18. Apa yang Salah?

42.2K 6.3K 519
                                        

"Easy Dining" adalah restoran semi bar yang cukup terkenal di lingkungan kampus ini. Sebenarnya, itu bukan tipe-tipe tempat yang akan kudatangi di hari-hari biasa sih. Selain aktifnya di malam hari, alias semacam kelab malam versi lebih sore, juga harganya cukup mahal untuk mahasiswa kere sepertiku.

Selepas pukul 9 malam tadi, Larung bilang dia janjian bertemu dengan Benji. Karena aku nggak punya kegiatan lain, dan aku nggak mau kepikiran Dimas terus, aku bilang ingin ikut saja. Toh, ini untuk urusan RuTem juga. Awalnya Larung ragu, tapi aku sedikit memaksa.

"Kamu yakin mau ikut?" tanya Larung sekali lagi, saat mobilnya berhenti di halaman Easy Dining yang cukup dipenuhi motor dan mobil. Kali ini Larung memakai mobilnya sendiri.

"Iya. Emang kenapa sih? Serem banget apa tempatnya?" Aku balas bertanya.

Larung menggeleng, lalu melepaskan sabuk pengaman dan keluar tanpa bilang apa-apa. Sedikit tergesa-gesa, aku mengikuti langkah Larung memasuki Easy Dining.

Lampu kuning hangat langsung menyambar penglihatanku. Begitu juga dengan asap-asap rokok yang memenuhi ruangan. Musik jazz mengisi suara, mengalahkan dengung obrolan yang lamat-lamat kudengar.

Oh, ternyata begini tempat nongkrong anak gaul kampus.

Larung berhenti sebentar di depan pintu dan menatap sekeliling. Lalu dia berjalan ke kanan, menuju deretan kursi-kursi di bar. Seorang cowok berambut cepak nyaris plontos menunggunya di sana.

Pria itu adalah Benjamin Maheswara alias Benji, gitaris sekaligus manajer Kelas Malam, band indie yang mengusung aliran psychedelic rock. Semua personil Kelas Malam berasal dari kampus kami. Dulu waktu aku masih mahasiswa baru, mereka cukup populer. Aku juga sering nonton saat mereka manggung. Sayangnya belakangan mereka jarang main lagi. Kurasa karena para personilnya sama-sama sibuk sendiri.

"Larung my man ..." sapa Benji ramah. Keduanya melakukan salam khas cowok: berjabat, lalu saling menepuk punggung masing-masing. "Apa kabar lo? Lagi skripsi, kan? Kok ngurus kafe juga sekarang?"

"Yoi. Ya disambilah. Biar nggak stres ngurus data mulu," jawab Larung sambil tertawa. "Eh, kenalin ini, Brilian."

Wah, untung saja dia masih ingat bahwa aku ikut.

"Halo, halo. Gue Benji," sapanya akrab sembari menjabat tanganku dengan hangat.

"Brilian," balasku.

"Anak FT juga?" tanya Banji.

Aku menggeleng. "FH, Bang."

Benji ber-oh panjang. "Pacar baru lo, Bro?" tanyanya kepada Larung.

"Bukanlah," jawab Larung nyaris tanpa berpikir. "Dia karyawan RuTem."

Sontak aku menatapnya, tapi Larung nggak sedang menatapku. Ada rasa teriris di hatiku. Dari tadi Larung seperti kurang rela aku ikut dengannya ke sini. Apakah ini maksudnya? Karena ini adalah lingkungan yang nggak boleh kumasuki?

"Bri ini Project Manager yang bakal ngurusin pas launching nanti. Makanya gue ajak dia sekalian ke sini."

Larung terus-terusan menjelaskan. Dan mendadak aku menyesal sudah memaksa ikut hari ini. Mungkin Larung memang nggak ingin aku ada di sini.

"Jadi, gimana, Bro? Mau, ya? Kalian kan udah lama nggak manggung. Itung-itung come back gitu. Lo nggak pada sumpek apa nyekripsi mulu? Nggak pengin refreshing main lagi apa?"

Benji tertawa. "Gimana ya ... Gue sih mau-mau aja. Tapi musti nanya ke yang lain dulu. Drummer gue tuh terutama. Sibuknya udah kayak presiden."

Ruang Temu RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang