"Kenapa tiba-tiba mengajak kami menonton teater?"
Aku hanya menoleh sekilas kemudian kembali fokus dengan apa yang ada di depanku. Saat ini kami sedang menonton sebuah teater musik dan tari di gedung teater yang tak jauh dari rumah. Jimin hyung yang mengajak kami ke sini tadi pagi. Aku setuju saja. Lagi pula aku belum pernah menonton teater sebelumnya.
"Anak-anak dari tempatku bekerja ikut tampil di sini. Aku dipaksa untuk ikut menonton karena izin tidak mengajar. Tolonglah mengerti sedikit." kata Jimin hyung yang duduk tepat di sebelahku.
"Kau mengganggu rencanaku, hyung." ucapan Tae hyung masih dapat kudengar.
"Hanya satu jam. Lagi pula rencananya kita baru akan pergi saat jam sepuluh. Itu masih dua jam lagi." kata Jimin hyung lagi.
"Kalian tidak bisa diam, ya?!" Jin hyung bersuara dengan nada marah. Ah, kedua hyungku itu mengganggu penonton lain. Mereka tidak sadar, ya? Bahkan dari tadi orang-orang terus menengok ke arah kami.
"Maaf, hyung."
Aku tersenyum tipis dan kembali fokus pada penampilan di panggung. Senang juga melihat anak-anak itu. Oh, jadi beberapa dari mereka adalah anak-anak yang diajar oleh Jimin hyung, kan? Mereka lucu sekali.
Bukk!
Aku menoleh ke samping kananku. Apa Yoongi hyung tidur? Dia tidak sadar sedang bersandar padaku, ya? Ah, dia pasti begadang untuk menyelesaikan lagunya. Dia itu sangat bekerja keras, jadi pasti dia lelah.
Aku menggeser dudukku mendekati Yoongi hyung dan sedikit mencondongkan tubuhku ke arahnya. Kemudian dengan hati-hati membenarkan kepala Yoongi hyung yang bersandar padaku.
Sepertinya hanya di saat-saat seperti ini aku tidak takut berada di dekatnya. Ah, tapi aku menyadari satu hal darinya. Dia memang bermulut tajam dan sikapnya terlalu dingin. Tapi di balik sikapnya itu Yoongi hyung sangat memperhatikan dongsaeng nya.
Aku masih ingat saat aku berdiri di depan dapur lalu dia menyuruhku untuk masuk. Saat itu Jin hyung bertanya kenapa aku tidak masuk saja dari tadi. Saat aku ragu untuk menjawab, Yoongi hyung mengatakan jika aku tidak ingin mengganggu Jin hyung. Sekarang aku berpikir, bagaimana dia bisa tahu?
Lalu saat Tae hyung membelikannya note book, dia berkata jika sudah membelinya. Saat aku kembali ke kamarku hari itu, aku melihat ke dalam studionya. Ada tumpukan note book yang masih baru di sana. Aku yakin jika Yoongi hyung tidak membutuhkan note book baru lagi. Tapi karena Tae hyung sudah membelikannya, Yoongi hyung tidak ingin membuat Tae hyung kecewa karena dia menolaknya.
Ah, ya. Saat aku masih di rumah sakit aku yakin jika itu suara Yoongi hyung yang membujuk Jimin hyung untuk ikut makan siang. Dia mencemaskan Jimin hyung karena sebelumnya Jimin hyung sempat pingsan.
Ah, Yoongi hyung itu tipe orang yang tidak suka menunjukkan jika dia sedang memberikan perhatian. Tapi akhirnya aku mengerti jika dialah yang paling perhatian kepada kami. Dan meskipun aku sempat menganggap enteng pekerjaannya, sebenarnya dia adalah yang paling bekerja keras di antara kami. Bagaimana pun aku kagum kepadanya.
Sepertinya aku ingin mendengarkan lagunya meskipun hanya sekali. Pasti hebat sekali, kan? Bukankah katanya salah satu lagunya juga pernah berada di posisi atas pada chart music? Aku harus mencarinya nanti.
"Apa Yoongi hyung tidur?"
Aku menoleh ke arah Jimin hyung yang barusan bertanya. Aku sempat menengok ke arah Yoongi hyung sekilas sebelum kemudian mengangguk, mengiyakan pertanyaan Jimin hyung.
"Bahumu tidak sakit?" tanya Jimin hyung lagi.
Aku menggeleng. Hanya untuk bersandar tidak akan membuat bahuku sakit. Ah, baiklah. Ini sedikit pegal. Tapi jika aku bergerak, Yoongi hyung mungkin akan terbangun. Aku tidak tega melakukan itu. Dia pasti lelah.
"Benarkah? Yoongi hyung pernah bersandar padaku selama satu jam. Dan aku tidak bisa menggerakkan tanganku setelah itu." kata Jimin hyung setengah berbisik. Hmm itu karena Jin hyung mulai memandangnya dengan marah. Lagi-lagi berisik.
"Tapi sekarang kau bisa menggerakkan tanganmu, hyung." balasku ikut berbisik.
"Tentu saja. Itu kan sudah lama, Kookie." Jimin hyung memandangku dengan kesal. Ah, ini pertama kalinya dia menunjukkan ekspresi seperti itu kepadaku. Rasanya senang juga melihatnya.
"Sudahlah. Bangunkan saja jika kau merasa bahumu sakit." kata Jimin hyung kemudian kembali melihat ke depan.
Ah, mereka baik sekali.
***
Suasana di sini sangat ramai. Banyak orang dari berbagai kalangan memilih tempat ini untuk bersenang-senang. Kami berada di Seoul Plaza Skating Rink, sesuai rencana beberapa hari yang lalu. Aku rasa di sini memang menyenangkan.
"Jungkook-ah, kau bisa bermain ice skating?" tanya Namjoon hyung kepadaku yang sedang berdiri memperhatikan suasana sekitar.
"Aku tidak bisa."
"Mau mencoba? Kita sudah ke sini, rugi jika kau hanya diam dan melihat mereka begitu." kata Namjoon hyung lagi.
"Oh, baiklah." Namjoon hyung berlalu entah kemana setelahnya. Mungkin sedang menyewa ice skates, itu yang aku pikirkan.
Aku berbalik dan berjalan menghampiri para hyungku yang lain. Tae hyung sedang memotret kerumunan orang dengan kameranya. Yoongi hyung hanya duduk sambil menulis di note booknya. Aku yakin jika dia sedang menulis lagu. Dia benar-benar bisa mendapatkan ide kapan pun dan di mana pun.
Sementara mereka berdua sibuk, hyungku yang lain sedang berfoto bersama. Akhirnya aku memutuskan untuk melihat apa yang dikerjakan Yoongi hyung.
"Hyung, aku duduk di sampingmu ya." aku meminta izin kepada Yoongi hyung terlebih dahulu. Pasalnya aku takut jika Yoongi hyung tidak suka aku tiba-tiba datang dan mengganggunya.
"Hmm." Yoongi hyung hanya menggumam. Aku pun langsung duduk di sampingnya. Aku penasaran dengan apa yang ditulisnya. Jadi aku sedikit melirik note book milik Yoongi hyung itu.
"Jungkook-ah, kau bisa menyanyi?"
Aku yang diam-diam sedang memperhatikan pekerjaan Yoongi hyung sontak tersentak kaget ketika mendengar suaranya. Apa tadi yang ditanyakannya?
"Aku jarang menyanyi, hyung." jawabku gugup.
Yoongi hyung memandangku dengan tatapan yang... Hmm, tidak bisa aku deskripsikan. Mengapa dia memandangku begitu? Ada yang salah dengan wajahku?
"Dengarkan ini!"
Mengabaikan aku yang terkejut, Yoongi hyung memasangkan earphone di telingaku lalu memutar sebuah musik. Aku mendengarkannya dengan tenang. Ini ciptaan Yoongi hyung? Pertama kalinya aku bisa mendengarkannya.
"Apa kau yang membuatnya, hyung?" tanyaku tepat setelah musik itu berhenti.
"Hmm." lagi-lagi Yoongi hyung hanya menggumam. "Aku sedang bingung." tapi ucapannya itu membuatku langsung memandangnya serius. "Aku merasa ada yang kurang." lanjutnya.
"Padahal itu sudah sangat bagus, hyung." aku mencoba membuatnya lebih percaya diri.
"Ini tidak cukup bagus."
Ini pertama kalinya aku melihat Yoongi hyung menunjukkan ekspresinya. Dia terlihat... frustasi. Apa yang dituntut oleh pekerjaannya? Yoongi hyung tidak bisa menyelesaikannya? Dia pasti tertekan karena itu.
Aku mencemaskannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Save Me [END]
Fiksi Penggemar[방탄소년단 x 전정국] Jeon Jungkook harus mampu hidup sendiri sejak kecil. Dia harus bertahan dalam lingkungan baru sendirian. Begitu lama dia menderita hingga akhirnya dia menemukan para malaikat penolongnya. Namun apakah itu saja mampu untuk membuatnya me...