"Jimin-ah, masih sepagi ini kau sudah ingin berangkat?"
Laki-laki itu mengangguk. Dia bahkan sempat memamerkan senyumnya sebelum kemudian berkata, "Aku ingin pulang lebih cepat nanti. Jadi aku sudah meminta anak-anak untuk datang lebih cepat dari biasanya."
Jin hyung yang menanyakan itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mendengar jawaban Jimin hyung. Sementara aku hanya memperhatikan interaksi keduanya sambil menyantap sarapanku bersama Tae hyung dan Hoseok hyung.
Oh, kalian menanyakan keberadaan Namjoon hyung? Dia berangkat ke New Zealand kemarin untuk mengikuti seminar. Nampaknya dia sangat sibuk, aku mengerti itu.
Yoongi hyung? Ini kan sudah berlalu seminggu setelah hari itu. Perlahan-lahan kami mulai mencoba untuk tidak selalu menangisi kepergiannya. Tapi kalian tahu kan jika itu sangat sulit. Dan lihat para hyungku itu! Mereka terlihat baik-baik saja. Tapi saat aku memergoki mereka sedang sendirian, terkadang aku melihatnya menangis.
Begitulah, tidak ada yang ingin menunjukkan kesedihannya di hadapan satu sama lain. Aku pun tahu alasannya. Mereka hanya tidak ingin membuat semuanya kembali bersedih. Lagi pula Yoongi hyung adalah orang pertama yang ada di keluarga ini bersama dengan Namjoon hyung. Dia adalah orang yang paling lama berada di sini. Semuanya sudah terlalu sering melihatnya dan akrab dengan kehadirannya. Tiba-tiba sekarang dia tidak ada, itu sangat menyakitkan bagi kami. Bahkan aku yang baru beberapa bulan bersamanya saja sangat merasa kehilangan. Aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya para hyung yang sudah bersama dengan Yoongi hyung selama bertahun-tahun.
Ah, sudahlah. Jika aku terus memikirkannya, lama-kelamaan aku pasti akan menangis secara tidak sadar. Aku tidak ingin membuat para hyung sedih karena melihatku menangis lagi. Mereka itu kan terlalu baik.
"Kalau begitu aku berangkat, ya. Sampai nanti!" Jimin hyung kembali berkata seraya berjalan pergi meninggalkan kami yang masih terus memandanginya.
"Jungkook-ah, kau ingin ikut denganku nanti?" tepat setelah mendengar suara Tae hyung, aku langsung menoleh ke arahnya yang duduk tepat di seberang ku.
Ah, karena aku tidak memiliki pekerjaan, para hyung sering mengajakku ke tempat kerja mereka. Sepertinya mereka tidak ingin membiarkanku sendirian di rumah. Entah takut aku akan menangisi Yoongi hyung lagi atau takut aku akan melakukan hal yang sama dengan Yoongi hyung.
"Aku ingin jalan-jalan di luar nanti, mencari inspirasi untuk melukis." jawabku dengan nada riang. Kalian tahu, jika aku menjawabnya dengan nada biasa ekspresi wajah mereka langsung berubah seketika. Aku pernah melakukannya dan mereka langsung memasang wajah cemas.
"Oh, kau sering melukis belakangan ini." kini Hoseok hyung yang berkata.
"Entahlah. Aku senang melukis ketika tidak ada pekerjaan." ujarku.
"Wah, ternyata kau pandai melakukan semua hal. Lukisanmu juga sangat bagus. Jika kau terus mengasah kemampuanmu, kau pasti akan menjadi pelukis terkenal." tiba-tiba Jin hyung duduk tepat di sampingku dan mengatakan itu.
Aku tersenyum tipis mendengar ucapan Jin hyung. Aku tidak ingin menjadi terkenal, itu sangat sulit. Aku bisa mengerti setelah melihat keputusan Yoongi hyung untuk mengakhiri hidupnya.
"Tidak juga, hyung." ujarku setelah menelan suapan terakhirku. "Aku sedang mencari pekerjaan yang cocok untukku. Tapi sepertinya itu sangat sulit." lanjutku.
"Padahal kau bisa melakukan apapun. Mencari pekerjaan bukan hal yang seharusnya kau cemaskan. Pikirkan saja apa yang ingin kau lakukan. Jika kau sudah memutuskannya, kami pasti akan mendukung dan membantumu. Hingga saat itu tiba, kau tidak perlu sungkan kepada kami." kata Hoseok hyung.
Aku tersenyum kecil dan mengangguk. "Tapi kalian terlalu baik, hyung. Aku juga tidak ingin menjadi beban kalian selamanya." ujarku dengan tegas.
"Jungkook-ah, aku akan benar-benar marah jika kau terus mengatakan itu." ketika aku menoleh ke arah Tae hyung yang mengatakan itu, tatapan tajamnya langsung menusuk mataku.
Benar, kan? Mereka memang terlalu baik. Aku tidak mengerti mengapa aku yang sebelumnya tidak memiliki kebahagiaan akhirnya bertemu dengan malaikat seperti mereka. Ah, aku sangat curiga jangan-jangan takdir memang sangat senang mempermainkanku.
"Ikutlah denganku nanti. Cat lukismu sudah hampir habis. Aku akan membelikan yang baru sebelum ke tempat kerja." kata Tae hyung lagi. Aku tidak berniat untuk menolak atau membantah. Aku sudah sangat tahu jika Tae hyung akan benar-benar marah jika aku melakukannya.
"Ah..." seketika kami langsung menoleh ke arah Jin hyung. "Taehyung-ah, aku menemukan surat di depan pintu tadi. Di sini tertulis namamu." lanjut Jin hyung sembari memperlihatkan sebuah amplop putih di tangannya.
"Surat apa itu?" Hoseok hyung yang bertanya. Dia nampaknya lebih penasaran dari pada Tae hyung. Bahkan aku hanya memperhatikannya dengan tatapan bingung.
Ketika aku menoleh memandang Tae hyung, aku melihat dia seperti tidak tertarik sama sekali. Bahkan wajahnya menjadi lebih suram dari pada saat dia berkata dengan nada dingin kepadaku tadi. Jika aku boleh menebak, dia memang tidak menyukai surat. Apalagi surat misterius seperti itu.
Ah, tunggu dulu! Bolehkah aku menyebutnya misterius? Bagaimanapun itu tidak terlihat mencurigakan sama sekali. Dan lagi surat seperti itu kan ada di mana-mana. Karena Tae hyung terkenal, dia pasti memiliki banyak penggemar kan? Dia sudah sangat bersinar. Orang sepertinya sudah tidak membutuhkan sayap lagi untuk bisa terbang.
"Siapa yang masih mengirim surat di zaman seperti ini?" Tae hyung bergumam pelan sembari mengulurkan tangannya ke arah Jin hyung, isyarat agar hyung tertua kami menyerahkan surat itu kepadanya.
"Wah, sepertinya kau memiliki banyak penggemar ya. Atau jangan-jangan itu surat cinta?" kata Hoseok hyung yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Tae hyung. Sementara aku dan Jin hyung hanya terdiam sambil berusaha menahan tawa.
"Biarkan aku melihatnya juga, hyung." aku berseru cepat setelah Tae hyung membuka amplop putih itu.
Tae hyung sempat melirikku sebentar sebelum kemudian berujar pelan, "Terserah kau saja."
Senyumku langsung mengembang. Dengan semangat aku bangkit dan memutari meja makan untuk berdiri di belakang Tae hyung. Ketika Tae hyung mengambil secarik kertas di dalam amplop, tulisan tangan yang begitu rapi terlihat indah di sana.
To : Taehyung-oppa
Halo, oppa. Senang sekali karena kau membaca surat dariku. Aku sangat menyukaimu dan ingin terus memperhatikanmu. Tapi kau terlalu bekerja keras, beristirahatlah sejenak. Aku sangat menyukai nyanyianmu kemarin. Suaramu membuatku merinding.
Nah, benar kan. Ini pasti dari penggemar Tae hyung. Dia benar-benar terkenal dan banyak orang yang menyukainya. Aku bangga memiliki hyung sepertinya.
Tapi—aku menoleh ke arah Tae hyung yang semakin menampilkan ekspresi rumitnya—kenapa dia terlihat sangat tidak senang? Atau jangan-jangan dia masih marah kepadaku karena ucapanku tadi? Ah, aku bodoh sekali. Dia kan sangat mudah marah jika aku mengatakan itu. Salahku karena aku mengatakan itu sekali lagi di hadapannya.
"Wah, benar-benar dari penggemar." Hoseok hyung yang diam-diam mengintip isi surat berkomentar tanpa beban.
"Hyung!" Tae hyung langsung berteriak ketika menyadari jika yang membaca surat itu bukan hanya aku dan dia. Sementara Hoseok hyung langsung tertawa puas melihat kekesalan Tae hyung.
Hyungku ini...
KAMU SEDANG MEMBACA
Save Me [END]
Fanfiction[방탄소년단 x 전정국] Jeon Jungkook harus mampu hidup sendiri sejak kecil. Dia harus bertahan dalam lingkungan baru sendirian. Begitu lama dia menderita hingga akhirnya dia menemukan para malaikat penolongnya. Namun apakah itu saja mampu untuk membuatnya me...
![Save Me [END]](https://img.wattpad.com/cover/207701016-64-k442473.jpg)