Bagian 21 : Please Raise Your Voice

1.4K 151 16
                                        

"Kami pulang."

Entah kenapa aku tidak bisa menahan senyumku ketika akhirnya aku bisa masuk ke dalam rumah ini lagi. Rasanya aku sangat bosan berada di dalam rumah sakit dengan bau berbagai obat yang membuatku semakin muak. Akhirnya aku bisa terbebas juga. Aku sudah menunggu hari ini sejak lama.

"Apa tidak ada orang di rumah, hyung?" tanyaku kepada Namjoon hyung yang sedang mendorong kursi rodaku sembari sedikit menolehkan kepalaku untuk melihatnya.

"Seharusnya ada seseorang." justru Jin hyung yang menjawab. Dia dan Yoongi hyung berjalan di belakang Namjoon Hyung. Oh ya, mereka bertiga yang menjemputku pulang.

"Eh?! Kalian sudah pulang?" tiba-tiba Jimin hyung dan Hoseok hyung muncul dari arah dapur.

"Hanya kalian berdua? Kemana Taehyung?" Jin hyung malah balas bertanya. Dan saat itulah akhirnya aku menyadari jika Tae hyung memang tidak ada.

"Oh, dia sedang menerima telepon." jawab Jimin hyung sembari menunjuk ruangan tempat mereka tadi muncul, tanda bahwa Tae hyung masih berada di sana.

"Ah, dia terlihat sibuk belakangan ini. Dia bahkan tidak bisa meninggalkan ponselnya sebentar saja. Sepertinya ada banyak orang yang menghubunginya." imbuh Hoseok hyung.

"Kita harus mengingatkannya agar tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan. Belakangan dia terlihat lesu, aku takut tiba-tiba dia sakit." kata Jin hyung.

"Ya! Hyung, kau masih ingin menyindirku terus?" sahut Jimin hyung kesal. Mendengar itu membuat Jin hyung hanya tersenyum. Nampaknya dia memang sengaja menggoda Jimin hyung.

"Aku tidak bermaksud seperti itu, Jimin-ah. Tapi jika kau merasa, baguslah." kata Jin hyung dengan senyum penuh arti yang tersungging indah di bibirnya.

"Kau menyebalkan sekali, hyung." Jimin hyung memandang kesal Jin hyung yang masih tetap tersenyum. Lihat, tingkah imutnya itu membuatku merasa jika posisiku sebagai maknae menjadi terancam.

Tiba-tiba Hoseok hyung berjongkok di depanku. Arah pandangan mataku langsung teralih kepadanya setelah menyadari apa yang dia lakukan. "Akhirnya kau pulang juga, Kookie. Belakangan ini rumah terasa sepi karena kau tidak ada." ujarnya dengan senyum yang benar-benar cerah. Ah, itu membuatku merasa jika dia sangat senang karena aku sudah pulang. Hoseok hyung memang sangat mudah membuat mood ku naik seketika.

"Aku juga sangat merindukan rumah ini, hyung. Rasanya sangat bosan berada di rumah sakit." balasku dengan disertai dengan senyum lebar.

"Wah, ternyata kau tidak merindukanku."

Aku tertawa kecil melihat dia mulai bertingkah seolah dia kesal karena aku lebih merindukan rumah. "Kau kan sering menemaniku, hyung. Aku tidak memiliki waktu untuk merindukanmu karena kau selalu menjagaku." ujarku.

"Padahal dua hari ini aku tidak menemui mu. Kau benar-benar jahat, Kookie." Hoseok hyung masih terus berpura-pura kesal.

"Ah, benar. Aku kan sedang kesal kepadamu karena tidak menemuiku dua hari ini." ujarku membalik keadaan.

"Ya! Kenapa malah kau yang kesal?"

"Jujur saja, hyung. Sebenarnya kau melupakanku, kan?" aku menatapnya dengan tajam, seolah aku memang kesal karena dia tidak menjengukku dua hari belakangan.

"Baiklah, aku kalah. Maafkan aku, ya. Aku tidak melupakanmu, kok." Tentu saja akhirnya maknae yang harus menang, kan? Aku sangat senang karena di dunia ini berlaku aturan aneh itu.

"Wah, pantas saja berisik sekali." suara baritone menyapa runguku. Spontan kepalaku menoleh dan mendapati Tae hyung yang sedang berjalan ke arah kami.

Aku memicingkan mataku. Apa yang dia lakukan tadi? Aku mengerti jika mungkin dia sedang tidak harus menjaga penampilannya, tapi kenapa rambutnya berantakan sekali? Aku terkejut saat baru saja melihatnya. Walaupun aku  harus mengakui jika dia tetap terlihat tampan meskipun dengan penampilan seperti itu. Ah, aku juga tampan kan.

Tae hyung mengatakan sesuatu kepada Namjoon hyung. Entah kenapa aku sedikit kesal karena dia tidak menyapaku. Seakan-akan dia tidak menganggap ku ada di sini. Padahal ini adalah hari di mana aku bisa kembali ke rumah ini. Tae hyung sudah tidak menyukaiku, ya?

Tapi ada apa dengannya itu? Kenapa jika dilihat sekali lagi dia terlihat murung dan lesu? Sedang ada masalah, ya? Dia tidak memperhatikan penampilannya juga. Aku menjadi semakin curiga dan penasaran. Tapi dia... baik-baik saja, kan?

DEG!

Aku langsung memalingkan wajahku saat tiba-tiba Tae hyung menolah dan bertemu tatap denganku. Astaga! Aku malu sekali. Barusan itu aku ketahuan sedang memperhatikannya. Apa yang akan Tae hyung pikirkan?

Kau bodoh, Kookie. Bodoh sekali.

Aku mengumpati diriku berkali-kali. Rasanya seperti... entahlah. Aku tidak tahu harus mengatakannya bagaimana. Tapi sungguh aku sangat malu. Jadi ini ya rasanya ketahuan saat mencuri?

"Halo, Jungkook-ah."

"Ah..." aku sedikit tersentak saat tiba-tiba dia berjongkok di hadapanku. Tunggu dulu! Kemana Hoseok hyung pergi? Aku yakin jika tadi dia masih berada di depanku. Atau jangan-jangan dia pergi karena aku memperhatikan Tae hyung? Matilah kau, Kookie. Seharusnya kau mati saja. Siapapun, tolong bunuh aku sekarang juga!

"Maaf, ya. Aku tidak bisa ikut menjemputmu." saat Tae hyung kembali bersuara barulah aku tersadar. Aku buru-buru tersenyum dan mengangguk.

"Itu tidak masalah, hyung. Aku tahu kau sibuk, kok." ujarku.

"Wah, maafkan aku. Kau pasti merasa jika aku lebih mementingkan pekerjaanku." Tae hyung kembali berkata.

Sementara aku tertegun sejenak setelah mendengarnya. Ah, dia begitu memikirkan perasaanku. Tapi dia berlebihan. Aku tidak akan memaksanya untuk meluangkan waktunya hanya demi aku. Aku juga tidak akan menyalahkannya jika dia sibuk. Mengapa dia berpikiran jika aku pasti 'merasa diduakan'? Aku tidak mengerti.

"Aku tidak memikirkan itu, hyung. Kau tidak perlu merasa bersalah hanya karena hal kecil seperti itu. Aku tidak akan menyalahkanmu." aku berusaha menjelaskan apa yang ada di pikiranku.

"Oh, benarkah? Aku pikir kau akan marah." kata Tae hyung dengan wajah polos.

"Dia tidak sepertimu, Taehyung-ah." kami berdua langsung menoleh ke arah Jimin hyung yang tiba-tiba ikut berbicara. Hmm... Sejak kapan dia mendengarkan percakapanku dengan Tae hyung?

"Aku tidak berbicara denganmu, hyung." Tae hyung memandang Jimin hyung dengan kesal. Sementara yang ditatap hanya mengendikkan bahu sambil tersenyum puas. Nah, interaksi mereka benar-benar membuat iri kan? Setidaknya untukku.

"Memangnya ada apa, hyung?" tanyaku ingin tahu.

"Hmm... Seharusnya kau tidak mengetahuinya. Tapi dulu aku sangat kekanakan. Karena aku maknae, maka aku selalu ingin diperhatikan." kata Tae hyung. Aku juga merasakan itu saat baru bertemu dengan mereka. "Ternyata kau jauh lebih dewasa dari pada aku. Itu membuatmu malu pada diriku sendiri." lanjutnya.

Oh, jadi karena itu ya. Dia berpikir seperti itu karena dia pernah merasakannya. Sekarang aku mengerti.

"Jadi karena sekarang kau bukan maknae, maka kau tidak berani bermanja-manja kepada hyungdeul?" aku berucap memastikan.

"Ya, begitulah. Lagi pula aku sudah memiliki seorang dongsaeng. Sudah seharusnya aku menjadi lebih dewasa." ungkap Tae hyung.

"Kau adalah hyungku, tapi tetap dongsaeng bagi hyungdeul. Kurasa tidak apa-apa sedikit memaksa mereka untuk memanjakan mu, hyung. Katakan saja, mereka pasti mengerti."

Tae hyung tertawa kecil. Ah, tunggu dulu! Biarkan aku terpesona sebentar.

Rasanya Tae hyung memang sedang berusaha untuk berubah menjadi lebih dewasa. Jika mendengar cerita dari para hyung, aku tahu betapa manjanya Tae hyung kepada mereka sebelum aku datang. Aku justru kagum karena dia bisa berubah dengan begitu cepat.

Kau telah menjadi lebih dewasa, hyung.

Save Me [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang