Terlalu sunyi. Aku sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Tapi entah mengapa ini terasa terlalu sunyi. Aku tidak nyaman berada dalam suasana seperti ini.
Ah, mataku bengkak karena terlalu lama menangis. Kepalaku juga terasa pening mengikuti tubuhku yang menjadi lemas akhir-akhir ini. Sepertinya nanti aku sudah tidak memiliki air mata yang tersisa untuk menangis lagi.
Entah sudah berapa lama aku mengurung diri di dalam kamar. Seo-Joon hyung memang sudah beberapa kali memanggil dan menyuruhku untuk makan. Tapi aku sama sekali tak berselera dan memilih untuk tidak menjawabnya.
Aku juga belum mendengar suara Jimin hyung pagi ini. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya. Sebenarnya aku mencemaskannya, tapi aku tidak ingin membuatnya berbalik mencemaskanku ketika melihat penampilanku yang sangat menyedihkan ini.
Tadi malam Seo-Joon hyung membawa aku dan Jimin hyung kembali ke rumah ini. Aku sempat mendengar dia bergumam dan mengatakan jika dia tidak ingin kami terlalu bersedih saat melihat tubuh para hyung yang tak akan terbangun lagi. Seo-Joon hyung sengaja menjauhkan kami dari kenyataan itu untuk menjaga perasaan dan kondisi mental kami. Tanpa perlu dijelaskan pun aku sudah tahu jika itu yang dipikirkannya.
Aku bersyukur karena masih ada orang sebaik dia yang mau membantu kami saat sedang dalam masalah seperti ini. Aku tidak menyangka jika hubungan para hyung dengan Seo-Joon hyung ternyata sangat dekat hingga dia rela membuang waktunya untuk melakukan ini. Padahal dia adalah orang yang sangat sibuk, kan.
Tapi jika dipikirkan sekali lagi, aku bahkan tidak mengetahui awal Seo-Joon hyung mengenal Tae hyung. Ah, untuk apa pula? Tae hyung saja sudah terlanjur pergi. Aku sudah terlalu lelah untuk mengingat semua ini.
Ah, tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit. Aku yang awalnya terduduk di pinggir tempat tidur langsung merobohkan tubuhku dan kemudian terbaring dengan kaki menggantung ke sisi ranjang.
Aku tidak mengerti mengapa. Aku pikir karena kondisi mental ku memburuk pasti akan mempengaruhi kesehatanku. Nyatanya inilah yang terjadi hingga sekarang aku terlalu takut untuk keluar dan membuat Jimin hyung maupun Seo-Joon hyung mencemaskanku karena kondisiku. Tapi aku juga ingin melihat bagaimana keadaan Jimin hyung saat ini.
"Jungkook-ah, kau masih tidak ingin keluar?"
Aku menoleh begitu mendengar suara Seo-Joon hyung yang berasal dari luar kamarku. Entah sudah berapa kali dia memanggilku seperti itu. Lama kelamaan aku menjadi tidak enak hati karena terus membuatnya menunggu dan kemudian memanggilku lagi seperti itu.
Dengan sedikit memaksakan diri aku bangun dan terduduk sebentar di pinggir ranjang. Kemudian aku berdiri dan berjalan menuju pintu.
BRUKK!
Argh... Sakit sekali. Kenapa kakiku tidak mau bekerja sama untuk mengantarkan tubuhku berjalan? Tubuhku terlalu lemah untuk sekadar menghampiri Seo-Joon hyung yang aku yakini sedang berada di balik pintu yang tertutup itu.
"Jungkook-ah, kau baik-baik saja?" Seo-Joon hyung kembali bersuara tepat setelah itu.
Ah, aku menyerah.
"Aku tidak mengunci pintunya, hyung." niatnya aku ingin berteriak, tapi ternyata suaraku juga nyaris menghilang entah kemana. Ada apa sih denganku?
Tiba-tiba pintu terbuka dan sosok Seo-Joon hyung muncul setelahnya. Begitu melihatku, Seo-Joon hyung buru-buru masuk dan menghampiriku. "Ada apa denganmu?" tanyanya dengan nada cemas.
"Kepalaku sakit, hyung." ujarku menyuarakan apa yang aku rasakan. Kalian tahu jika dia adalah seorang dokter. Memangnya aku punya kesempatan untuk bersandiwara di sini?
"Kalau begitu panggil aku sedari tadi. Kenapa kau malah mengurung diri di sini?" caranya memarahiku membuatku mengingat Jin hyung. "Bangunlah terlebih dahulu."
Aku menurut dan membiarkan Seo-Joon hyung membantuku untuk berdiri lalu mendudukkanku di pinggir tempat tidur. "Aku akan mengambilkan obat. Kau ingin aku membawakan makanan ke sini? Ini terjadi karena kau selalu menolak untuk makan." kata Seo-Joon hyung lagi.
"Aku ingin keluar saja, hyung." kataku sebelum Seo-Joon hyung benar-benar keluar dan meninggalkanku di sini.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Jimin hyung..."
"Tidak bisakah kau memikirkan dirimu sendiri terlebih dahulu?" Seo-Joon hyung memotong ucapanku. "Keadaannya bahkan jauh lebih baik darimu. Justru dia yang sedang mencemaskanmu." lanjutnya.
Justru itulah yang tidak ingin aku dengar. Aku tidak ingin membuat Jimin hyung menjadi semakin tertekan. Aku tidak ingin membuatnya meninggalkanku seperti hyung yang lain.
"Aku akan melakukan apa yang kau katakan, hyung. Apa itu salah?" ujarku.
"Ah, terserah kau saja." dengan sedikit kesal Seo-Joon hyung membantuku berdiri dan menuntunku keluar dari kamar menuju ruang makan. Kemudian dia mendudukkanku di sana sebelum kemudian berkata, "Aku akan memanggil Jimin. Tunggulah di sini."
"Di mana Jimin hyung?" tanyaku sebelum Seo-Joon hyung benar-benar pergi.
"Di ruangan dance. Dia berkata akan keluar dalam lima belas menit. Karena ini sudah lebih dari itu, aku ingin memanggilnya." jelas Seo-Joon hyung dengan singkat.
"Biar aku saja yang memanggilnya."
Seo-Joon hyung kembali memandangku dengan kesal. Sekarang aku sangat tahu apa yang sedang dipikirkannya. "Aku bahkan yakin jika kau tidak bisa berjalan sendiri." katanya.
"Kau terlalu meremehkan ku, hyung." aku segera bangun dengan berpegangan pada meja dan kursi. Kemudian dengan perlahan melepaskannya dan mulai berjalan. Aku tidak selemah itu. Tidak bisakah kalian mengerti?
"Harus dengan kalimat apa aku membuatmu mengerti." gumam Seo-Joon hyung sebelum kemudian menarik tanganku dan membantuku berjalan. Lihat, dialah yang terlalu mencemaskanku. Meskipun kakiku memang terasa sangat lemas, tapi setidaknya aku bisa berpura-pura kuat agar Seo-Joon hyung mengizinkanku untuk pergi.
Saat mendekati ruangan dance, aku dapat mendengar suara musik yang tidak terlalu keras dari dalam. Aku tidak yakin. Apakah Jimin hyung sedang menari? Dalam kondisinya sekarang?
Aku hanya memikirkan itu tanpa tahu apa yang terjadi di dalam sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save Me [END]
Fanfic[방탄소년단 x 전정국] Jeon Jungkook harus mampu hidup sendiri sejak kecil. Dia harus bertahan dalam lingkungan baru sendirian. Begitu lama dia menderita hingga akhirnya dia menemukan para malaikat penolongnya. Namun apakah itu saja mampu untuk membuatnya me...
![Save Me [END]](https://img.wattpad.com/cover/207701016-64-k442473.jpg)