Aku kesepian lagi. Ah, tidak. Para hyung sedang sibuk bekerja dan aku bosan karena berada di rumah sendirian. Seharusnya aku mencari pekerjaan. Aku memang sedang mencari, tapi tidak ada yang cocok denganku.
Sudah berbulan-bulan aku masuk ke rumah itu, tapi aku masih terus membuat para hyung kerepotan. Aku harus bisa menghidupi diriku sendiri. Sejak kakiku cedera lebih dari satu bulan yang lalu, aku menjadi sering keluar dan mencoba menemukan pekerjaan apa yang cocok denganku.
Dalam sebulan ini beberapa kali aku ikut Tae hyung ke tempat pemotretan. Aku ditawari untuk menjadi model juga, tapi aku masih tak yakin. Menjadi model bukan hal yang aku inginkan.
Aku juga pernah menjadi backup dancer bersama Hoseok hyung. Hanya sekali dan itu karena dia kekurangan orang. Karena menurutnya aku cepat menghafal koreografi, maka dia mengajakku. Tapi sampai sekarang aku masih ragu dengan alasannya itu.
Aku lebih senang bertemu dengan anak-anak di tempat les tari Jimin hyung. Mereka sangat lucu dan imut. Aku senang melihat mereka menari. Bahkan terkadang aku ikut menari bersama mereka.
Hmm belakangan ini Yoongi sering menggarap lagunya di rumah. Karena itu aku sering bersamanya. Aku juga melihatnya melakukan berbagai hal mulai dari menulis lirik hingga akhirnya selesai menjadi sebuah lagu. Aku juga sering mengomentari lagunya dan kemudian dia memintaku untuk menyanyikannya. Tapi beberapa hari yang lalu dia kembali sibuk di luar rumah dan akhirnya aku sendirian.
Ah, biar kuceritakan tentang kejadian belakangan ini. Aku sering keluar karena tidak ada siapapun di rumah. Belakangan ini sering ada orang yang mendekatiku. Mereka mengaku dari agensi ini dan itu menawariku untuk mengikuti audisi trainee. Aku selalu menolak mereka, tapi mereka selalu memaksaku untuk memikirkannya terlebih dahulu. Tapi tetap saja sampai sekarang jawabanku selalu tidak.
Lagi pula menjadi idol itu bukan hal yang aku inginkan. Terlalu sulit hingga aku tidak yakin bisa bertahan lama. Aku memang senang menyanyi dan menari, tapi terlalu takut untuk menjadi seorang idol. Itu pekerjaan yang berat.
Ah, aku terlalu sibuk dengan pikiranku hingga lupa jika ini masih musim dingin. Aku mengeratkan jaket hangatku, mencegah udara dingin menyentuh kulit. Aku memang salah karena memilih untuk berjalan-jalan saat salju sedang turun. Aku harus bergegas kembali ke rumah.
Aku masuk ke dalam gang kecil yang biasa kulewati jika akan pulang. Suasana di sini sangat sepi karena salju sedang turun. Itu membuatku sedikit takut dan was-was memikirkan jika mungkin akan terjadi hal buruk.
BRUKK!
"Ah, maaf." aku segera membungkuk meminta maaf ketika bahuku menyenggol seseorang yang berjalan berlawanan arah denganku. Ah, atau lebih tepat jika dikatakan bahwa dialah yang menyenggolku.
"Kau tidak bisa melihat, ya? Gunakan matamu, bodoh!" orang itu berteriak kepadaku. Padahal dia yang menabrakku. Kenapa pula dia yang marah-marah begitu.
"Maaf, tapi anda yang menabrak saya." ujarku tak terima karena dia membentakku.
"Apa?!" dia kembali berteriak di depan wajahku. "Kau ingin mengatakan jika aku yang bersalah di sini?"
Ah, dia mabuk. Ada aroma alkohol yang tercium oleh inderaku. Laki-laki di belakangnya juga sepertinya mabuk. "Memang begitu kenyataannya." aku berkata menjawabnya.
"Kau berani juga."
"Argh..."
Tubuhku terdorong hingga membentur tembok saat dengan kuat orang itu memukulku. Apa lagi ini? Aku tidak ingin membuat masalah dengan mereka. Aku hanya mengingatkan jika mereka itu bersalah.
"Kau berani, ya?" orang itu kembali berteriak kepadaku sembari menarik kerah bajuku dengan kasar, membuat tubuhku sedikit terangkat karenanya.
"Lepaskan!" aku menepis tangannya dengan kasar kemudian mundur menjauhinya. Orang ini sudah gila. Aku harus segera pergi dan jangan membuatnya semakin marah kepadaku.
"Kau ingin kabur kemana?" tiba-tiba seseorang menghadang jalanku, membuatku mau tak mau harus berhenti. Aku mendesis kesal. Sebenarnya apa mau mereka?
"Tolong minggir." aku berusaha berbicara baik-baik dengan mereka.
"Kau masih ingin kabur setelah membuat kami marah? Kau pikir semudah itu, ya?"
"Aku... Argh!"
Tubuhku tersungkur ke tanah yang tertutup salju saat orang itu kembali memukulku. Ah, mereka benar-benar gila. Aku bahkan tidak melakukan kesalahan apapun.
"Seharusnya kau tidak macam-macam."
"Argh..."
Sakit. Tubuhku terasa nyeri ketika mereka memukulku lagi, bahkan berkali-kali. Aku ingin melawan, tapi tak mendapat kesempatan. Akhirnya aku hanya bisa meringkuk mengenaskan di antara tumpukan salju yang dingin hingga kemudian tak ada pukulan lagi yang mengenai tubuhku dan mereka pergi begitu saja.
Aku kembali mengerang. Mereka tidak main-main ketika memukulku. Ini benar-benar sakit. Aku bisa merasakan darah mengalir dari sudut bibirku yang terkoyak. Bahkan pening yang teramat dapat kurasakan karena kepalaku membentur dinding dengan begitu keras.
Ah, nafasku tercekat. Aku tidak bisa bernafas dengan normal. Dadaku terasa sakit, benar-benar sesak. Aku mencoba untuk bangun, tapi tenagaku menghilang. Ketika aku berhasil mengangkat tubuhku, aku kembali ambruk.
Tidak berhasil. Aku harus meminta bantuan kepada seseorang. Tapi tidak ada siapapun di sini. Aku berusaha mengambil nafas yang terasa sangat sulit untuk kulakukan. Mataku terpejam sejenak, berusaha menahan sakit yang kurasakan. Saat aku membuka mata, aku melihat bercak merah di atas salju. Ah, ini sakit sekali. Dan kemudian aku ditelan oleh kegelapan.
***
"Ah, kemana anak itu?" Namjoon menggeram pelan saat lagi-lagi tak ada yang menjawab teleponnya. Ini sudah jam delapan malam. Kemana Jungkook pergi? Dia tidak ingat untuk pulang?
Tidak ada salju yang turun sejak tadi. Ponselnya juga masih aktif, hanya saja dia memang tidak menjawab teleponnya. Seharusnya Jungkook tahu jika hyungnya mencemaskan dirinya.
"Masih tidak dijawab, hyung?" tanya Jimin ketika mendengar helaan nafas panjang Namjoon.
"Aku tidak tahu kemana anak itu pergi. Sepertinya lain kali dia harus dikurung di rumah." ujar Namjoon dengan kesal. Maaf saja, sebenarnya Namjoon hanya mencemaskan maknae itu. Tidak hanya dia, tapi juga semua orang yang kini menunggunya di rumah itu. Tapi dia sering keluar dan pulang terlambat belakangan ini. Sekarang tidak ada kabar, ada apa lagi?
"Sebenarnya dia kemana sih?" gumam Taehyung tetap setia memperhatikan berpuluh-puluh pesan yang dikirimnya kepada Jungkook sejak tiga jam yang lalu hingga sekarang. Maknae itu memang sangat senang membuat hyungnya cemas.
"Apa sebaiknya kita mencarinya, hyung?" Jimin kembari bersuara. Jelas sekali jika dia benar-benar mencemaskan maknae itu.
"Percuma saja mencarinya. Kau tahu dia ada di mana?" Yoongi justru menjawabnya dengan tajam. Meskipun dia juga nampak cemas, tapi dialah yang paling tenang dan bisa menenangkan yang lainnya.
"Kita tunggu saja dulu. Jika lima belas menit lagi dia belum pulang, aku akan mencarinya." kata Namjoon kemudian kembali menempelkan ponselnya ke telinga meskipun kemudian dia menghela nafas lagi dan harus menelan kekecewaan.
Semuanya kembali terdiam, sibuk menghubungi maknae yang hilang kontak sejak siang tadi. Sungguh ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Jikapun terlambat pulang, maknae itu tidak akan berani pulang melebihi jam tujuh.
Krieett!
Suara pintu terbuka membuat semuanya spontan menoleh ke arah sumber suara.
BRUKK!
"Jungkook-ah..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Save Me [END]
Fanfiction[방탄소년단 x 전정국] Jeon Jungkook harus mampu hidup sendiri sejak kecil. Dia harus bertahan dalam lingkungan baru sendirian. Begitu lama dia menderita hingga akhirnya dia menemukan para malaikat penolongnya. Namun apakah itu saja mampu untuk membuatnya me...
![Save Me [END]](https://img.wattpad.com/cover/207701016-64-k442473.jpg)