Bagian 6 : This Pitch Black Darkness

2.2K 211 8
                                        

"Jadi ini rumah kita, Jungkook-ah. Aku harap kau nyaman berada di sini."

Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Rumah ini lebih besar dari yang aku bayangkan. Tidak di sangka mereka mampu membeli rumah seperti ini. Aku tidak yakin, tapi apa mereka menerima uang dari orang tua masing-masing? Kurasa orang tua mereka juga tidak akan memperbolehkan mereka pergi dari rumah. Jadi aku pikir tidak mungkin mereka mendapatkan uang dari orang tua.

Kalau begitu mereka pasti sangat bekerja keras selama ini. Aku ingin tahu apa yang mereka lakukan dan apa pekerjaan mereka. Sejauh ini aku hanya mengetahui jika Hoseok hyung bekerja sebagai backup dancer. Selebihnya aku tidak tahu.

"Ayo masuk!" suara Jin hyung menyentak ku kembali ke dunia nyata. Aku kembali menampilkan senyum tipisku dan mengikutinya masuk ke dalam.

"Karena yang lain sedang pergi, jadi rumah ini menjadi sepi. Aku harap kau terbiasa dengan suasananya." Jin hyung kembali bersuara kepadaku yang mengekor di belakangnya.

"Apa aku tidak mengganggu pekerjaanmu, hyung?" tanyaku yang sontak membuat Jin hyung menoleh dan tersenyum.

"Aku memang sengaja mengambil cuti. Kami akan bergantian menjagamu sampai kau terbiasa dengan rumah ini." kata Jin hyung.

"Begitu..."

"Kemarilah! Aku akan menunjukkan kamarmu."

Aku kembali mengikuti Jin hyung yang berjalan menuju deretan ruangan. Dia berhenti di ruangan yang terletak di bagian paling pojok. "Biasanya dalam satu kamar ditempati oleh dua orang. Tapi karena jumlah kita sekarang ada tujuh orang, kau harus sendiri. Tidak apa-apa, kan?" kata Jin hyung sembari membuka pintu ruangan.

"Tentu saja, hyung."

Aku mengikutinya masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan ini lebih luas dan rapi dari yang aku bayangkan. Sebenarnya pasti akan lebih menyenangkan jika aku memiliki teman sekamar seperti yang lain.

"Jika kau mau, Jimin atau Taehyung akan menemanimu malam ini. Rasanya pasti tidak nyaman kan di tempat baru." kata Jin hyung.

Ah, kenapa dia bisa tahu apa yang aku pikirkan. Sebenarnya aku tidak ingin merepotkan mereka. Aku juga sudah biasa sendirian. Tapi mendengar jika masing-masing dari enam hyung ku memiliki teman sekamar membuatku ingin memilikinya juga.

"Bagaimana? Kau mau?" tanya Jin hyung memastikan.

"Tentu, hyung. Terima kasih." ujarku senang.

"Kalau begitu beristirahatlah. Yang lain akan pulang tiga puluh menit lagi." kata Jin hyung kemudian berlalu meninggalkanku.

Aku melangkah sambil memandang isi kamar ini. Ah, aku akan menyebutnya kamarku. Di sini ada dua ranjang... yah, aku tahu mengapa ada dua. Lalu ada satu lemari, meja dan kursi, kemudian rak buku kecil. Aku tidak mengerti mengapa ada barang-barang seperti ini padahal sebelumnya kamar ini tidak digunakan.

Aku mendudukkan diri di pinggir kasur. Kepalaku masih memperhatikan isi kamar yang asing ini. Aku sedang mengingat-ingat, kapan terakhir kali aku bisa tidur di dalam ruangan. Astaga! Kenapa aku masih memikirkan itu?!

Ah, tapi di sini sepi sekali. Aku tahu dulu aku tidak memiliki teman. Tapi kemarin ada banyak orang di sekelilingku. Itu membuatku merasa sedikit asing dengan kekosongan ini. Aku sungguh tidak tahu diri.

Hmm, mungkin lebih baik aku mencari Jin hyung dan melihat apa yang sedang dilakukannya. Sendirian di tempat ini membuatku merasa kosong. Setidaknya aku bisa melihatnya dan kembali jika dia sedang melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku ganggu.

Akhirnya aku memutuskan untuk bangun dan keluar dari dalam kamar. Aku melihat-lihat isi rumah ini. Ruang utama cukup besar, mungkin biasa digunakan untuk menerima tamu. Di sana juga ada ruang makan. Lalu setelahnya... Dapur?

Aku dapat melihat Jin hyung sedang sibuk dengan peralatan masak di sana. Apakah dia akan memasak? Apa aku akan mengganggunya jika aku ke sana? Tapi setidaknya aku bisa membantunya.

"Jungkook-ah, apa yang kau lakukan di sana?" aku terlonjak kaget ketika mendengar suara seseorang di belakangku. Ketika aku menoleh, mataku dapat melihat Yoongi hyung sedang berjalan ke arahku.

Yoongi hyung melongok ke dapur, sama sepertiku tadi. Kemudian dia kembali memandangku sembari berkata, "Kau bosan karena sendirian? Kalau begitu ikut saja kemari."

Tanpa menunggu jawaban dariku, Yoongi hyung berjalan melewati ku dan masuk ke dalam dapur. "Jin hyung, mereka akan pulang lebih cepat." aku dapat melihat Jin hyung terlonjak kaget ketika mendengar suara Yoongi hyung tiba-tiba.

"Yoongi-ya, tidak bisakah kau berhenti muncul tiba-tiba?" omel Jin hyung kepada pemuda itu. Bahkan dia mengacungkan pisau yang dipegangnya kepada Yoongi hyung. Aku hanya bisa bergidik ngeri ketika melihatnya.

"Maafkan aku."

Jin hyung berdecak kesal mendengar ucapan Yoongi hyung yang terdengar setengah hati itu. Namun tidak lama kemudian dia kembali sibuk dengan alat masaknya.

"Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Yoongi hyung karena Jin hyung mengacuhkannya.

"Lakukan saja sesukamu. Biasanya kau langsung melakukan sesuatu tanpa bertanya padaku." jawab Jin hyung acuh.

"Aku bahkan tidak mengerti apa yang sedang kau masak, hyung." Yoongi hyung berseru dengan kesal.

"Cuci dan potong sayurnya."

Dengan menghela nafas akhirnya Yoongi hyung melakukan apa yang diperintahkan oleh Jin hyung. Mereka tampak terampil melakukan semuanya. Tanpa aku sadari, bibirku mengukir senyum tipis.

"Jungkook-ah, kau masih ingin berdiri di situ berapa lama lagi?" aku tersentak mendengar suara Yoongi hyung. Akhirnya dengan agak ragu aku masuk ke dalam dapur.

"Kau berada di sana sedari tadi?" Jin hyung nampak terkejut karena aku masuk.

"Dia tidak ingin mengganggumu, hyung." Kenapa Yoongi hyung mengerti apa yang aku pikirkan? Dia tidak bisa membaca pikiranku, kan? Jangan-jangan dia itu cenayang.

"Ah, seharusnya kau masuk saja. Kau bosan, ya?" tanya Jin hyung kepadaku.

"Aku hanya..."

"Jangan terlalu canggung." Yoongi hyung memotong ucapanku.

"Ah, dia memang begitu. Kau akan mengerti jika sudah lebih mengenalnya." Jin hyung berbicara padaku. Dan sepertinya aku mengerti apa maksudnya.

"Astaga!"

Aku maupun Jin hyung langsung menoleh ke arah Yoongi hyung ketika mendengar gumamannya. "Ada apa?" tanya Jin hyung kepadanya.

"Sepertinya aku lupa menutup pintu depan." jawab Yoongi hyung.

"Astaga kau ini. Cepat tutup pintunya!" perintah Jin hyung.

"Biar aku saja, hyung." aku menawarkan diri dengan cepat. Jin hyung tampak terdiam sebentar sebelum mengiyakan. Akhirnya aku berjalan keluar dan berniat untuk menutup pintu depan. Tapi aku melihat Jimin hyung dan Tae hyung sudah berada di depan rumah. Jadi aku menunggu mereka sebelum menutup pintu.

"Kookie, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Tae hyung begitu melihatku berdiri di dekat pintu.

"Aku ingin menutup pintu, tapi melihat hyung." jawabku.

"Baiklah, ayo masuk saja!" Jimin hyung merangkul pundak ku dan Tae hyung lalu berjalan masuk setelah Tae hyung mendorong pintu hingga tertutup.

Save Me [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang