HOSEOK POV
"Ya, aku sedang dalam perjalanan ke sana."
Aku masih terus menyahuti Jungkook yang berbicara di ujung telepon sambil berjalan menuju rumah sakit. Ini sudah jam tujuh malam. Aku ke sana untuk memeriksa keadaan mereka. Taehyung katanya belum ada perkembangan. Jimin masih terlihat begitu tertekan. Sedangkan Jungkook... aku rasa dia juga sangat mengkhawatirkan. Aku tahu perasaannya sedang sangat kacau. Tapi dia mencoba untuk bersikap dewasa dan menemani Jimin yang pada dasarnya memang mudah tertekan karena hal-hal kecil. Ah, apalagi karena hal sebesar ini. Aku tidak bisa membayangkan seberapa tertekannya Jimin. Kenapa aku selalu memikirkannya, ya?
"Apa Jin hyung menghubungimu, hyung? Dia belum datang."
"Oh?!" tanpa sadar aku bergumam tak percaya. Jin hyung biasa pulang jam lima sore. Aku yakin jika dia pasti akan langsung datang ke rumah sakit. Mengejutkan karena dia belum sampai di sana.
"Apa kau tahu dia di mana, hyung? Aku tidak bisa menghubunginya."
"Hmm..." Sungguh, aku tidak percaya bahwa Jin hyung tidak ke rumah sakit. "Aku akan mencoba menghubunginya. Mungkin saja dia pulang sedikit terlambat karena sedang banyak pelanggan. Itu biasa terjadi, kan?" Aku menyadari jika Jungkook mencemaskan Jin hyung. Karenanya aku mencoba mengatakan hal yang seharusnya logis sebagai alasan.
"Ah... Mungkin seperti itu, ya. Rasanya aku memikirkan terlalu banyak hal. Kalau begitu aku akan menunggumu, hyung."
"Baiklah. Aku akan menutup teleponnya."
"Ne."
Aku menurunkan ponsel dari telingaku lalu mematikan sambungan telepon. Aku sempat menghela nafas sebelum kemudian mencari kontak Jin hyung. Kemudian pada detik berikutnya aku menekan tombol 'panggil' kepada Jin hyung.
Aku menunggu sejenak. Rasanya detik demi detik yang aku habiskan untuk menunggu Jin hyung menjawab telepon terasa sangat lama. Dan tiba-tiba harapanku pupus karena yang terdengar bukan suara Jin hyung, melainkan suara yang menandakan jika teleponku tidak dijawab.
"Jangan pura-pura sibuk, hyung!" gerutuku sambil kembali menelepon Jin hyung. Aku kembali menunggu, namun hasilnya tetap sama. Jin hyung tidak menjawab teleponku.
"Ya! Kau kemana sih?!" aku berteriak dengan geram. Ah, tidak. Aku tidak mungkin berteriak sekeras itu. Aku tidak gila. Tolong ingat itu.
Sekali lagi aku menelepon Jin hyung dan menunggunya menjawab teleponku. Namun ternyata Jin hyung tetap tidak menjawabnya dan membuatku kesal sendiri.
"Ah, sudahlah." Akhirnya aku menyerah dan kembali melanjutkan langkahku yang sempat terhenti untuk menahan kekesalanku kepada Jin hyung. Terserah saja mengenai Jin hyung. Aku tidak ingin membuat Jungkook menunggu lebih lama lagi.
Ah, tapi Jin hyung sangat menyebalkan. Mengapa dia sengaja sekali membuat kami mencemaskannya? Apa dia tidak tahu jika semuanya sedang sangat mudah mencemaskan satu sama lain?
Aku tahu jika dia itu adalah hyung tertua. Tapi saat aku melihatnya nanti aku bersumpah akan mengomelinya seperti saat dia memarahi para dongsaeng. Biar dia mengetahui bagaimana rasanya mendengar omelan cerewet yang biasa dia katakan kepada dongsaengnya.
Lihat saja nanti, Jin hyung.
Srakkk!
Aku spontan menoleh begitu mendengar suara ribut yang tak jauh dariku. Ah, sebenarnya awalnya hanya suara gesekan ranting. Tapi lama-kelamaan menjadi begitu berisik. Hmm, tunggu dulu! Ini bukan adegan mesum, kan?
Apa yang baru saja aku pikirkan?
Karena penasaran aku mendekati sumber suara. Namun kemudian aku harus terkejut kala melihat sepasang manusia sedang... dengan kata apa aku harus mendeskripsikannya?
BRUKK!
Tanpa pikir panjang lagi aku langsung mendorong tubuh laki-laki yang awalnya sedang menodongkan pisau kepada si perempuan. Aku tidak memikirkan kekuatanku ketika mendorong laki-laki itu. Tapi sepertinya itu tidak cukup kuat untuk membuatnya menjauh.
"Berani sekali..." aku dapat mendengar geraman kesal dari mulut laki-laki itu. Sementara si perempuan terdengar sedang terisak. Wah, apa ini? Aku sedang menghalangi pembunuhan? Hebat juga aku ini.
Ah, serius. Ini benar-benar pembunuhan. Maksudku laki-laki itu pasti berniat untuk membunuh perempuan yang kini berada di belakangku. Apapun yang terjadi selanjutnya, aku pasti berada dalam masalah.
Ah, aku mendengar kabar tentang pembunuhan berantai yang menewaskan para perempuan belakangan ini. Awalnya aku berpikir jika ini hanya cerita untuk menakut-nakuti anak kecil, sama seperti berita tentang teroris yang dikatakan Jin hyung. Tapi sekarang aku mulai berpikir jika mungkin saja semua itu memang nyata.
Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku asal mendorong laki-laki itu karena spontan. Dan sekarang aku tidak memiliki persiapan apapun untuk melawan. Aku ingin sekali merutuki kebodohanku sendiri. Setidaknya aku harus memikirkan cara untuk melawannya sebelum memutuskan untuk ikut campur. Jika sudah begini, apa lagi yang bisa aku lakukan?
"Untuk apa kau ikut campur?"
Bahkan suara laki-laki itu terdengar begitu menakutkan untukku. Belum melawan saja rasanya aku sudah tidak berani. Apakah aku memang sepenakut ini? Memalukan sekali.
"Maafkan aku. Tapi apa yang kau lakukan ini tidak benar. Nyawa seseorang itu sangat berharga. Kau tidak bisa membuangnya begitu saja." entah aku mendapat keberanian dari mana hingga bisa mengatakan itu.
"Oh? Berharga katamu?" aissh, suaranya benar-benar menakutkan. "Menurutmu nyawanya berharga?"
Apa ini? Apa semua pembunuh mengatakan hal seperti ini saat mendapat pencerahan dari seseorang? Aku pikir dia akan marah karena aku berani menasihatinya seperti ini. Ah, terserahlah.
"Tentu saja. Setiap nyawa itu berharga." karena nampaknya dia tidak terlalu marah, aku mulai berani menjawabnya.
Tiba-tiba laki-laki itu terkekeh pelan sebelum kemudian tertawa. Aku? Kalian tidak perlu bertanya. Aku hanya bisa memandangnya dengan bingung. Memangnya ada yang lucu dari apa yang aku katakan? Aku tidak tahu jika seorang pembunuh memiliki selera humor serendah ini.
Oh, aku bahkan tidak mengatakan sebuah lelucon.
"Baiklah."
Apa yang dia maksud dengan 'baiklah'?
"Kalau begitu kalian boleh pergi."
"Eh?!"
Semudah itu? Seorang pembunuh melepaskan korbannya begitu saja? Aku tidak habis pikir dengan apa yang terjadi di sini. Sepertinya buku dan film yang biasa kulihat hanya mendramatisir keadaan. Seorang pembunuh nyatanya tidak semenakutkan itu.
"Oh, baiklah. Terima kasih." aku membungkuk kepadanya sebelum kemudian berbalik dan memandang perempuan yang sedang meringkuk ketakutan.
"Bangunlah. Sudah tidak—argh!"
Apa yang terjadi? Kenapa... sakit?

KAMU SEDANG MEMBACA
Save Me [END]
Fanfiction[방탄소년단 x 전정국] Jeon Jungkook harus mampu hidup sendiri sejak kecil. Dia harus bertahan dalam lingkungan baru sendirian. Begitu lama dia menderita hingga akhirnya dia menemukan para malaikat penolongnya. Namun apakah itu saja mampu untuk membuatnya me...