Bagian 13 : Please Save Me Tonight

1.7K 177 7
                                        

"Jungkook-ah, ada apa denganmu?"

Yoongi hyung dan Namjoon hyung langsung menoleh ketika mendengar suara Jin hyung. Aku dapat melihat ekspresi mereka sama terkejutnya seperti Jin hyung ketika melihatku dipapah oleh Jimin hyung. Ah, tidak. Ternyata aku salah melihat. Yoongi hyung tetap memasang wajah datarnya, hanya saja memang terlihat sedikit terkejut.

"Aku..."

"Jimin hyung dan Hoseok hyung memaksa Jungkook untuk ikut menari. Dia terjatuh dan kakinya cedera." Tae hyung langsung memotong ucapanku begitu saja. Seketika pandangan semua hyungku langsung terarah kepada dua orang yang disebutkan oleh Tae hyung.

"Tidak seperti itu, hyung. Aku yang ceroboh, ini salahku sendiri." aku buru-buru mengatakan itu ketika menyadari jika mungkin mereka akan menyalahkan Jimin hyung dan Hoseok hyung.

"Tidak, itu salahku. Aku yang menyenggol mu hingga terjatuh." kata Hoseok hyung.

"Ah, hyung..."

"Duduklah terlebih dahulu." lagi-lagi ucapanku diinterupsi. Kali ini oleh Yoongi hyung. Dan akhirnya Jimin hyung kembali memapahku untuk duduk di sofa.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jin hyung.

"Kami meminta Jungkook untuk ikut menari. Dia terlihat sangat bagus di koreografi pertama. Karena dia terlihat tidak kesulitan, kami memintanya untuk melakukannya lagi. Tapi..."

"Aku tidak sengaja menyenggolnya dan Jungkook terjatuh." Hoseok hyung memotong penjelasan Jimin hyung, lebih tepatnya melanjutkan. "Ini salahku, aku benar-benar menyesal." lanjutnya.

"Aku juga bersalah karena memintanya untuk bergabung." kata Jimin hyung.

"Apa pentingnya mencari siapa yang salah? Kalian tidak melihat dia kesakitan?"

Eh?! Mereka sontak menoleh ke arah Yoongi hyung yang barusan berkata. Kemudian pada detik berikutnya menatapku yang saat itu sedang sedikit meringis sakit.

"Apakah sesakit itu? Coba kulihat." Namjoon hyung bergerak untuk melihat kakiku yang cedera. Namun sebelum dia melakukannya, Jin hyung langsung menghalanginya.

"Mundur, kau! Aku tidak yakin apa yang akan terjadi pada Jungkook jika kau menyentuhnya, God of destruction." ujar Jin hyung dengan wajah garang. Apa Namjoon hyung merusak barang lagi? Biasanya Jin hyung akan mengatakan itu jika Namjoon hyung menghancurkan barang.

"Aku tidak sengaja merusaknya, hyung. Astaga!" Nah, benar kan. Apalagi yang dirusak oleh Namjoon hyung kali ini.

"Aku tidak mendengar alasanmu." kata Jin hyung sebelum kemudian berbalik ke arahku. "Biarkan aku memeriksanya, Jungkook."

"Ini tidak separah yang kalian pikirkan." ujarku menenangkannya. Apa mereka akan secemas ini saat ada salah seorang yang terluka? Aku tidak menganggap ini berlebihan. Tapi... Ah, ya sudah lah.

"Perlihatkan saja padaku!" Jin hyung sama sekali tak mau mendengarkan ucapanku. "Ya! Jungkook-ah, ini yang kau bilang tidak parah? Ini bahkan membengkak." katanya kemudian.

"Itu pasti sakit sekali."

"Ini tidak..."

"Taehyung-ah, tolong ambilkan es batu."

"Hyung..."

"Apa sudah memanggil dokter?"

Ah, kenapa mereka tidak mau mendengarkan ku? Lagi-lagi aku merepotkan mereka. Padahal aku sudah bertekad untuk lebih berhati-hati agar mereka tidak mencemaskanku terus-terusan. Aku benar-benar telah menyusahkan mereka.

TING TONG!!!

Kami serentak menoleh ke arah pintu depan begitu mendengar bel rumah berbunyi. "Ah, itu pasti dokter yang kupanggil." Tae hyung segera meletakkan baskom es batu yang diambilnya dan bergegas menuju pintu depan.

Tidak lama kemudian dia kembali dengan seorang laki-laki yang... menurutku masih muda. Aku yakin jika dia lebih tua dari kami. Aku sangat yakin.

"...maaf membuatmu harus datang kemari, hyung." aku dapat mendengar sepenggal kata yang diucapkan Tae hyung. Mereka terlihat akrab.

"Wah, Seo-Joon hyung yang datang?"

"Kau tidak sibuk, hyung?"

"Taehyung-ah, bukankah kau mengganggunya?"

Itu adalah komentar-komentar pada hyungku ketika melihat siapa yang datang bersama Tae hyung. Sementara aku hanya diam dan memandang mereka tanpa tahu apa yang harus aku lakukan. Mengenal laki-laki itu saja tidak.

"Aku sedang cuti minggu ini. Kalian tidak perlu sungkan seperti itu." kata laki-laki itu menjawab celotehan para hyungku.

"Seo-Joon hyung, ini Jungkook. Dia yang kubicarakan kemarin." tiba-tiba Tae hyung menunjukku. Aku yang sempat terbengong harus rela mengerjap kaget ketika dia melakukannya.

"Ah... Annyeonghaseyo." ucapku dengan ragu.

"Ah, dia yang kau bicarakan? penampilannya melebihi ekspektasi ku." Entah aku harus merespon bagaimana ketika mendengar ucapannya itu. "Jungkook-ah, kau bisa memanggilku Seo-Joon hyung seperti hyungmu yang lain." lanjutnya sembari tersenyum kepadaku.

"A... Baik, Seo-Joon hyung."

"Ah, kau ini pemalu ya."

"Ah..."

Aku rasa ucapannya benar. Aku tidak terbiasa dengan suasana seperti ini. Rasanya aku tidak menyukainya. Ah, maksudku tidak menyukai suasana saat harus berkenalan dengan orang yang sudah dikenal oleh para hyungku.

"Aku meneleponmu karena Jungkook. Kakinya cedera, jadi bisa tolong periksa?" Tae hyung kembali bersuara.

"Oh, kalau begitu coba kulihat."

Jimin hyung segera bangkit dari duduknya dan membiarkan Seo-Joon hyung memeriksa kakiku. Di saat seperti ini aku malah memikirkan sejak kapan dan bagaimana mereka saling mengenal.

"Argh!" aku memekik kaget ketika Seo-Joon hyung menggerakkan pergelangan kakiku. Sakit. Sakit sekali. Ini bahkan menjadi lebih sakit dari pada saat tadi. Aku membekap mulutku dengan sebelah tangan, bahkan menggigit bibirku untuk mencegah eranganku yang bisa lolos kapan saja.

"Aku tidak yakin, sepertinya tulangnya sedikit bergeser." kata Seo-Joon hyung setelah melepaskan kakiku.

"Bergeser?! Aku yakin jika dia hanya terjatuh saat menari." kata Tae hyung.

"Cedera yang dialami bisa menjadi parah tergantung pada bagaimana posisinya saat terjatuh." jelas Seo-Joon hyung. "Lebih baik kalian membawanya ke rumah sakit. Jika dibiarkan bisa terjadi komplikasi." lanjutnya.

"Kau baik-baik saja?" tiba-tiba Jimin hyung duduk di sampingku. Karenanya perhatianku menjadi teralih dari pembicaraan mereka. "Aku pikir tidak akan separah ini. Itu pasti sakit sekali, kan?" Jimin hyung bersuara kembali.

"Gwenchanayo."

"Katakan saja jika itu sakit. Aku juga pernah mengalaminya dulu." kata Jimin hyung lagi. Sementara aku hanya terdiam. Aku masih bisa mengatasi rasa sakit ini. Tapi melihat mereka mencemaskanku membuatku merasa tidak enak.

"Gwenchanayo." aku menyandarkan tubuhku kepada Jimin hyung. Mengapa di saat seperti ini aku ingin menangis? Aku tidak ingin menjadi secengeng ini. Aku tidak ingin merepotkan mereka terus menerus.

"Kau tahu, aku beberapa kali cedera ketika menari. Aku tahu jika itu sakit. Jadi bicaralah, tidak perlu menutupinya dariku." lirih Jimin hyung.

Tapi aku tidak ingin terus membuat kalian cemas, hyung.

Save Me [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang