Bagian 16 : Part of my Life

1.4K 180 8
                                    

Ah, kepalaku sakit sekali. Ketika aku membuka mata tak ada yang aku pikirkan kecuali menerka apa penyebab rasa sakit ini. Tubuhku terasa remuk, sulit untuk digerakkan. Ini terasa seperti aku benar-benar lemah seakan tak ada tenaga yang tertinggal di sana.

Apa yang terjadi padaku?

Ah, aku ingat. Saat itu aku benar-benar sudah tidak memiliki harapan lagi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Aku pingsan begitu saja. Tapi ternyata aku beruntung saat itu.

FLASHBACK ON

"...Hei, kau mendengarku?"

Aku membuka mataku perlahan. Ada suara seseorang di dekatku. Saat aku ingin bergerak seluruh tubuhku terasa sakit dan kebas. Berharap bisa melihat dengan lebih jelas, mataku mengerjap berkali-kali.

"Astaga! Akhirnya kau bangun juga."

Siapa itu? Aku tidak mengenalnya. Suaranya juga tidak tersimpan dalam otakku. Dia orang asing. Benar-benar asing.

"Kau bisa bangun? Aku akan mengantarmu ke rumah sakit." dia berkata lagi. Tapi aku terlalu lemah untuk menjawab. Ah, tolonglah berikan aku tenaga sedikit saja.

"Kondisimu benar-benar buruk."

Laki-laki itu membantuku bangun dan dengan telaten membersihkan sisa-sisa salju yang menempel di pakaianku. Kemudian setelahnya memapahku berjalan.

"Maaf..." akhirnya aku bisa bersuara.

"Ya?"

"Tolong... rumahku di depan sana." suaraku tak lebih dari sebuah bisikan. Aku tak dapat mengeluarkan suara yang lebih keras lagi.

"Kau harus ke rumah sakit. Apa ada orang di rumahmu?"

Aku hanya mengangguk pelan. Lebih baik menyimpan tenaga untuk bergerak. Akhirnya laki-laki itu mengiyakan dan kembali memapahku untuk berjalan.

Ah, padahal aku hanya harus berjalan sedikit. Aku yakin jika tidak lebih dari dua ratus meter. Tapi rasanya sangat sulit menggerakkan kedua kakiku. Apa yang akan terjadi saat para hyung melihat kondisiku saat ini?

"Cukup." aku mendesis pelan. Laki-laki itu sontak menghentikan langkahnya.

"Yang mana rumahmu?" tanyanya. Aku mengangkat sebelah tanganku dan menunjuk sebuah rumah. "Aku akan mengantarkanmu sampai depan rumahmu. Setelah itu kau boleh mengusirku." katanya dengan nada serius.

Ah, dia ini mudah berburuk sangka kepadaku ya. Aku tidak ingin 'merepotkan' orang asing sepertinya. Itu saja. Sebaiknya dia tidak memikirkan hal buruk tentangku.

Akhirnya dia kembali memapahku tanpa mengatakan apapun lagi. Ya sudahlah. Aku juga tidak memiliki tenaga untuk membuat kakiku tetap berjalan dengan normal. Ah, setidaknya aku tidak gila dengan merangkak.

"Baiklah, aku akan pergi." laki-laki itu benar-benar mengantarkanku hingga depan pintu rumahku. Harus kuakui jika dia baik.

"Terima kasih."

Laki-laki itu mengangguk dan mulai berjalan menjauh. Aku tidak memperhatikannya lagi setelah itu. Aku berbalik dan meraba apapun yang bisa menopang tubuhku. Kemudian perlahan menggerakkan kakiku untuk berjalan.

Ah, sial! Ini sakit sekali.

Aku mendorong pintu dengan sisa tenagaku dan tiba-tiba tubuhku roboh begitu saja.

FLASHBACK OFF

Sekarang aku berpikir siapa laki-laki itu dan mengapa dia bisa menemukanku. Lagi pula mengapa dia baik sekali kepadaku? Memangnya orang baik sepertinya masih tersisa, ya? Aku pikir hanya tinggal enam orang saja.

Ah, sekarang aku menjadi mengingat para hyungku. Aku segera menolehkan kepalaku melihat sekeliling. Aku menemukan Jin hyung dan Jimin hyung tertidur dalam posisi duduk di sofa.

Tunggu dulu! Aku ada di... rumah sakit? Aku baru menyadarinya.

Aku berusaha untuk bergerak, tapi syarafku langsung mengantarkan rasa sakit ke otakku. Mau tak mau akhirnya aku menyerah dan tetap diam dalam posisiku.

Aku salah karena berurusan dengan orang-orang itu. Mereka benar-benar berniat menghancurkan tubuhku. Rasanya sakit sekali setiap kali aku mencoba untuk bergerak.

Setidaknya aku bisa melihat beberapa bagian tubuhku dibebat. Aku tak dapat melihatnya, tapi kurasa kepalaku juga dibebat. Rasanya kepalaku benar-benar pening. Aku ingat jika kepalaku membentur dinding karena terdorong cukup kuat. Aku tidak yakin dengan apa mereka memukulku, tapi itu sangat sakit.

"Jungkook-ah?"

Mataku mengerling ke arah sumber suara. Kemudian perlahan kepalaku menoleh. Aku dapat melihat Jin hyung sudah bangun. Dia meregangkan tubuhnya sebentar sebelum kemudian bangkit dan berjalan ke arahku.

"Kondisimu benar-benar buruk. Itu pasti sakit sekali, kan?" kata Jin hyung sembari duduk di kursi yang ada di samping ranjang.

Aku mengangguk, mengakui jika ini memang sakit sekali. Lagi pula siapa yang akan mengatakan jika dia baik-baik saja dengan luka seperti ini. Aku tidak gila. Menenangkan hyungku juga tidak ada gunanya. Mereka tidak bodoh dengan percaya jika aku baik-baik saja.

"Maaf merepotkanmu lagi, hyung." aku berucap lirih. Percayalah, suaraku seakan hilang saat ini.

"Jangan mengatakan itu. Kami hyungmu, tentu saja akan mencemaskanmu. Tidak apa-apa kau merepotkan kami, itu tidak akan menjadi masalah. Asalkan kau baik-baik saja, itu sudah cukup. Tidak perlu memikirkan banyak hal. Kau harus beristirahat dengan baik agar cepat sembuh." kata Jin hyung lagi.

Ah, dari mana asalnya para malaikat ini? Terkadang aku bertanya-tanya apakah hubungan mereka memang sebaik ini meskipun tidak terikat hubungan darah. Ternyata mereka jauh lebih baik dari yang aku pikirkan.

"Berapa lama aku di sini, hyung?"

"Hmm." mengapa Jin hyung harus berpikir terlebih dahulu? Aku tidak pingsan begitu lama, kan? "Aku rasa sudah dua hari."

"Mwo?! Mianhe. Kalian pasti sangat..."

"Sudah kubilang, jangan memikirkan hal itu. Meskipun kau merasa merepotkan kami, sebenarnya kami sama sekali tidak merasa direpotkan. Hanya saja kami tidak bisa berhenti mencemaskanmu." Jin hyung menginterupsi ucapanku.

Astaga! Aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Jin hyung membuatku tidak bisa berkata-kata. Aku ingin menangis saja. Boleh, kan?

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi kau pulang dalam keadaan seperti itu... Jimin menangis saat itu. Dia benar-benar mencemaskanmu. Bahkan sampai sekarang dia tidak mau pulang sebelum melihatmu bangun." perkataan Jin hyung membuatku langsung menoleh ke arah Jimin hyung yang masih terlelap. Aku yakin dia pasti lelah. Dan lagi dia tidur dalam posisi seperti itu, pasti sangat tidak nyaman.

"Hyung..."

"Ya?"

"Maafkan aku."

Jin hyung terdiam setelahnya. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Aku juga tidak ingin menebaknya. Aku hanya menyesal karena hal seperti ini terjadi padaku dan akhirnya aku kembali membuat mereka cemas.

Sesungguhnya ini adalah kesalahanku. Seharusnya aku tidak menambah masalah dengan orang-orang saat itu. Jika aku diam dan meminta maaf, mungkin aku masih bisa pulang dengan selamat dan tidak membuat para hyung repot karena aku. Aku hanya bisa menyusahkan mereka, tapi mereka masih mau menerimaku untuk bersama mereka.

"Jika kau merasa bersalah, cepatlah sembuh agar kami tidak selalu cemas." kata Jin hyung lembut.

Lihat, dia bahkan hanya mengatakan itu.

Save Me [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang