Bagian 35 : Thank You for being Us

1K 90 5
                                        

JIMIN POV

Aku tidak mengerti. Aku pikir ini hanya mimpi. Ternyata ini memang kenyataan. Dan kenyataan ini terasa terlalu menyakitkan. Kenapa menjadi seperti ini? Padahal beberapa minggu yang lalu kami masih bercanda dan tertawa bersama. Kenapa sekarang mereka semua meninggalkanku hanya bersama Jungkook?

Aku tidak bisa memahami semua ini. Semuanya... Tidak bisa. Jungkook yang biasanya akan menghiburku juga larut dalam kesedihan. Aku bahkan masih bisa mendengar tangisannya saat berjalan melewati kamarnya.

Hari ini kami belum bisa mengadakan upacara kematian untuk para hyung. Kecuali Taehyung, Jin hyung dan Hoseok hyung masih diperiksa untuk mencari pelaku. Sedangkan Namjoon hyung masih belum ditemukan. Aku merasa ini sangat berat untuk ditanggung sendiri.

Seo-Joon hyung datang tadi malam dan menemuiku. Dia menjelaskan semuanya kepadaku dengan sangat hati-hati. Kemudian dia juga mengatakan jika Jungkook tak sadarkan diri karena kondisi tubuh dan mentalnya menjadi sangat lemah.

Aku mulai berpikir jika seharusnya akulah yang menjaga dan menghiburnya. Aku salah karena awalnya membuat Jungkook yang harus menenangkanku. Aku ini terlalu lemah. Aku tidak mungkin bisa melakukan apapun untuk Jungkook.

"Jimin-ah, kemarilah! Kau belum sarapan, kan?" saat aku sedang berjalan melewati deretan ruangan pribadi yang pasti tidak akan terpakai lagi, Seo-Joon hyung tiba-tiba memanggilku.

"Nanti aja, hyung." jawabku tak bersemangat.

"Kau bahkan belum benar-benar sembuh. Cepatlah makan!" kata Seo-Joon tak mau menyerah untuk membujukku.

"Tiga puluh menit lagi. Aku ingin melakukan sesuatu terlebih dahulu." tanpa menunggu jawaban dari Seo-Joon hyung, aku kembali berjalan dan masuk ke dalam ruangan dance.

Aku terdiam setelah menutup pintu kembali. Rasanya tempat ini menjadi sedikit asing tanpa candaan Hoseok hyung. Biasanya dia akan tertawa-tawa sambil menari-nari tidak jelas saat aku masuk. Lalu setelah itu kami akan mulai menari bersama sebelum kemudian Jin hyung menyeretku keluar lima belas menit kemudian.

Para hyung memang tidak mengizinkanku menari terlalu lama. Apalagi bersama dengan Hoseok hyung yang gaya menarinya begitu energik. Alasannya? Aku mengidap kardiomiopati. Jadi aku tidak bisa terlalu banyak bergerak atau aku akan kelelahan lalu pingsan.

Padahal sebenarnya aku bisa bertahan hingga berjam-jam jika diselingi dengan istirahat. Tapi entah mengapa para hyung begitu mencemaskanku hingga selalu memaksaku untuk diam saja.

Para hyung tidak akan mencegahku menari karena itu adalah hobiku. Tapi mereka pasti akan mengomeliku jika menemukan aku berlatih terlalu keras. Bahkan Taehyung terkadang akan langsung menyeretku pergi tanpa mengatakan apapun lagi.

Seo-Joon hyung juga mengetahui penyakitku ini. Bahkan dialah yang membocorkan hal ini kepada para hyung. Hanya Jungkook yang tidak mengetahui perihal ini. Sementara aku juga tidak ingin membuatnya cemas dengan menceritakannya.

Ah, kalian bertanya mengapa Seo-Joon hyung bisa tahu? Sebenarnya aku pernah berlatih dance berjam-jam bersama Hoseok hyung. Awalnya aku merasa biasa saja dan mulai lupa waktu. Tapi kemudian tiba-tiba aku merasa sakit dan kemudian pingsan.

Tentu saja semuanya langsung panik saat mendengar Hoseok hyung berteriak. Saat itu Seo-Joon hyung sedang berkunjung kemari. Dialah yang memeriksaku dan akhirnya membongkar rahasia kecilku kepada mereka semua. Jadi beginilah. Akhirnya mereka selalu mencemaskanku dan tidak pernah mengizinkan berada di ruangan dance lebih dari lima belas menit.

Awalnya aku sempat kesal, tapi akhirnya aku tahu jika mereka hanya mencemaskanku dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padaku. Karenanya aku mengikuti saran mereka untuk berhenti menjadi backup dancer dan mulai mencari pekerjaan yang tidak terlalu menguras tenaga.

Ah, mengingat itu memang terasa menyenangkan. Aku masih terus mengingat bagaimana mereka memperhatikanku meskipun aku bukan maknae. Tapi sekarang sudah tidak mungkin lagi, kan? Bagaimanapun mereka telah pergi dan tidak akan kembali lagi.

Dengan menghela nafas aku mulai melangkah kembali ke dalam ruangan. Rasanya aku masih mendengar sisa-sisa tawa kami ketika berada di sini. Mengapa tiba-tiba mereka semua pergi begitu saja?

Siapa lagi yang harus aku salahkan?

Aku memutar sebuah musik secara acak kemudian terdiam sejenak. Setelahnya aku mulai menari mengikuti irama musik yang kudengar.

Aku dulu menjadi siswa kebanggan guruku karena bakat tari yang kumiliki. Entah kenapa tubuhku bisa bergerak begitu saja mengikuti irama dan nada musik yang kudengar. Setiap kali mendengar musik, aku selalu ingin mengekspresikannya lewat gerakan.

Aku pikir itu bagus.

Aku pikir aku bisa merasa bahagia setelah menemukan apa yang aku sukai. Tapi ternyata semuanya terlalu sulit, ya. Ternyata takdir memang tidak ingin membiarkanku untuk merasakan bahagia sedikit lebih lama.

Tubuhku berputar kecil, kemudian melangkah lebar ke sisi kanan sebelum menukik ke kiri. Dengan lompatan kecil aku meliukkan tubuhku mengikuti lengkingan panjang dari nada-nada ya yang keluar dari pemutar musik.

Padahal ini sudah biasa. Memangnya selama ini aku sempat benar-benar bahagia. Rasanya baru sebentar aku bisa tersenyum bersama mereka. Kenapa sekarang hanya tinggal aku yang ada di sini? Kenapa ini terjadi?

Aku tidak mengerti. Sebenarnya sandiwara apa lagi yang sedang dimainkan oleh Tuhan? Aku sudah muak dengan semua ini. Setidaknya jika hanya penderitaan, kenapa tidak melimpahkannya kepadaku saja? Aku bisa menanggung semuanya untuk mereka. Asalkan mereka masih bisa tetap berada di sini akupun tak mengapa.

Aku berpikir jika suatu saat nanti aku bisa menjadi salah satu alasan mereka tertawa. Aku pikir aku bisa menjadi salah satu alasan untuk membuat mereka tersenyum. Tapi sepertinya salah. Itu tidak mungkin terjadi. Setidaknya sekarang aku tahu jika itu tidak mungkin terjadi.

Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Berpura-pura tersenyum dan bertingkah bodoh seperti ini? Bahkan jikapun aku masih bisa bernafas, hidupku sudah hancur berkeping-keping. Sangat mustahil untuk dikembalikan dan ditata ulang.

Jangankan kembali menata ulang hidupku. Mencari sekeping alasan untuk bertahan saja sangat sulit untuk kulakukan. Saat ini hanya Jungkook. Ya, hanya dia alasanku masih berada di sini. Mana mungkin aku membiarkannya larut dalam kesedihan karena kehilangan semua hyungnya.

Aku harusnya mampu bertahan untuk tetap berada di sampingnya. Dia adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa. Dia adalah satu-satunya dongsaengku yang masih berada di sini. Aku harus berhenti meratapi semua ini dan memulai semuanya kembali dengan Jungkook. Aku tidak akan membiarkannya hanyut dalam tangisannya. Aku tidak akan...

"Argh..."

Gerakanku terhenti begitu saja. Sebelum aku sempat melakukan apapun, tubuhku roboh dan tersungkur ke lantai yang dingin. Tanganku mencengkeram bagian dadaku dengan erat, meluapkan rasa sakit yang tiba-tiba datang.

Tidak lagi. Jangan seperti ini.

Jungkook...

Save Me [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang