"Serius, Bri?" Adri bertanya. "Beneran nggak apa-apa?"
Aku mengangguk. "Lo mau bantuin gue kan?"
"Ya gue sih nggak masalah. Tapi ... nggak apa-apa gitu? Soalnya kemarin Dimas sama Mas Larung bilang ..."
"Nggak apa-apa," potongku cepat. "Larung lagi meeting sama calon investor RuTem. Dimas lagi ngurusin kosan."
Adri mengangguk. "Ayo, dah."
Kemudian Adri membantuku membereskan barang-barang di kamar rawat, sembari menunggu Ibu menyelesaikan administrasi. Sebenarnya nggak banyak yang harus Ibu tanggung sekarang. Selain aku punya asuransi kesehatan dari gaji Ibu sebagai PNS, Larung juga sudah menyelesaikan sebagian besar biaya rumah sakit yang belum ter-cover dari asuransi itu. Kini aku tahu Larung melakukan itu karena merasa bersalah. Haah ... entahlah. Aku nggak sanggup memikirkan itu sekarang.
"Eh tapi nanti lo baliknya gimana, ya, Dri?" tanyaku.
Tadi aku memang minta Adri untuk mengantarkan aku dan Ibu ke Bekasi. Karena bawaan kami cukup banyak, dan tentu saja aku nggak bisa membantu Ibu membawa apa pun. Budhe sebenarnya menawarkan diri untuk menjemput. Namun, kami nggak mau membuat Budhe terpaksa cuti kerja untuk menjemputku. Memberi kami tumpangan saja pasti sudah cukup merepotkan.
"Gampang, bisa naik KRL. Terus naik ojol," jawab Adri.
"Okee."
Mataku menangkap buket bunga yang masih berada di atas meja. Sudah sedikit layu, tapi masih cukup indah. Dengan gerakan perlahan, aku mengambilnya. Kuputuskan buket bunga itu jadi salah satu barang yang akan kubawa pulang.
"Itu dibawa juga?" tanya Adri.
Aku mengangguk. "Dimas yang bawa kan?"
"Umm ..."
"Cantik bunganya. Tahu banget dia gue nggak suka mawar dan lili."
"Eh, Bri, lo udah tahu perkembangannya Sonia?"
Aku menoleh kepada Adri dan memasang wajah bertanya.
"Ditangkap." Adri menjawab sendiri pertanyaannya. "Kemarin. Dia sempat mau kabur ke luar negeri."
"Dimas yang ngelaporin?"
"Wey, Anda mahasiswi hukum bukan, sih?" Adri berdecak kesal. "Ya kan sebenarnya tinggal tunggu waktu kan dia ditangkap? Saksi matanya banyak. Plat nomornya juga jelas. Mau dilaporin apa kagak, dia bakal diuber polisi."
Aku terdiam sebentar, lalu nyengir kecut. Sementara itu, Adri mengomel panjang lebar. Katanya aku mulai ikut-ikutan Dimas yang nggak peduli sama materi hukum sama sekali. Kata Adri: Gimana lo bisa jadi advokat kalau yang begitu-begitu saja lupa?
"Ya Dimas sih planga-plongo soal materi kuliah nggak apa-apa. Dia masih bisa kaya dan jadi apa aja. Lah, elo jangan ikutan, Cuy!"
Sialan si Adri ini. Aku sedang sakit, malah diceramahi soal materi hukum dan masa depan!
"Jadi, benar Sonia yang nabrak gue?" gumamku, lebih kepada diri sendiri. Namun, Adri mendengarnya dan mengangguk untuk membenarkan.
"Mobilnya sih punya doi," tambah Adri.
Selama ini aku diam saja saat Dimas dan Larung bilang Sonia yang menabrakku. Semua itu hanya didasarkan pada percakapan Dimas dan Sonia di RuTem sesaat sebelumnya. Namun, sebagai mahasiswa hukum, aku memahami makna praduga tak bersalah. Dan sejauh yang kutahu, mobil yang menabrakku itu melarikan diri dari TKP. Jadi, sebelum dibuktikan dengan proses yang sah, aku nggak bisa begitu saja menganggap Sonia yang menabrakku. Lagi pula, Adri benar. Kasus tabrak lari bukanlah kasus perdata yang harus dilaporkan terlebih dahulu untuk diproses hukum. Cepat atau lambat, pelakunya akan segera ditangkap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Temu Rasa
Romance[Cerita ini akan menjadi gratis pada tanggal 15 September 2025] Brilian, seorang mahasiswa hukum berusia 20 tahun, berhasil bekerja part time di Kafe Ruang Temu Rasa, milik pria yang selama 1,5 tahun terakhir dicintainya diam-diam. Saat perasaannya...
