"Kau manis sekali, Kookie."
Aku hanya bisa menatap Tae hyung kesal saat dia mencubit pipiku. Apa dia pikir tidak sakit? Kenapa dia terus mencubit ku seperti ini? Dia membenciku, ya karena mengambil posisi maknae darinya?
"Kau lebih muda dariku, ya. Hmm, ya sudahlah. Lagi pula aku akan memiliki dongsaeng yang manis seperti ini. Aku rela jika aku tidak menjadi maknae lagi." cerocos Tae hyung tak berhenti.
"Taehyung-ah, apa yang kau lakukan?" seru Jimin hyung tepat setelah dia dan Jin hyung masuk ke ruang rawat ku. Jimin hyung langsung menghampiriku dan meneliti ruam merah di pipiku. Tentu saja itu perbuatan Tae hyung, sudah kubilang kan.
"Apa ini sakit? Astaga! Apa yang kau lakukan?!" Jimin hyung bertanya kepadaku sebelum kemudian berteriak kepada Tae hyung.
"Aku hanya gemas padanya." sahut Tae hyung enteng.
"Tae..."
"Ini tidak sakit sama sekali, hyung." aku buru-buru berkata demikian ketika sadar jika Jimin hyung sedang menyalahkan Tae hyung.
"Benarkah? Tidak sakit? Tapi merah begini." Jimin hyung rupanya tahu jika aku hanya sedang melindungi Tae hyung.
"Tidak apa-apa kok."
Jimin hyung menghela nafasnya sebelum kemudian berkata kepada Tae hyung, "Kau ingin balas dendam karena dulu aku sering mencubit pipimu, ya?"
"Hyung..." Aku benar-benar tidak ingin mendengar Jimin hyung menyalahkan Tae hyung.
"Apa itu sakit? Aku tidak mencubitmu terlalu keras, kan? Ah, mianhe." tapi justru Tae hyung menganggap jika dia memang menyakitiku. Yah, walaupun ini memang sedikit sakit. Tapi menurutku dia tidak perlu se-menyesal itu.
"Ini tidak sakit kok. Benar-benar tidak sakit." aku mengangkat tanganku dan mencubit pipiku sendiri, membuktikan jika itu memang tidak sesakit yang Tae hyung bayangkan.
"Ya! Hentikan, Kookie." Tae hyung buru-buru menarik tanganku yang sedang menarik pipiku sendiri.
"Kalian berbaik-baiklah. Aku dan Jin hyung akan pulang. Aku rasa Yoongi hyung dan Namjoon hyung akan tiba sebentar lagi." kata Jimin hyung kepada aku dan Tae hyung.
"Baik, hyung." aku dan Tae hyung menjawab bersamaan.
"Kalau begitu cepatlah sembuh, Kookie." Jin hyung mengusak rambutku sebelum kemudian melambaikan tangan dan beranjak pergi bersama Jimin hyung.
Ah, aku belum mengatakannya. Sebenarnya setelah terbangun kemarin, aku langsung mendapat sambutan hangat dari para hyung itu. Mereka benar-benar baik dan aku sangat menyukai mereka. Aku mengetahui urutan umur mereka dengan baik. Jin hyung, Yoongi hyung, Hoseok hyung, Namjoon hyung, Jimin hyung, dan yang termuda adalah Tae hyung. Sebenarnya aku sempat berpikir jika Jin hyung adalah yang termuda. Ternyata aku memang tidak bisa menilai mereka berdasarkan penampilan luarnya saja.
Aku mendengarnya dari Yoongi hyung... ah, dia menakutkan. Tatapannya tajam dan sangat dingin... katanya mereka bukan saudara kandung. Mereka berkumpul karena keluarga mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Aku mendengar jika Namjoon hyung dan Yoongi hyung yang pertama bertemu. Saat itu Yoongi hyung kesal kepada keluarganya karena menentang hobinya dan mereka bertemu. Semakin lama, mereka menemukan lebih banyak orang seperti mereka. Dan jadilah seperti sekarang. Sepertinya mereka juga berencana membuatmu ikut dengan mereka.
Aku sebenarnya tidak terlalu menginginkan ini. Aku memang kesepian... dan takut di saat bersamaan. Semua orang yang berada di dekatku akan berakhir tidak baik. Aku tidak ingin menyusahkan mereka.
"...Kookie?! Kau mendengarkan ku?"
Aku tersentak ketika mendengar suara Tae hyung memanggilku. Apa sedari tadi aku mengacuhkannya? Semoga saja Tae hyung tidak marah kepadaku.
"Kau baik-baik saja? Ada yang sakit?" tanya Tae hyung hati-hati.
"Aku baik-baik saja, hyung. Maafkan aku."
"Kau yakin? Aku bisa memanggilkan dokter jika..."
"Aku baik-baik saja, hyung." aku memotong ucapan Tae hyung.
Tae hyung terdiam. Tapi dia masih menatapku cemas. Ah, kenapa semua hyung ku mudah sekali mencemaskanku. Tunggu dulu! Apa aku baru saja mengatakan hyung ku? Rasanya itu tidak benar. Apa aku boleh mengklaim mereka seperti itu?
"Sedang apa kalian?"
Aku tersentak kaget ketika mendengar suara itu. Aku dan Tae hyung sontak menoleh. Entah sejak kapan Namjoon Hyung dan Yoongi hyung ada di sini. Bahkan sekarang mereka sedang duduk dengan santainya di sofa. Apa mereka ini hantu? Aku tidak tahu jika mereka bisa datang dan pergi tanpa diketahui orang lain.
"Sejak kapan kau berada di situ, hyung?" tanya Tae hyung.
"Tiga puluh delapan detik yang lalu." jawaban Yoongi hyung membuatku sedikit membolakan mataku. Apa dia benar-benar menghitung seberapa lama mereka ada di sana.
"Yoongi hyung hanya bercanda, Jungkook-ah. Jangan terkejut seperti itu." ujar Namjoon hyung setelah menyadari keterkejutan ku. Bercanda katanya? Yoongi hyung bahkan tidak merubah ekspresinya sama sekali. Apa dia pikir aku akan menganggapnya bercanda jika dia memasang wajah seperti itu?
"Kau harus terbiasa, ya." kata Namjoon hyung lagi. Aku tidak tahu harus merespon bagaimana. Harus kuakui jika mereka ini sedikit aneh.
"Kemana Hoseok hyung? Aku tidak melihatnya sejak tadi pagi." Tae hyung mengalihkan pembicaraan dengan cepat.
"Dia ada pekerjaan."
"Menjadi backup dancer lagi? Di mana lagi sekarang?"
"Entah dari mana dia mengenal seorang idol terkenal. Aku tidak tahu pasti di acara apa." jawab Namjoon hyung.
"Wah, ternyata memiliki bakat menari bagus juga." gumam Tae hyung pelan. "Aku pikir Jimin hyung juga pandai menari. Kenapa dia tidak mengikuti Hoseok hyung saja?" kini dia menatapku, seolah menanyakan pendapatku.
Sementara aku hanya menatapnya bingung. Bahkan kenyataan bahwa Hoseok hyung dan Jimin hyung pandai menari baru aku ketahui. Bagaimana mungkin aku mengerti alasan mengapa Jimin hyung tidak mengikuti pekerjaan Hoseok hyung?
"A...aku menjadi ingin melihat mereka menari." aku hanya mengatakan itu. Kuharap dia mengerti jika aku benar-benar tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
"Tarian mereka itu sangat bagus. Hmm... Tarian Jimin hyung itu seperti tarian malaikat, tahu. Aku sangat ingin melihatnya menari lagi." kata Tae hyung dengan semangat.
"Ah, aku bisa menunjukkannya kepadamu." Tae hyung segera mengambil ponselnya dan mengotak-atik nya sebentar. Kemudian dia bangkit dan duduk di pinggir ranjang sembari memperlihatkan sebuah video kepadaku.
Itu... Jimin hyung yang sedang menari. Ah, benar jika gerakannya sangat indah. Maafkan aku, tapi aku kehabisan kata untuk mendeskripsikannya. Bagaimana bisa Jimin hyung membuat tubuhnya bergerak sedemikian indah? Aku hanya bisa terkagum menyaksikannya.
"Wah, itu sangat hebat." ujarku senang saat video itu berakhir. Tae hyung tersenyum melihatku dan kemudian kembali fokus pada ponselnya.
"Benar, kan? Dia itu seperti malaikat." kata Tae hyung yang sontak aku angguki begitu saja. Laki-laki bernama Park Jimin itu memang malaikat.
"Kau juga harus melihat kehebatan Hoseok hyung." Tae hyung kembali memperlihatkan sebuah video kepadaku. Kali ini aku melihat Hoseok hyung di sana. Benar, dance nya sangat bagus. Perbedaannya dengan Jimin hyung adalah karena Hoseok hyung begitu energik sementara Jimin hyung begitu lembut. Tapi aku pikir mereka sama-sama memiliki talenta yang besar.
Aku senang mengetahui semuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save Me [END]
Fanfiction[방탄소년단 x 전정국] Jeon Jungkook harus mampu hidup sendiri sejak kecil. Dia harus bertahan dalam lingkungan baru sendirian. Begitu lama dia menderita hingga akhirnya dia menemukan para malaikat penolongnya. Namun apakah itu saja mampu untuk membuatnya me...
![Save Me [END]](https://img.wattpad.com/cover/207701016-64-k442473.jpg)