Bagian 30 : From a Dream

998 99 5
                                        

SEOKJIN POV

Belakangan ini adalah saat-saat yang paling berat bagiku. Pasti dongsaengku juga merasakan hal yang sama. Kami masih belum selesai berduka atas meninggalnya Yoongi, tapi Taehyung tiba-tiba tertimpa kemalangan itu.

Aku tidak tega melihat dia harus terbaring di ranjang rumah sakit dengan berbagai alat yang sama sekali tidak aku mengerti. Terlebih tadi pagi pun dokter belum menyatakan jika dia telah melewati masa kritisnya.

Tidak hanya Taehyung, Jimin juga terlihat begitu memprihatinkan. Jika dilihat sekilas dia seperti mayat hidup. Kesehatannya menurun drastis karena mendapat tekanan seperti itu. Karena penyakitnya itu, kami selalu berusaha untuk tidak membuatnya terlalu lelah atau tertekan. Tapi jika keadaannya seperti ini apa yang bisa kami lakukan?

Jungkook juga tak berbeda jauh. Dia sangat sering kedapatan diam-diam menangis saat tidak ada aku maupun hyungnya yang lain. Aku tahu jika dia sangat mudah mencemaskan orang lain. Aku sangat yakin jika dialah yang paling mencemaskan Taehyung. Tapi yang membuatku kagum adalah dia bisa mengendalikan dirinya dan bersikap dewasa. Bahkan dialah yang selalu menemani dan menenangkan Jimin meskipun aku tahu dia pasti juga tertekan karena masalah ini.

Sedangkan Hoseok seperti biasa mencoba membuat mereka tidak terlalu mencemaskan Taehyung. Dia lebih sering mengajak kedua dongsaeng pergi dan melupakan masalah sejenak meskipun aku yakin jika dia tahu itu tidak akan berhasil. Tapi setidaknya dialah yang selalu membuat suasana menjadi tak terlalu menegangkan. Meskipun begitu Hoseok juga terlihat beberapa kali memberikan tatapan cemas ketika melihat Taehyung yang masih tak mau membuka matanya.

Ah, kami sangat mencemaskannya.

Aku sendiri sangat ingin berada di samping mereka di saat seperti ini. Tapi sekarang aku sedang bekerja. Bukannya tanpa alasan. Taehyung terluka sangat parah dan membutuhkan perawatan yang intensif. Kami membutuhkan lebih banyak uang untuk membiayai pengobatannya.

Apakah aku belum mengatakannya? Kami tidak memiliki uang yang cukup untuk menanggung semuanya. Kami juga tidak bisa meminta uang kepada orang tua. Sebagai hyung tertua aku harus berusaha untuk bisa membiayai pengobatannya. Karenanya aku terpaksa meninggalkan para dongsaeng dan bekerja.

"Jin hyung, kenapa melamun?"

Aku sedikit tersentak saat suara seseorang menyadarkanku. Aku cepat-cepat menoleh dan menemukan seorang rekan kerjaku sedang menatapku.

"Ah, maafkan aku." dengan cepat aku kembali melakukan pekerjaanku yang terhenti karena tanpa sadar aku melamun. Aku gila. Di sini mereka sangat sibuk dan aku tiba-tiba melamun.

"Kau sedang ada masalah, hyung?" tanya rekanku yang tadi.

"Ah, hanya tentang dongsaeng. Tidak perlu dipikirkan." jawabku sembari memberikan seulas senyum kepadanya.

"Oh, baiklah. Jika kau ingin bercerita, aku bisa mendengarkannya. Sangat tidak nyaman melihatmu tidak bersemangat seperti ini." katanya lagi.

"Ah, tentu. Terima kasih."

"Kalau begitu aku akan kembali bekerja."

Aku mengangguk dan membiarkannya pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. Dengan cepat aku bergerak untuk membuat hidangan yang dipesan sambil mengarahkan beberapa koki yang ada di sini.

Biasanya aku akan merasa senang ketika melakukan pekerjaanku ini. Tapi karena masalah pada dongsaeng aku menjadi tidak bisa fokus dan melakukan banyak kesalahan. Karenanya banyak dari rekan kerjaku yang menyarankan agar aku beristirahat terlebih dahulu. Tapi aku malah merasa semakin bersalah jika melakukannya.

Lagi pula sebentar lagi jam kerjaku akan berakhir. Aku harus melakukannya hingga selesai dan barulah bisa beristirahat. Aku tidak mungkin membuat mereka semua kerepotan.

"Jin hyung, sudah waktunya kau pulang. Pergilah dan beristirahat. Kau terlihat sangat lelah." salah satu rekan kerjaku mengatakan itu setelab aku menghidangkan makanan ke dalam piring.

"Ah, maafkan aku. Hari ini aku hanya mengacau." ujarku kepadanya.

"Kami akan mengerti. Lebih baik sekarang kau pulang dan biarkan kami saja yang menyelesaikan ini." katanya lagi.

Aku melirik jam yang tergantung di dinding ruangan. Sekarang jam lima sore, aku memang biasa pulang di jam seperti ini. Karenanya aku tak berniat untuk menolak lagi dan memilih untuk segera pergi.

"Kalau begitu aku akan pergi." ucapku yang langsung diangguki olehnya. Setelah itu aku segera bergegas dari sana dan menuju ke ruangan ganti.

"Ugh!"

Tiba-tiba tubuhku tertarik ke belakang dan tertahan begitu saja. Bahkan saat aku ingin menggerakkan tubuhku, rasanya sangat sulit melakukannya. Sepasang lengan kekar mengunci leherku hingga aku kesulitan bernafas.

"Diam di tempat!" aku mendengar teriakan tepat di belakangku. Suaranya terdengar begitu dekat denganku. Ah, tidak. Aku mencoba melihat ke belakangku dengan susah payah. Seorang laki-laki berwajah garang yang melakukannya.

Sebenarnya apa yang terjadi di sini?

"Siapa itu?"

"Jin hyung..."

"Apa yang dia lakukan?"

Berbagai kalimat masuk ke dalam telingaku. Aku yakin semua orang yang berada di sana terkejut melihat apa yang terjadi padaku. Laki-laki itu gila. Dia benar-benar berniat mencekik leherku, ya?

"Diam! Aku membawa bom."

Seketika semuanya terdiam saat satu tangan laki-laki itu terangkat menampilkan benda yang namanya baru saja disebutnya itu. Aku yang menyadarinya langsung lemas begitu saja. Bohong jika aku tidak takut. Itu bom, sebuah bom. Aku tidak akan mati, kan? Bagaimana dengan para dongsaeng? Apa yang akan terjadi pada mereka?

Tubuhku terseret ke depan saat laki-laki itu menggiringku untuk berjalan. "Kalian berkumpul di sana! Jangan ada yang berani berteriak atau aku akan meledakkan tempat ini." suara laki-laki itu terdengar menggelegar di dalam ruangan ini.

Akhirnya semua orang berkumpul di tempat yang ditunjuk oleh laki-laki itu. Dia masih terus menggiringku ke depan. "Lemparkan ponsel kalian ke depan! Cepat lakukan!"

Tanpa menunggu lebih lama lagi, ponsel-ponsel dilemparkan ke arahku. Laki-laki itu terus berteriak dan mengancam agar tidak ada yang macam-macam. Di saat seperti ini aku berpikir mengapa tidak ada orang yang menyadari situasi di sini padahal di luar ada begitu banyak orang.

Entah sudah berapa lama laki-laki itu mengunci leherku. Aku sudah tidak bisa bernafas dengan benar. Rasanya tubuhku menjadi sangat lemas karena tak mendapat pasokan oksigen yang cukup. Tapi aku sama sekali tak bisa memberontak atau meneriakkan apa yang aku rasakan. Aku hanya bisa diam dan pasrah.

Tiba-tiba aku mendapati tubuhku terdorong dengan begitu kuat dan tersungkur begitu saja. Rasa sakit yang teramat dapat aku rasakan saat kepalaku membentur sesuatu yang keras. Aku tidak memiliki kesempatan untuk memastikan apa yang membentur kepalaku karena tubuhku kemudian terguling dan kembali membentur sesuatu.

Sakit. Rasanya sakit sekali.

Sekilas aku melihat kobaran api di depan sana meskipun aku tidak tahu apa itu benar atau hanya ilusi mataku. Kemudian setelah itu pandanganku menjadi gelap sama sekali.

Save Me [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang