35. Don't Speak

32.3K 5.5K 852
                                        

[Awal semester 6, tahun ajaran 2019 - 2020]

"As always, ya, ngabisin jatah absen di awal semester," sindir Toro begitu aku muncul.

Aku nyengir. "Lo nggak pernah ngerasain jadi mahasiswa rantau, sih. Nggak usah komentar deh!"

Toro tergelak sembari mengembuskan asap rokoknya. Duh, ini orang pagi-pagi udah bikin cerobong asap pabrik aja.

"Emang kalau libur lama-lama gitu ngapain sih, Bri? Nggak bosen?"

Kuletakan tas selempangku di atas meja, lalu kutarik satu kursi untukku.

"Ya banyak. Rebahan, bantuin nyokap, rebahan, jalan-jalan, rebahan, ngurusin kucing gue lahiran, rebahan. Sibuk tahu gue kalau di kampung."

"Kenapa gue cuma denger kata rebahan doang, ya?"

Aku tertawa, lalu mulai mengedarkan mata ke sekeliling kantin, mencoba memutuskan apa yang ingin kumakan. Pilihanku jatuh pada Soto Lamongan.

"Eh, nanti lo bisa kan, Tor?" tanyaku, setelah memesan soto lamongan untuk sarapan sekaligus makan siang. "Pas lo udah longgar aja. Udah nggak ada kerjaan lain gitu."

"Gampang. Kerjaan gue cuma sebat doang," jawab Toro.

Aku tertawa kecil. Nggak lama kemudian, Adri muncul membawa sebuah paper bag warna pink. Wajahnya terlihat kusut, tapi mendadak bersemangat saat tiba di meja tempat aku dan Toro duduk.

"Eciyeee, udah balik, Buk?" ledek Adri. "Kirain lo udah nikah sama juragan beras di kampung terus nggak balik lagi."

"Ya kali!"

Setelah libur semester ganjil selama kurang lebih sebulan, akhirnya semester 6 dimulai. Seperti yang sudah-sudah, aku selalu masuk kuliah seminggu lebih lambat dari jadwal untuk memanfaatkan jatah absen tiap-tiap mata kuliah. Hanya mahasiswa rantau sepertiku yang tahu rasanya. Tambahan seminggu liburan itu nggak berasa apa-apa, karena kami baru bisa pulang lagi di liburan semester berikutnya.

"Nanti jadi pindahan?" tanya Adri.

Aku mengangguk. "Jadi. Sesempat lo aja. Kalo udah nggak ada kerjaan, baru ke kosan gue bantuin pindahan."

Adri mengangguk-angguk. "Habis kelas juga gue nggak ada kerjaan."

"Mantap. Lo juga nggak ada kerjaan kan, Tor? Habis kuliah berarti langsung ke kosan gue, ya?"

Di sela-sela asap rokoknya, Toro mengacungkan jempol.

"Perasaan lo pindah-pindah kos mulu dah, Bri. Nggak capek?" komentar Toro.

Adri tergelak. "Bri tuh kos doang yang pindah-pindah, hati sudah lama menetap."

Sontak aku mencubit lengan Adri. Nggak hanya itu, kucabut satu bulu di tangannya yang membuatnya langsung meraung kesakitan.

"Dasar bar-bar!" sentaknya kesal.

Aku mengabaikan Adri. "Berisik banget anak-anak lantai satu. Satu semester di sana gue jadi kagetan."

"Balik ke lantai dua lagi aja," kata Adri.

Aku mendengkus sebal. Apa yang dikatakan Adri itu jelas bukan saran.

Di awal semester lima kemarin, aku memang pindah kamar kos dari lantai dua ke lantai satu. Awalnya aku ingin benar-benar pindah kos, karena kamarku nggak lagi terasa nyaman. Namun, penjaga kosku mengatakan bahwa ada kamar kosong di lantai satu yang dekat dengan taman. Karena kesehatanku juga belum benar-benar pulih, dan pindah kos yang jauh akan lebih merepotkan, akhirnya aku memutuskan untuk pindah kamar saja. Seenggaknya aku nggak perlu melihat kamar Larung setiap kali membuka jendela. Ironis, bukan? Padahal dulu itulah satu-satunya alasanku untuk memilih kamar yang super panas itu.

Ruang Temu RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang