"Jungkook-ah, dari mana saja kau?"
Gerakanku berhenti tepat setelah aku mendengar suara itu. Ketika aku menoleh mataku langsung menangkap para hyungku yang menatap marah kepadaku. Aku melakukan kesalahan, ya?
"Mengapa kau baru pulang?"
"Aku meneleponmu. Kenapa kau tidak menjawabnya?"
"Kau bahkan tidak memberitahu kau pergi ke mana."
Aku harus menjawab siapa? Mereka benar-benar marah, ya? Aku tidak bermaksud pergi tanpa memberitahu mereka. Aku juga tidak bermaksud membuat mereka marah.
"Jungkook-ah, jawab!"
"Maafkan aku, hyung. Ponselku mati, jadi tidak bisa menghubungi kalian." sesalku.
"Jadi kau dari mana?" tanya Hoseok hyung.
"Aku keluar karena bosan di rumah. Tapi aku terjebak salju dan tidak bisa pulang." aku menjelaskan perkaranya.
"Ah, kau benar-benar membuat kami cemas."
"Lain kali hubungi kami dulu."
"Baik, hyung."
"Mandi dan beristirahatlah! Bajumu basah." Yoongi hyung yang sedari tadi diam memberikan selimut kecil yang tadi dipakainya kepadaku. Kemudian tanpa menunggu aku merespon, dia kembali duduk dan sibuk dengan note booknya.
Wah, ternyata aku benar. Yoongi hyung memang benar-benar memperhatikan dongsaeng nya. Dia bahkan tidak memarahiku sama sekali. Aku juga tidak ingin mendengarnya memarahiku. Mungkin aku akan menangis saat dia baru mengucapkan satu kalimat saja. Mulutnya itu kan sangat pedas.
Oh, tunggu dulu. Dari mana Yoongi hyung mendapat ide untuk lagunya. Aku yakin tadi aku tidak melihat Yoongi hyung menulis saat aku baru datang. Jangan-jangan karena aku dimarahi seperti ini membuatnya mendapat ide. Jahat sekali Yoongi hyung.
"Masuklah! Kau bisa sakit jika tidak segera mengganti bajumu." Jin hyung langsung menarik tanganku dan membawaku pergi dari hyung yang lain.
"Mandilah terlebih dahulu. Aku akan membuatkan sup untukmu." kata Jin hyung yang langsung diangguki olehku.
Aku segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diriku. Setelah selesai aku masuk ke dalam kamarku. Aku lelah sekali hari ini. Udara di luar juga sangat dingin. Tapi aku merasa senang setelah berhasil kembali ke rumah.
Aku sudah mulai terbiasa dengan suasana ini. Enam hyungku itu meskipun terkadang sangat sibuk dengan pekerjaannya, akan tetap saling memperhatikan. Tidak hanya aku yang dimarahi karena pulang terlambat. Tae hyung malahan lebih sering dari pada aku. Bahkan Jin hyung pernah diceramahi habis-habisan oleh Yoongi hyung karena pulang hampir tengah malam.
Mereka saling menjaga satu sama lain. Jika satu orang mengalami masalah, maka yang lain akan membantu. Suasana seperti ini benar-benar membuatku merasa nyaman.
Aku mengambil ponselku dan mengisi dayanya. Setelahnya aku duduk di pinggir kasur sembari bergelut dengan pikiranku. Ini aneh, belakangan ini aku sering melakukannya.
Oh ya, tadi aku keluar karena ingin melihat pemandangan bersalju di luar. Aku mengambil beberapa foto dan video dengan ponselku. Karena aku terlalu sibuk dengan kegiatanku, aku hampir tidak sadar jika daya ponselku hampir habis. Ketika aku menyadarinya, Ponselku langsung mati.
Saat aku memutuskan untuk segera pulang, tiba-tiba salju yang turun semakin lebat. Aku tidak gila dengan memutuskan untuk menerjang badai salju. Akhirnya aku duduk di dalam cafe yang kusinggahi hingga salju yang turun agak berkurang.
Ah, aku bahkan hanya memesan frappuccino dan duduk di sana selama hampir dua jam. Beruntung pemilik cafe itu sangat ramah dan tidak mengusirku. Aku yakin jika dia kasihan padaku. Mana mungkin dia tega mengusir dan membuatku terjebak di badai salju.
Tapi sampai sekarang aku masih kedinginan. Seharusnya aku tidak pergi tadi.
"Jungkook-ah, kau di dalam?" aku mendengar suara Jin hyung di luar kamarku.
"Ya, aku di dalam, hyung." jawabku setengah berteriak agar Jin hyung mendengar suaraku.
Detik berikutnya pintu kamarku terbuka dan terlihat sosok Jin hyung kemudian. Laki-laki itu melangkah masuk dan menutup pintu kamarku kembali.
"Kau sudah mandi?" tanyanya sembari meletakkan semangkuk sup yang masih mengepulkan asap di atas meja.
"Sudah, hyung."
"Kalau begitu makanlah supnya. Habiskan lalu beristirahatlah." kata Jin hyung lagi.
"Baik, hyung. Terima kasih."
"Kalau begitu aku keluar, ya."
Aku mengangguk dan Jin hyung segera keluar dari dalam kamarku. Aku sempat terdiam sebentar sebelum kemudian mengambil mangkuk sup itu dan mulai menyendoknya ke mulutku. Wah, apa pun yang dimasak Jin hyung selalu enak. Aku merasa lebih hangat setelah memakannya.
Aku menggapai ponselku yang masih dicharge dan menghidupkannya. Aku melihat-lihat foto dan video yang kuambil hari ini. Menyenangkan juga ketika melihatnya. Apa yang harus aku lakukan dengan semua ini?
Video editing? Boleh juga. Dan setelahnya aku mulai sibuk dengan semua hasil jepretan ku itu.
Aku tidak mengingat seberapa lama aku terhanyut dalam aktivitasku itu hingga suara Jimin hyung menyadarkanku. "Jungkook-ah, apa yang sedang kau lakukan?"
Aku spontan menoleh dan melihat Jimin hyung masuk ke dalam kamarku bersama Hoseok hyung. Sebelum aku menjawab, Jimin hyung terlebih dahulu menyambar ponselku dan melihat apa yang sedang kulakukan pada benda pipih itu.
"Wah, apa ini?" tanya Hoseok hyung ikut melihat pekerjaanku.
"Aku mengambil beberapa video tadi. Kurasa akan lebih bagus jika diedit sedikit." ujarku menjelaskan.
"Ternyata kau pandai mengedit video, ya." Jimin hyung mengembalikan ponselku. "Jika sudah selesai, tunjukkan kepada kami." lanjutnya.
"Aku sudah menyelesaikan satu video."
"Perlihatkan kepada kami!" Jimin hyung dan Hoseok hyung langsung duduk di samping kanan dan kiriku. Aku sempat tersenyum kecil sebelum kemudian memutar video yang sudah selesai ku edit.
Hanya video pendek dengan durasi kurang dari tiga menit. Aku menampilkan pemandangan bersalju di tempat yang tadi aku datangi. Tidak ada yang istimewa. Aku juga hanya menonjolkan beberapa tempat yang menurutku bagus.
"Dari mana kau belajar mengedit video?" tanya Jimin hyung tepat setelah video yang kutunjukkan berakhir.
"Aku baru mencobanya tadi sebelum kalian datang, hyung." jawabku.
"Wah, kau hebat sekali." seru kedua hyung itu bersamaan. "Kemarikan ponselmu!" Hoseok hyung mengambil ponselku dan bangkit dari duduknya. "Ayo, Jimin-ah. Kita harus membuat yang lain melihatnya." kemudian mereka berdua pergi meninggalkanku setelah mengambil ponselku begitu saja.
"Ya! Hyung, tunggu dulu!" aku berteriak mengejar mereka berdua. Enak saja mereka mengambil ponselku dan membawanya entah kemana. Aku belum selesai mengedit video yang satunya.
Aku dapat melihat keenam hyungku itu berkumpul di ruangan tadi. Aissh, aku yakin jika Jimin hyung dan Hoseok hyung itu memperlihatkan video ku kepada mereka semua.
"Hyung, aku belum selesai..."
"Diam, Kookie!" Tae hyung memotong ucapanku.
Ah, aku yang mengedit video itu. Tolong hargai aku dan jangan seenaknya melihat begitu sebelum aku mengizinkannya. Ah, percuma. Mereka tidak akan mendengarkan ku juga meskipun aku mengatakan itu. Untuk apa menyia-nyiakan suaraku yang berharga ini.
"Kookie." Tae hyung yang pertama berpaling sementara yang lain masih memperhatikan ponselku dengan serius.
"Ne, hyung."
"Ayo bekerja sama denganku."
"Eh?!" aku menatapnya bingung. Apa katanya tadi? Bekerja sama apa? Aku tidak mengerti. "Apa, hyung?" tanyaku.
"Kenapa kau tidak menunjukkan ini sejak awal?"
Bukan. Bukan Tae hyung yang mengatakan itu. Tapi para hyungku yang kini sedang memandangku dengan tatapan yang tidak aku mengerti.
Tunggu dulu. Memangnya aku melakukan apa?

KAMU SEDANG MEMBACA
Save Me [END]
Fanfiction[방탄소년단 x 전정국] Jeon Jungkook harus mampu hidup sendiri sejak kecil. Dia harus bertahan dalam lingkungan baru sendirian. Begitu lama dia menderita hingga akhirnya dia menemukan para malaikat penolongnya. Namun apakah itu saja mampu untuk membuatnya me...