9. What the Hell Am I Doing Here?

41.7K 6.1K 405
                                        

Keesokan harinya, muncul sebuah papan pengumuman besar di dekat coffee bar Bang Erwan. Tulisan di sana terpampang besar-besar, berbunyi: MOHON TIDAK MEMINTA FOTO DENGAN KARYAWAN RUANG TEMU RASA. TERIMA KASIH.

Aku nyengir kecut kepada Bang Erwan yang juga nyengir. Agaknya Larung benar-benar marah karena peristiwa kemarin. Ya, aku senang sih. Setidaknya mahasiswa-mahasiswa usil dan nggak tahu diri itu akan pura-pura bisa baca. Dan bila mereka nggak bisa baca, aku bisa membacakan peraturan itu dengan alasan takut dipecat. Wow, menyenangkan juga bila semua bos seperti Larung.

"Keren juga bos muda RuTem," kataku lirih saat bergabung dengan Bang Erwan.

Dia hanya tertawa. "Lumayan beda dibanding kakaknya."

"Oh ya? Emang kalau Mas Hanung dulu gimana?" tanyaku kepo.

"Ya kalau Hanung nggak terlalu ambil pusing soal beginian sih. Dia fokusnya lebih ke produk sama kualitas pelayanan. Selama masih bisa ditolerir dan nggak ada yang ngeluh, dia nggak akan turun."

Aku ber-oh panjang. Hatiku terasa hangat. Larung nggak pernah berhenti membuatku bangga.

"Kemarin dia nanyain lo, Bri."

Aku yang sedang mengikat rambut, sontak menghentikan gerakan dan menatap Bang Erwan penuh tanya.

"Pas lo ke toilet apa ke dapur ya, lupa gue. Pokoknya dia nanya apa lo baik-baik aja. Gue bilang aja, ya tadi agak kaget tapi kayaknya udah oke."

Tanpa bisa dicegah, aku tersenyum lebar. Terlalu lebar sampai Bang Erwan bertanya kenapa pipiku mendadak merah. Pipi sialan. Kenapa transparan sekali sih?

"Nggak kok. Panas ..." jawabku sambil mengibas-ibaskan tangan membuat angin palsu.

Bang Erwan mengerutkan dahi. Tapi syukurlah dia memilih bersikap bijak dengan nggak membahasnya lagi.

"Berhubung lagi sepi, mau belajar bikin kopi nggak?" tanya Bang Erwan. "Ingat kan, kemarin mas bos minta gue ajarin lo bikin kopi buat back up gue sama Neera?"

Aku langsung mengangguk dengan semangat. Sudah lama aku penasaran dengan mesin kopi di bar itu. Aku sudah gatal pengin cepat belajar. Tapi aku nggak enak minta diajarin cepat-cepat sama Bang Erwan, karena aku kan dihire bukan sebagai barista.

"Oke. Gue kenalin dulu kali ya. Ini mesin kopinya. Dari sini kita bisa bikin espresso," kata Bang Erwan membelai mesin kopi berbentuk kotak besar. Gerakannya penuh sayang, seolah mesin kopi itu adalah pacarnya. "By the way, sebelum kita ke mana-mana, ini mesin kopi harus bersih ya. Tiap sebelum dan sesudah harus di-flush. Kayak gini." Dia menekan sebuah tombol di bagian depan mesin kopi, air bercampur uap keluar dengan suara desisan keras.

Lalu Bang Erwan mulai menyebutkan bagian-bagian dari si mesin kopi. Ada portafilter, tempat menaruh serbuk kopi yang sudah digiling, tamper yaitu alat untuk memadatkan bubuk kopi, dan tentu saja tuas yang digunakan untuk memproses espresso. Oh ya, ada juga coffee grinder yang bentuknya seperti corong dengan blender di bawahnya.

"Nah, terus apa yang kudu dilakuin pertama? Kita dozing dulu, alias nimbang. Untuk espresso biasanya kita pake 17-18 gram. Proses pengisian ini penting banget, Bri. Namanya proses distribusi. Harus rata biar lebih gampang buat tamping dan mengurangi kantong udara."

Bang Erwan menaruh portafilter di bawah coffee grinder dan mengisinya dengan serbuk kopi, sembari memutar-mutar portafilter agar serbuk kopi menempati ruang secara merata. Setelah portafilter terisi, Bang Erwan menimbangnya. Tepat di angka 17,5.

"Nah, kalo udah, kita lanjut ke tamping." Bang Erwan mengambil tamper yang berbentuk seperti stempel bulat, memegangnya di kanan dan kiri dengan ibu jari dan telunjuk, lalu membuat gerakan memutar. "Tujuan dari tamping ini buat buang kantong-kantong udara, Bri. Juga biar ada ruang yang cukup di antara serbuk kopi di atas portafilter buat proses keluarnya air. Nih, kalo lo kurang padat tampingnya, nanti ngalirnya bakalan ngocor dan encer."

Ruang Temu RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang