After Story : SAVE ME #2

879 62 14
                                    

"Kau masih mencarinya?"

Sedikit tersentak karena tiba-tiba mendengar suara, Soyeon menoleh cepat dan menemukan seorang perempuan berjalan masuk dengan seangkir cokelat panas di tangannya. Sudah jelas, jadi Soyeon tidak ingin menjawab. Eunkyung-teman sekamarnya itu-menghela nafas lalu duduk di hadapan Soyeon. Dia bahkan ikut pusing melihat temannya itu kehilangan semangat hidup karena putus asa mencari sepupunya.

"Apa tidak ada petunjuk?"

Hanya gelengan pelan yang Eunkyung dapat. Soyeon menyesal, sangat. Seharusnya Jungkook-nya tidak akan hilang begini jika dia tahu lebih cepat. Dia benar-benar marah setelah tahu jika keluarga besarnya malah membuang Jungkook setelah orang tua dan kakaknya meninggal. Mungkin seharusnya Soyeon sedikit lebih curiga saat mereka lepas kontak secara sepihak. Dia pikir akan memberikan kejutan yang menyenangkan kepada Jungkook setelah lama tidak bertemu. Tapi ternyata malah ini yang terjadi.

Menghabiskan hampir sepuluh tahun untuk menyelesaikan sekolah menengah, menjadi mahasiswa, lalu bekerja di Jepang benar-benar tidak membuatnya melupakan Jungkook. Anak itu selalu mengeluh kepadanya jika Junghyun terlalu sibuk. Tapi sejak enam tahun lalu mereka benar-benar tidak saling berhubungan. Awalnya Soyeon panik dan langsung menanyakan keberadaan Jungkook kepada sepupunya yang lain. Tapi setelah mereka mengatakan jika Jungkook sudah sibuk dengan pekerjaannya-bahkan tidak ingin diganggu-Soyeon sedikit tenang. Meskipun memang ada perasaan khawatir dan aneh karena Jungkook yang biasanya selalu bercerita ini itu tiba-tiba menghilang.

Soyeon masih tidak bisa menerima alasan keluarga besarnya membiarkan Jungkook kehilangan tempat di antara mereka. Anak itu tidak bersalah sama sekali, itu yang selalu ada dalam pikiran Soyeon. Jungkook hanya sepupunya yang lugu. Dia bahkan sangat penurut, Junghyun sendiri yang mengatakannya. Iya, enam tahun yang lalu juga. Mereka berdua benar-benar menghilang setelah itu. Pantas kan jika Soyeon khawatir?

Setidaknya Soyeon akan sedikit lebih tenang jika tahu Junghyun bersama anak itu. Tapi tidak. Keluarganya mengatakan jika dia sudah meninggal enam tahun lalu karena kecelakaan bus. Setiap mengingat wajah santai kakak sepupunya ketika mengatakan bahwa mereka membuang Jungkook, Soyeon selalu ingin menghancurkan apapun yang ada di hadapannya.

"Hei, tenang. Ini, minumlah." Eunkyung mencoba meredam emosi Soyeon saat menyadari jika temannya itu akan segera mengamuk seperti biasa. Ayolah, barang-barang di sini baru saja diganti.

Dengan ganas, Soyeon mengambil cangkir yang disodorkan temannya itu lalu menegaknya sampai habis. Persetan dengan Eunkyung yang mendesah pasrah karena cokelat yang ia buat harus tandas sebelum ia berhasil mengecap rasanya.

"Aku tidak bisa menemanimu besok. Sedang ada kasus baru. Mian."

Soyeon mengangguk singkat. Memang Eunkyung selalu sibuk. Dia baru saja tergabung dalam kepolisian Seoul baru-baru ini. Sepertinya memang berita televisi menampilkan banyak kasus beberapa hari belakangan. Soyeon harus memaklumi keadaan temannya itu.

***

Hancur. Semuanya benar-benar hancur berantakan. Padahal baru kemarin Soyeon berpikir jika dia masih bisa membawa Jungkook ke dalam hidupnya. Padahal baru kemarin dia bertekad akan segera menemukan Jungkook lalu merengkuhnya dan membawa anak itu untuk melepas segala kesulitan selama ini.

Ini tidak benar. Soyeon memang ingin bertemu dengan Jungkook. Tapi bukan dalam keadaan seperti ini. Bukan dengan nisan yang mengukirkan nama sepupunya. Bukan dengan berlinang air mata seperti ini. Soyeon ingin membawa tawa kembali ke dalam hidup Jungkook. Tapi nyatanya anak itu bahkan sudah kehilangan hidupnya.

Dadanya sesak. Sekarang matanya pasti sudah membengkak karena terlalu lama menangis. Ia bahkan sama sekali tidak menghiraukan butiran salju yang terus jatuh di atas kepalanya. Tak ada yang ia pedulikan saat ini. Jungkook-nya sudah pergi dan dia bahkan terlambat menyadari.

Soyeon kalut. Dia sangat panik saat Eunkyung tiba-tiba menelepon dan mengatakan ini kepadanya. Mungkin jika temannya itu tidak memeriksa berkas-berkas kasus lama, Soyeon masih akan terus melakukan pencarian yang sia-sia. Tapi rasanya itu lebih baik dari pada menyadari kenyataan pahit ini.

"Koo, kenapa pergi? Noona belum sempat mengatakan apapun." Isakannya masih belum berhenti, malah kian lirih karena tubuh yang menolak untuk terus bertahan. Entah Soyeon sadar atau tidak jika dia terus menggigil sejak tadi. Fokusnya saat ini hanya kepada Jungkook saja.

"Koo, kembali! Kembali..."

Dalam keadaan lemah, Soyeon terus menggumamkan kalimat-kalimat lirih yang takkan pernah terjawab. Dadanya semakin sesak, tapi ia tak peduli. Bahkan hingga pandangannya mengabur dan ia tak bisa merasakan apapun lagi, Soyeon tidak berencana untuk beranjak sama sekali. Sepersekian sekon sebelum ia mendengar samar-samar suara seseorang lalu kesadarannya hilang sama sekali.

***

"Park Seojoon."

Menelengkan kepala, memandang laki-laki yang baru saja mengenalkan diri. Dahinya mengernyit, mencoba mengingat-ingat apakah dia mengenal seseorang dengan nama itu. Tapi nihil, sepertinya laki-laki itu memang orang asing yang berlagak sok peduli.

"Kenapa berdiam di tengah salju seperti itu?" Seojoon kembali bertanya, masih dengan senyum menawan yang pasti bisa membuat siapapun terpesona. Siapapun kecuali Soyeon yang sedang tidak bisa terpikat.

"Cih, jangan bersikap sok akrab." ujarnya sembari memalingkan wajah. Persetan dengan sopan santun. Dia bisa memaafkan dirinya sendiri karena bersikap seperti ini kepada laki-laki itu. Entah atas alasan apa, intinya Soyeon kesal.

"Hahaha. Baiklah, langsung saja. Kau mengenal Jungkook?"

Kepalanya menoleh seketika, kembali memandang Seojoon dengan mata melebar. Otaknya cukup cepat mencerna kalimat itu dan membuatnya sangat terkejut. "Kau mengenalnya?"

Bukan jawaban, justru decakan kesal yang ia dapat. Seojoon malah menyandarkan tubuhnya ke belakang sembari memandang Soyeon dengan mata memincing. "Hei jawab dulu, wanita kurang ajar."

"Apa maksudmu? Siapa yang lebih kurang ajar? Kau bahkan mengganti pakaianku saat aku sedang tidak sadar. Aku bisa melaporkanmu, Tuan Park mesum."

"Sudah kubilang, bukan aku. Aku meminta tetanggaku untuk melakukannya."

"Siapa yang percaya!"

***

Hai, semuanya!!! Kaget nggak tiba-tiba dapat notif dari SAVE ME? Hadiah untuk kalian semua dalam rangka memperingati hari kelahiran Mas Worldwide Handsome.

Gimana nih? Masih ada yang baca? Penasaran nggak sama yang di atas itu? Sepenggal kisah di atas merupakan penghubung ke dunia baru di mana kehidupan Jungkook dkk akan berlanjut. Yuk baca seri selanjutnya dari pada penasaran. Langsung pindah ke akun liamyspring

Harus baca dong. Masa nggak kangen sama Jungkook dkk. Ditunggu kehadirannya

Save Me [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang