29. Out of Track

32.7K 6.6K 1K
                                        

Setelah meyakinkan Ibu tentang penghematan yang bisa kulakukan, juga bahwa trio boyband yang mengunjungiku di rumah itu nggak berbahaya, akhirnya aku kembali ke Depok bersama mereka hari Sabtu pagi. Yaa ... setidaknya kali ini Adri punya teman senasib sepenanggungan yang hanya bisa memaki-maki dari bangku belakang saat hasrat balapan Toro atau Dimas kumat. Meski demikian, keberadaanku membuat Toro dan Dimas lebih manusiawi dalam menyetir—kata Adri.

Kami tiba di Depok Sabtu sore. Alih-alih langsung ke indekos, aku minta Dimas untuk menurunkanku di RuTem. Dia mengiakan tanpa banyak bicara, lalu melaju sambil menguap, mengabaikan teriakanku untuk hati-hati menyetir meski rumahnya sudah dekat.

Berbeda dengan Sabtu menjelang malam Minggu biasanya, kali ini RuTem nggak terlalu ramai. Entah karena UAS membuat orang-orang lebih suka belajar sendiri di kamar, atau sama sepertiku, mereka memilih memanfaatkan minggu tenang untuk pulang.

Setelah bagi-bagi oleh-oleh kepada Neera dan Pak Ardi, aku bertanya apakah Larung ada di ruangannya. Neera bilang ada, tapi hatiku mencelos saat dia menambahkan bahwa "Si Mbak" juga ada.

"Sonia?" tanyaku dengan mata melebar. "Di atas?"

Neera mengangguk. "Kayaknya lagi ribut. Larung serem banget."

Aku menelan ludah. Lalu, tanpa menunggu lama, aku berderap menaiki tangga.

Di lantai dua nyaris kosong. Hanya ada seorang cowok di meja pojok yang tengah memakai headphone dan kepalanya bergoyang-goyang asyik. Pandanganku langsung tertuju pada pintu ruangan Larung yang tertutup. Aku melangkah dengan mantap.

Tanganku sudah terangkat, setengah jalan untuk mengetuk, saat keraguan menyeruak. Haruskah aku masuk ke dalam? Tapi apa yang harus kulakukan di sana? Apa yang tengah dibicarakan Larung dan Sonia di dalam sana?

Saat aku masih berpikir, suara Larung terdengar hingga ke luar pintu. Seperti refleks, aku mendekatkan telinga ke pintu untuk mendengarkan lebih jelas.

"Pembicaraan kita nggak bakal kelar. Gini-gini aja! Gue capek harus jelasin terus-terusan. Lo nggak pernah mau ngerti. Hubungan kita udah kelar, Sonia. Kenapa lo susah banget buat paham? Bagian mana sih yang nggak bisa lo pahami?"

"Karena kamu juga nggak ..."

"Ngancem cewek gue untuk menghancurkan RuTem? Ck!" Larung tertawa. Itu jenis tawa yang baru pertama kali kudengar dari Larung. Tawa yang kasar, dingin, nyaris kejam. "Lo pikir itu bakal berhasil?"

"Oh jelas," jawab Sonia percaya diri. "Aku tahu gimana cewek itu dan aku yakin apa pilihan dia."

"Dan lo juga tahu gimana gue bisa berdiri di sini sekarang seolah nggak ada apa-apa. Lo yang paling tahu apa aja yang bisa dilakukan keluarga gue, Sonia."

Aku penasaran apa maksud dari kata-kata Larung tersebut. Tapi aku lebih penasaran dengan respons Sonia. Namun, setelah menunggu beberapa detik, yang kudapati hanya keheningan.

"Hilangnya nyawa orang aja bisa ditutupi. Menurut lo, bakal sesusah apa buat nutupin tragedi rambut dalam gelas kopi? FYI, bokap gue yang bersikeras agar kafe ini tetap buka sampai hari ini. Jadi, lo bisa bayangin apa yang bisa kami lakukan untuk menyingkirkan kerikil kecil macam lo ini. Ngerti?"

"Tapi aku punya bukti ..."

"Atau gini aja," Larung memotong lagi. "Lo mau hancurkan RuTem? Go on. RuTem mungkin bakalan tutup and that's ok. Banyak orang kehilangan kerjaan? Gampang. Gue tinggal buka usaha baru untuk mereka. Gimana?"

Ada jeda yang cukup panjang setelah kalimat-kalimat kejam Larung diucapkan. Kakiku mulai terasa kesemutan. Detik demi detik berlalu, akhirnya Sonia bersuara.

Ruang Temu RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang