Bagian 9 : On the Blank Spot

1.7K 173 9
                                    

"Kami pulang."

Aku menutup telingaku begitu mendengar teriakan Tae hyung saat masuk ke dalam rumah. Ah, ternyata dia bisa berteriak sekencang itu. Tapi untuk apa dia berteriak seperti itu?

"Kalian baru pulang? Wah, kalian bersenang-senang ya." Jimin hyung muncul dari ruang tengah. Sepertinya dia ingin pergi ke kamarnya.

"Tentu saja, hyung. Tapi sekarang aku lelah sekali." Tae hyung langsung menjatuhkan diri ke atas sofa.

Jimin hyung menghampiri kami dan duduk di sebelah Tae hyung. Sementara aku langsung mengambil tempat di sebelahnya. "Apa yang kalian bawa?" tanya Jimin hyung sembari melihat isi kantong kertas yang diletakkan Tae hyung di atas meja.

"Aku ingat jika Yoongi hyung ingin membeli note book baru, jadi aku membelikannya." kata Tae hyung yang kini sedang duduk bersandar sambil memejamkan matanya.

"Wah, kau baik sekali kepada Yoongi hyung. Apa kau tidak membeli apapun untukku?" kata Jimin hyung.

Tae hyung merogoh saku coat yang dikenakannya. Kemudian dia memberikan kotak kecil kepada Jimin hyung. Wah, manis sekali. Mereka ini straight, kan?

Jangan marahi Kookie. Kookie hanya bercanda.

"Apa ini?" tanya Jimin hyung setelah mengambil kotak itu dari tangan Tae hyung.

"Kau memiliki tangan untuk membuka tutupnya dan kau memiliki mata untuk melihat isinya." kata Tae hyung.

"Kau bukan Yoongi hyung, kan?"

"Tentu saja bukan, hyung!"

Aku segera menutup mulutku yang akan menertawakan respon Tae hyung atas ucapan Jimin hyung tadi. Mereka ini akrab sekali.

"Ya! Kookie, jangan tertawa!"

Aku menoleh dan mendapati keduanya sedang menatapku. Tae hyung dengan tatapan kesal sementara Jimin hyung menatapku sambil tersenyum. Aku tahu Jimin hyung juga ingin tertawa sepertiku. "Aku tidak tertawa, hyung." ujarku kepada Tae hyung yang masih menatapku kesal.

"Aku mengawasi mu." ucap Tae hyung seolah sedang mengancam ku. Maaf, hyung. Tapi aku tidak takut meskipun kau mengancam ku seperti itu.

"Kau sama sekali tidak menakutkan, Taehyung-ah. Percuma saja kau mengancam Jungkook." wah, Jimin hyung sangat mengerti apa yang ingin kukatakan.

"Wajahku memang tidak menakutkan. Aku kan tampan, hyung. Benar kan, Kookie."

Ah, hyungku yang satu ini narsis ternyata.

"Terserah kau saja." Jimin hyung membuka kotak kecil itu dan melihat isinya. "Wah, untuk apa kau membelikanku barang seperti ini?" Jimin hyung kembali menutup kotak itu dan memandang Tae hyung dengan ekspresi kesal. Ah, tapi dia tersenyum. Maunya apa sih?!

"Padahal kau selalu membawa lipbalm kemana-mana." kata Tae hyung enteng. Ucapannya membuatku tahu isi kotak itu tanpa perlu melihatnya.

"Astaga! Itu saat aku masih menjadi dancer, bodoh." kata Jimin hyung.

"Apa bedanya dengan sekarang?" Tae hyung tak mau kalah.

"Tentu saja berbeda."

"Kalau begitu kembalikan!" Tae hyung bergerak untuk mengambil kotak itu kembali. Namun Jimin hyung langsung menjauhkannya dari jangkauan Tae hyung.

"Kau selalu mengambil kembali barang yang kau berikan kepada orang lain, ya?" kata Jimin hyung dengan senyum lebar yang terlukis jelas di wajah imutnya.

"Kau menyebalkan, hyung!"

Jimin hyung hanya tertawa melihat kekesalan Tae hyung. Tiba-tiba dia berbalik ke arahku sembari membuka kotak kecil itu dan memperlihatkan isinya kepadaku. "Lihat ini, Kookie. Dia memilih dengan teliti, kan?"

Save Me [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang