Bagian 4 : Just Wanna be Yours

2.6K 245 11
                                        

Aku mendengar semuanya. Aku juga sudah memikirkan semuanya. Aku yakin jika ada banyak orang di sana. Tapi aku masih tidak berani untuk membuka mata. Aku terus bertanya-tanya mengapa mereka ada di sana.

Meskipun aku tetap diam sambil menutup mata, aku dapat merasakan keberadaan orang-orang di sekitarku itu. Aku yakin jika Jimin hyung dan Namjoon hyung ada di sana. Aku sangat mengenali suaranya. Tapi ada empat suara lain yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Apa yang ingin mereka lakukan.

"Jimin-ah, beristirahatlah sejenak. Kau lelah, bukan?" lagi-lagi itu suara yang tidak kukenali.

"Aku baik-baik saja, Jin hyung." sedangkan itu adalah suara Jimin hyung. Dia menyebut nama Jin, itu mungkin orang yang berkata padanya tadi. Baiklah, aku simpulkan seperti itu.

"Aku iri sekali, hyung. Kau sangat memperhatikannya." suara baritone masuk ke dalam runguku.

"Kau jangan pernah bermanja-manja kepadaku lagi, Taehyung." oh, namanya Taehyung.

"Kenapa tidak boleh?"

"Kau tidak akan menjadi maknae lagi."

"Mwo? Kalau begitu aku tidak mau." suara baritone itu membalas dengan cepat. "Aku akan tetap menjadi maknae." lanjutnya.

"Terserah kau saja." Jimin hyung bersuara dengan malas.

"Ya! Jimin hyung!"

"Aku hanya bercanda, Taehyung-ah"

Diam sejenak. Aku tidak mendengar ada yang berbicara setelahnya. Namun tetap saja aku takut untuk membuka mata. Aku tidak yakin apa yang akan terjadi setelah aku membuka mata. Aku... takut, sungguh.

"Jimin-ah, ayo keluar. Kita makan siang bersama." itu suara yang tidak aku kenali.

"Aku tidak lapar, hyung. Kalian pergilah tanpa aku." suara Jimin hyung menolak ajakan dari suara asing tadi.

"Tapi, hyung..."

"Pergilah, Taehyung. Aku benar-benar tidak lapar." suara Jimin hyung memotong ucapan si suara baritone.

"Jimin-ah, kau akan lemas jika tidak makan. Haruskah kuingatkan jika kau baru saja pingsan?" suara tadi kembali terdengar.

"Aku baik-baik saja sekarang. Aku pasti akan makan nanti, sekarang aku benar-benar tidak lapar." Jimin hyung tetap saja menolak.

Aku dapat mendengar helaan nafas seseorang. Kemudian sesaat kemudian aku mendengar suara Namjoon hyung yang berkata, "Baiklah, kami akan membawakan makanan untukmu nanti. Taehyung, ayo pergi!"

"Tapi, hyung..." pemilik suara baritone itu ingin menolak.

"Jangan menyusahkan mereka, Taehyung. Pergilah. Aku baik-baik saja." Jimin hyung berujar lembut.

Kembali hening sesaat sebelum akhirnya terdengar suara langkah kaki menjauh. "Apa yang ingin kau makan, Jimin? Aku akan membawakannya." itu adalah suara Namjoon hyung.

"Terserah kau saja, hyung."

"Baiklah. Kami pergi, ya. Jika terjadi sesuatu telepon saja."

"Baik, hyung."

Suara pintu tertutup mengakhiri percakapan itu. Setelahnya suasana benar-benar hening. Aku yakin jika sekarang hanya Jimin hyung yang ada di ruangan ini.

Aku mendengar helaan nafas. Kemudian aku merasa sentuhan halus di kulitku saat sebuah tangan menggenggam sebelah tanganku. Tangan Jimin hyung halus sekali, aku baru menyadarinya.

"Padahal wajahmu terlihat begitu tenang." aku mendengar suara Jimin hyung menyapa runguku. "Tapi kenapa aku malah takut, ya?"

Diam sejenak. Aku masih menunggu Jimin hyung mengatakan sesuatu lagi. "Berapa lama kau ingin tidur, Jungkook? Ah, aku egois sekali. Tapi aku takut karena kau terus menutup matamu. Kau baik-baik saja, kan?"

Save Me [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang