Dimas nggak masuk hari ini. Padahal aku sedang membutuhkannya. Chat yang kukirimkan sejak tadi pagi juga nggak dibalas. Ke mana deh, tuh, anak? Kenapa selalu menghilang pas sedang dibutuhkan? Kukira tadi dia hanya terlambat. Tapi, sampai kelas Filsafat Hukum selesai, Dimas tetap nggak muncul.
"Bri, pesenin soto sekalian," kata Adri semena-mena, saat aku berdiri dan bilang hendak memesan siomay.
Aku mendelik kesal.
"Gue juga, dong, Bri. Nggak pake daun bawang, ya," tambah Toro.
"Dasar cowok-cowok manja!" decakku kesal.
"Ya kan tempatnya sebelahan looooh," Adri membela diri. "Gue yang pesenin es teh deh."
Aku mengangguk sepakat. Cukup apik juga pembagian tugas hari ini. Aku memesankan makanan, Adri memesan minuman, dan Toro kebagian jaga meja. Harusnya Dimas yang kebagian mentraktir biar formasi ini sempurna. Apalagi ini kan awal bulan. Biasanya uang saku Dimas dari Om Bara turun.
"Habis ini mau ke mana, Bri?" tanya Adri. "Jadwal lo ke RuTem masih lama kan?"
Seharusnya masih ada satu mata kuliah lagi setelah makan siang. Tapi barusan ketua kelas mengumumkan bahwa kelas dibatalkan. Sekarang aku jadi punya waktu luang yang panjang sebelum ke RuTem.
"Ke perpus palingan. Numpang tidur," jawabku.
"Mending di sini aja, ikutan gue kumpul-kumpul sama Perfilma," tawar Toro.
"Atau ikut gue."
"Ke mana?" tanyaku, karena Adri nggak menjelaskan lebih lanjut.
"Nggak tahu juga," jawab Adri cengengesen.
"Ya terus ngapain lo ngajakin gue ikut kalau tujuan hidup lo aja nggak jelas gitu?"
Toro tergelak. "Coba ada si Dimas. Bisa tuh numpang main Dota di rumahnya."
"Si Dimas beneran nggak bilang bolos ke mana?" tanyaku.
Baik Adri maupun Toro menggeleng.
"Aneh, chat gue juga nggak dibalas," gumamku.
"Palingan juga dia lagi motret entah di mana," jawab Toro. "Atau blusukan nyari spare part motor apa gitu. Namanya juga Dimas."
Masalahnya, aku harus bicara dengannya secepat mungkin! Ini urusan yang sangat mendesak!
Untung akhirnya aku menemukan Dimas. Setelah makan siang, aku pamit pada Toro dan Adri untuk ke perpustakaan. Saat aku keluar dari lobi utama, aku melihat Dimas sedang berada di parkiran bersama Irene. Aku berhenti melangkah, dan mengamati dari kejauhan. Keduanya terlihat sedang bersitegang. Dimas sepertinya sedang membujuk Irene, sedang yang dibujuk hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil berkali-kali melihat ponselnya.
Tak lama kemudian Irene berjalan cepat keluar dari lingkungan FH menuju halte di depan fakultas. Dimas mengekorinya, dan aku mengekori mereka diam-diam.
Sebuah BMW putih berhenti tepat di depan halte. Irene masuk begitu saja, meninggalkan Dimas yang mengumpat dengan kesal. Semua orang tahu siapa pemilik BMW putih itu. Setidaknya, orang-orang yang nggak ansos dan masih menyimak sedikit-sedikit pergosipan kampus, pasti tahu siapa yang menjemput Irene barusan.
Dimas yang masih kesal, berbalik dan kembali masuk ke kampus. Dia langsung menemukanku yang berdiri bersedekap di dekat patung pendiri Fakultas Hukum. Kulihat Dimas menghela napas panjang, lalu menghampiriku dengan senyum lebar.
"Oi!" sapanya.
Sesungguhnya, satu-satunya yang ingin kulakukan saat itu adalah menggeplak kepalanya dengan tas ranselku yang berat. Bisa-bisanya dia bolos kuliah cuma demi Irene! CUMA DEMI IRENE!
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Romance[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
