Aku menghela nafas sekali lagi. Tubuhku lelah sekali. Kakiku mati rasa. Dinginnya udara seakan tengah meremehkan diriku yang masih saja menantang butiran salju yang turun deras dari langit.
Tubuhku menggigil hebat. Bohong jika aku mengatakan tidak kedinginan. Di musim seperti ini aku bahkan tak mampu mengenakan sebuah mantel untuk menutupi tubuhku. Aku tak memilikinya dan mungkin sampai kapanpun tak akan mampu memilikinya. Memang apa yang aku harapkan? Masih bisa bernafas saja sudah merupakan keajaiban bagiku.
Dengan langkah gontai aku terus berjalan. Ingin rasanya cepat-cepat pergi dari tempat semacam ini. Tapi kemanapun aku pergi tetap saja akan bertemu salju. Di musim dingin seperti ini tidak ada tempat yang luput dari butiran es ini. Ah, kecuali di dalam rumah. Tapi sayangnya rumah bukanlah hal yang aku miliki.
Hidupku memang sangat menyedihkan. Lagi pula tidak memiliki rumah dan harus berjalan tanpa baju hangat di tengah salju bukan titik terbawahku. Setidaknya aku masih bisa menahan air mata agar tidak jatuh bercucuran. Ah, atau mungkin air mataku telah membeku karena saking dinginnya.
Tubuhku terasa sangat berat. Bahkan aku harus menyeret kakiku untuk memaksanya terus melangkah. Terlebih aku harus menahan sakit di kepalaku ini. Aku mulai berpikir jika sebaiknya aku mati saja dari pada harus menderita selamanya seperti ini.
Lagi pula jika aku mati tetap tidak ada yang menangisi aku. Jangankan teman, keluarga pun tak punya. Tentu saja jika aku mati semuanya tetap akan berjalan seolah tidak ada yang terjadi. Tidak akan ada yang rugi. Itu bagus kan.
"Hei, kau baik-baik saja?"
Saat tubuhku nyaris roboh, aku merasakan sepasang lengan kokoh menahan tubuhku. Mataku bergerak melihat siapa yang tiba-tiba berlagak sok peduli pada orang tak berguna sepertiku.
Dua orang yang tidak aku kenal. Satunya memegang payung, sedangkan yang satunya menahan tubuhku yang nyaris ambruk. Aku masih tidak mengerti mengapa mereka menghampiriku. Aku tidak terlihat seperti seseorang yang bisa dimanfaatkan.
"Astaga! Kenapa kau hanya memakai baju yang sangat tipis." aku dapat mendengar nada berbeda saat laki-laki yang memiliki lesung pipi itu melepaskan mantelnya dan memakaikannya di tubuhku.
"Dia menggigil, hyung. Lebih baik kita membawanya ke rumah. Keadaannya benar-benar buruk." ujar laki-laki yang memegang payung.
Hei, kalian pikir apa yang ingin kalian lakukan padaku? Aku ini masih waras. Untuk apa mengikuti orang tak dikenal seperti kalian. Meskipun aku tidak keberatan jika harus mati sekarang, tapi tetap saja aku tidak ingin mati ditangan orang yang tidak kukenal.
"Kau ikut dengan kami ya." ucap laki-laki yang memiliki lesung pipi. Kemudian dia memapahku untuk mengikutinya. Anehnya aku sama sekali tidak melawan. Padahal barusan aku berpikir jika aku tidak akan mengikuti mereka. Ah, otakku membeku hingga tidak bisa berpikir dengan normal.
Mereka membawaku masuk ke dalam mobil yang terparkir tak jauh dari posisi awal kami. Laki-laki yang tadi membawa payung duduk di sampingku sementara yang satunya langsung duduk di belakang kemudi dan melajukan mobil itu sesegera mungkin.
"Kau sedang apa tadi? Tidak seharusnya kau berjalan di tengah salju seperti tadi."
Aku menoleh, memandang laki-laki yang duduk di sampingku. Ah, otakku sedang membeku. Aku tidak akan tahu apa yang seharusnya aku katakan kepadanya.
Pada akhirnya aku tetap diam. Dia yang mengerti jika aku tidak akan menjawab akhirnya menutup mulutnya. Dia nampaknya mengambil sesuatu dari tasnya.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau pikirkan." gumamnya sembari mengelap wajah dan rambutku yang basah dengan handuk kecil.
"Suhu tubuhmu tinggi sekali." dia kembali bergumam pelan. "Hyung, lebih baik kita ke rumah sakit. Kurasa dia demam." kini dia berbicara dengan laki-laki yang sibuk menyetir.
"Aissh, tentu saja. Dia berjalan di tengah salju seperti itu pantas saja jika demam. Kita ke rumah sakit sekarang." balas laki-laki itu setelah melirik kami sekilas.
"Oh ya, hubungi Jin hyung. Dia akan mengomel jika kita terlambat pulang tanpa mengabari." lanjut laki-laki itu.
"Baik, hyung."
Laki-laki di sampingku itu mengambil sebuah ponsel dan mulai mengotak-atik nya. Setelahnya dia menempelkannya di telinganya.
"Halo, Jin hyung."
"Kemana saja kau, Jimin? Apa yang kalian lakukan? Ah, di mana Namjoon? Dia tidak mengajakmu keluyuran tidak jelas kan?"
Karena aku berada di dekatnya, aku bisa mendengar ucapan dari lawan bicaranya. Dan sekarang aku tahu jika dia bernama Jimin. Dan jika tidak salah menebak, nama laki-laki yang sedang menyetir itu adalah Namjoon.
"Maafkan kami, hyung. Sepertinya kami akan pulang terlambat."
"Apa lagi alasanmu kali ini? Telingaku sudah sering mendengar kebohongan kalian berdua."
"Maafkan kami, hyung. Kami sedang menuju rumah sakit. Na-"
"Rumah sakit?! Apa yang terjadi? Kau sakit? Atau Namjoon yang sakit? Kalian tidak mengalami kecelakaan kan?"
"Tidak, hyung. Aku akan menceritakannya nanti."
"Hei, tunggu dulu-"
"Sudah ya, hyung. Sampai nanti."
Laki-laki yang dipanggil Jimin itu langsung menghela nafas setelah mematikan telepon. Aku tahu apa yang sedang dipikirkannya. Pasti merutuki orang yang dipanggil Jin hyung tadi karena kelewat cerewet.
"Apa masih lama, hyung?" tiba-tiba Jimin kembali bertanya kepada Namjoon.
"Sebentar lagi."
Ah, aku terlalu memperhatikan mereka hingga melupakan rasa sakitku sejenak. Tapi kemudian tiba-tiba sakit itu kembali menyerang tubuhku.
"Kau benar-benar kedinginan ya."
Jimin merapatkan tubuhku kepadanya, membawaku masuk ke dalam lingkupan kehangatan yang diberikannya. Aku hanya mampu terdiam setelah merasa keterkejutan menguasai otak dan tubuhku.
Aku tak menyangka ternyata hanya dalam satu hari ini aku dapat kembali merasakan kehangatan seperti ini. Bolehkah aku melupakan jika laki-laki yang sedang memelukku ini bukan hyungku? Biarkan aku merasakan kehangatan ini lebih lama lagi. Hanya kali ini, satu hari ini.
"Hiks..."
"Eh?!" Jimin sontak melepaskan pelukannya saat mendengar isakan kecilku. Dia menatap mataku yang kini penuh dengan air yang mengalir deras. Dia melebarkan matanya, nampaknya terkejut karena tiba-tiba aku menangis.
"Kenapa kau menangis? Apa aku menyakitimu? Aku...Ah, kau merasa sakit?" tanya Jimin sedikit panik.
Aku hanya mampu menggeleng, tak berani bersuara meskipun hanya satu kata pun. Nampaknya Jimin kebingungan. Tapi akhirnya dia kembali membawaku ke dalam pelukan hangatnya.
"Kau takut ya? Maafkan aku. Kami tidak akan menyakitimu. Tenang saja ya." bisiknya.
Terima kasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save Me [END]
Fanfiction[방탄소년단 x 전정국] Jeon Jungkook harus mampu hidup sendiri sejak kecil. Dia harus bertahan dalam lingkungan baru sendirian. Begitu lama dia menderita hingga akhirnya dia menemukan para malaikat penolongnya. Namun apakah itu saja mampu untuk membuatnya me...
![Save Me [END]](https://img.wattpad.com/cover/207701016-64-k442473.jpg)