan karier yang biasa diambil lulusan hukum. Kami bisa menjadi advokat hukum, advokat korporat, staf legal, mendaftar menjadi hakim, jaksa, atau petugas-petugas hukum lainnya. Aku sendiri, masih galau memikirkan soal ingin jadi apa dan, tentu saja, berapa biayanya.

Sebenarnya aku ingin menjadi advokat setelah kuliah. Dulu aku sering memandang berlama-lama plang firma hukum di kotaku. Aku berpikir betapa kerennya jika aku membaca tulisan Brilian Shaka, SH & Rekan. Namun, setelah masuk ke dunia hukum, aku baru tahu bahwa cita-cita itu mahal biayanya. Dulu kukira setelah sarjana aku bisa langsung menjadi advokat. Ternyata nggak semudah itu.

Jangan dulu berpikiran soal menjadi partner atau membuat firma hukum dengan nama yang tertera di plang. Sejak dini harus kukubur dalam-dalam keinginan jadi pemilik firma hukum muda di bawah usia 30 tahun seperti di novel-novel. Untuk resmi menjadi advokat saja perjalanannya super panjang. Sama seperti dokter, lulus S1 hanya tahap awal. Setelah itu, calon advokat harus mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) serta lulus Ujian Profesi Advokat (UPA) yang biayanya lumayan. Setelah punya sertifikat PKPA, calon advokat harus menjalani magang advokat selama 2 tahun. Setelah semua itu berhasil dilewati, dan usia minimal sudah 25 tahun, barulah kami bisa disumpah dan diangkat menjadi advokat secara resmi. Belum-belum, aku sudah mumet memikirkan berapa biaya yang kubutuhkan untuk benar-benar meraih cita-cita yang kuinginkan.

Well, satu-satu dulu. Aku akan memikirkannya sambil jalan nanti. Saat ini aku akan fokus lulus UAS dulu. Setidaknya, hari ini adalah hari terakhir UAS. Aku bisa menghela napas dulu, sembari memikirkan alasan kepada Ibu untuk tetap di sini selama libur semester.

Di kantin, seperti biasa, Toro sudah menunggu kami sambil bersantai dan membakar paru-paru.

"Heh, Bangsat, lo udah dapat bocoran soal, ya?" tanya Adri sembari memukul punggung Toro cukup keras. "Cepet amat ngerjainnya kayak nggak pake mikir!"

Toro tertawa lebar, "Ya gimana? Emang dasar pentium gue udah cepet dari pabriknya, Sob. Repot gue kalo harus ngikutin pentium lo-lo pada."

Kali ini aku ikut-ikutan menggebuk punggung Toro, lebih keras dari yang Adri lakukan. Toro tergelak dan mengaduh kesakitan di saat yang sama.

"Eh, Si Residivis ngajakin jalan, nih," kata Adri saat melihat ponselnya. "Refreshing habis UAS ... halah! Bilang aja doi bosen karena nggak ada kerjaan!"

Aku berjengit. Seterbiasa-terbiasanya aku dengan mereka, aku masih nggak bisa terima saat Adri dan Toro mulai memanggil Dimas dengan sebutan Si Residivis. Yang bersangkutan sih selow-selow saja dan malah menganggap hal itu sebagai pengalaman berharga hanya karena yang lain nggak mengalami. Tapi, bagaimana hal-hal seperti itu bisa jadi bahan bercandaan, sih?

Ruang Temu RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang