"Jin hyung, apa Tae hyung sudah pulang?"
Tidak hanya Jin hyung, Hoseok hyung yang ada di sana juga ikut menoleh ketika mendengar aku tiba-tiba datang dan menanyakan itu. Sementara Jimin hyung yang sedang mengikutiku langsung duduk di samping Hoseok hyung setelah aku duduk di samping Jin hyung.
"Dia sudah meminta izin untuk pulang sedikit terlambat. Katanya Seo-Joon hyung mengajaknya makan malam bersama karena belakangan ini mereka jarang bertemu." kata Jin hyung sebelum kemudian terfokus pada televisi kembali.
"Oh..." setelah mendengar jawaban Jin hyung aku malah bingung harus mengatakan apa. "Apa sebelumnya Seo-Joon hyung memang jarang datang kemari?" tanyaku kemudian.
"Dia kan dokter yang sibuk. Sangat jarang bisa bertemu dengannya." jawab Jin hyung.
Ah, Seo-Joon hyung sangat sibuk tapi dia menyempatkan diri untuk mengajak Tae hyung bertemu dan makan malam bersama. Entah kenapa aku malah berpikir jika Seo-Joon hyung sedang ingin menghibur Tae hyung yang belakangan ini selalu murung. Tentu saja, kan? Tidak hanya dia, kami juga.
"Hei, kalian harus berhati-hati. Belakangan ada berita tentang teroris yang..."
"Kau selalu percaya dengan hal-hal seperti itu, hyung. Itu hanya berita bohong untuk menakut-nakuti anak kecil." Hoseok hyung memotong ucapan Jin hyung yang tentu saja membuat laki-laki itu langsung menunjukkan wajah kesal kepadanya.
"Terserahlah, aku tidak peduli."
Ah, mad hyung ini bisa merajuk juga ternyata.
"Hyung, aku akan keluar sebentar." ucapan Jimin hyung sontak membuat kami semua menoleh.
"Kemana kau malam-malam seperti ini?" tanya Hoseok hyung dengan wajah penasaran. Tapi ketika aku melihat Jin hyung, laki-laki tertua itu malah menampilkan ekspresi kesal. Aku? Tentu saja aku ingin ikut dengan Jimin hyung. Bagaimana mungkin aku melepaskan kesempatan keluar bersamanya begitu saja.
"Aku harus membeli pita untuk besok." jawab Jimin hyung sembari memakai jaketnya.
"Pita untuk apa?" tanya Jin hyung dengan curiga.
"Tentu saja untuk les tari, hyung. Tukang masak sepertimu tidak akan mengerti." kata Jimin hyung dengan wajah menyebalkan. Sementara aku dan Hoseok hyung sedang mati-matian menahan tawa ketika melihat kekesalan Jin hyung.
"Kalau begitu pergi saja sana." Jin hyung berujar kesal.
"Ya sudah."
"Hyung, aku ikut!" aku berseru cepat saat Jimin hyung berbalik dan berjalan pergi. Dia berhenti dan kembali berbalik saat mendengar suaraku.
"Untuk apa kau ikut?"
"Aku bisa membantu membawa barang, lho." aku berusaha meyakinkan Jimin hyung agar mengizinkanku ikut.
"Barang yang akan kubeli juga tidak akan banyak."
"Ayolah, hyung!"
"Ya, baiklah. Ambil jaket hangatmu cepat!"
"Baik."
Aku segera beranjak dan bergegas menuju kamar. Setelah menemukan jaket hangat yang sering kupakai, aku langsung menyambarnya dan kembali ke ruangan tadi.
"Ayo, hyung!" aku berseru senang begitu tiba di ruangan itu.
"Kami pergi ya, hyung." pamit Jimin hyung kepada Jin hyung dan Hoseok hyung. Kemudian dia berjalan bersamaku ke luar rumah.
Aku mengeratkan pakaianku saat angin malam berhembus menerpa tubuhku. Aku tak habis pikir. Padahal musim dingin sudah berganti, tapi dinginnya masih sangat terasa. Sepertinya aku tidak akan mau keluar di malam hari seperti ini lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save Me [END]
Fanfiction[방탄소년단 x 전정국] Jeon Jungkook harus mampu hidup sendiri sejak kecil. Dia harus bertahan dalam lingkungan baru sendirian. Begitu lama dia menderita hingga akhirnya dia menemukan para malaikat penolongnya. Namun apakah itu saja mampu untuk membuatnya me...
![Save Me [END]](https://img.wattpad.com/cover/207701016-64-k442473.jpg)