Bagian 37 : I Need Your Love Before I Fall

2.2K 113 18
                                    

Dulu-sepertinya memang sudah dulu sekali-Jungkook kerap mendengar kalimat-kalimat umpatan yang ditujukan kepadanya. Pengemis sialan! Anak iblis! Dan sialnya Jungkook tidak pernah mengerti kenapa semua orang mengatainya dengan kalimat-kalimat semacam itu. yang ia lakukan saat itu hanya mencoba bertahan hidup, memegang konsep seleksi alam yang entah sejak kapan tertanam begitu dalam pada slot terpenting otaknya. Atau barangkali saat itu Jungkook memang sudah terlalu terbiasa hingga tak ada kalimat yang dapat diartikan dalam sisi positif oleh organ penting di kepalanya itu.

Tapi hari itu, tepat di saat Jungkook mulai berpikir bahwa mungkin tidak apa-apa jika semuanya berakhir, mendadak Tuhan mengirimkan malaikat kepadanya. Barangkali itu bisa disebut sebagai penghiburan, di mana Tuhan mengizinkannya mengecap sekelumit bahagia sebelum kemudian dihempas kembali ke dalam kerak neraka. Lantas meskipun pada akhirnya ia hanya menanggung luka yang lebih menganga, Jungkook tidak bisa mengutuk siapapun termasuk Tuhan.

Pada akhirnya Jungkook harus mengakui bahwa dunia ini tak pernah benar-benar baik kepada siapapun. Tidak kepada seorang bintang seperti Kim Taehyung maupun pecundang seperti dirinya. Semua orang hanya akan ditarik ke dalam neraka yang dikemas seperti surga itu, dituntut untuk menjalani kehidupan yang tak masuk akal, lalu mati.

Manusia itu makhluk yang lemah, kecil, dan mudah dihancurkan. Mereka akan mati dalam waktu singkat, bahkan terkadang sebelum mereka sempat menikmati hasil kerja kerasnya sendiri. Mereka egois, mudah menilai seseorang mentah-mentah, namun terkadang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang. Mungkin cukup bodoh juga untuk percaya pada takdir, keberuntungan, dan kesialan.

Pembawa sial? Barangkali itu bukan umpatan yang terlalu buruk juga untuk dikatakan sebagai omong kosong belaka. Jika saat itu aku tidak mendadak masuk ke dalam kehidupan orang-orang itu, mungkin Tuhan masih menyayangi mereka. Ah, Tuhan? Mendadak Jungkook meragukan eksistensi-Nya mengingat semua yang terjadi. Jika memang Tuhan ada, mendengar, dan meyayangi makhluk-Nya, Jungkook tidak mungkin menjadi sehancur ini.

"Semuanya akan dikremasi hari ini."

Ah, sial! Jika Tuhan berbaik hati sedikit saja, Jungkook tidak akan meragukan-Nya sedalam ini.

Jika dipikirkan kembali, semua itu terasa seperti sebuah tragedi mengerikan yang merenggut semua hal darinya; Yoongi, Seokjin, Hoseok, Taehyung, Namjoon, bahkan Jimin. Semua orang. Jimin, dia dinyatakan meninggal karena jantungnya berhenti akibat tertekan dan kelelahan, terlebih karena ia menari tanpa henti. Seperti ... aksi bunuh diri? Entahlah. Mungkin pemuda itu lebih memilih untuk mengakhiri hidup dari pada menjalani sisa harinya bersama pecundang pembawa sial seperti Jungkook.

Seperti ucapan Seojoon, mereka semua dikremasi pada hari yang sama tepat setelah mayat Namjoon ditemukan dan dipulangkan ke Korea. Ah, mayat? Jungkook bahkan masih merasa berdosa karena menyebutnya seperti itu. Padahal rasanya baru kemarin mereka semua berdiri bersisihan di acara pemakaman Yoongi. Lalu tiba-tiba Jungkook harus berada di tempat yang sama hanya dalam waktu seminggu setelahnya, sendirian, menyaksikan tubuh kelimanya dimasukan ke dalam peti sebelum kemudian dihanguskan ke dalam api.

Saat itu, tepat setelah semua orang pergi menyisakan Jungkook dan Seojoon, pemuda yang lebih tua menawarkan banyak hal kepadanya. Rumah baru, lembaran baru, kehidupan baru, seperti tengah mencoba meluruhkan semua rasa sakit dan luka menganga yang ia tanggung. Namun agaknya Jungkook hanya akan merasa berdosa selamanya, bertanya-tanya mengapa hanya dirinya yang bertahan. Mengapa Tuhan seperti sengaja menjadikannya momok mengerikan yang bisa menghancurkan kehidupan semua orang?

Bahagia? Jika sesuatu semacam itu memang ada, bisa diakses siapa saja seperti internet, dan tidak membutuhkan biaya besar untuk mendapatnya, barangkali Jungkook sudah meraup semuanya untuk diri sendiri. Sayangnya takdir seperti sedang menggerogoti semua hal berharga yang menjadi pondasinya. Meruntuhkan satu persatu kepercayaan dirinya mengenai hal yang satu itu.

Mungkin semuanya memang harus berakhir sebelum menyakiti seseorang lebih banyak lagi. Padahal malam ini bulan bersinar penuh bersama jutaan bintang. Mereka seolah sedang tersenyum lebar, barangkali akan menertawakan keputusasaan atau mengejek kehidupan menyedihkannya. Tapi Jungkook mendadak berpikir, terbang ditemani kilau semeriah ini pasti terasa menyenangkan.

Maka, meninggalkan kertas dan pena yang ia genggam, Jungkook bangkit dan melangkah menuju pembatas. Memandang aktivitas semua orang sembari bertanya-tanya, barangkali akan jadi seperti apa dirinya jika Tuhan memang benar-benar menyayanginya dari awal. Lulusan terbaik universitas? Idola yang sukses di usia muda? Atau mungkin pemuda yang menjalani kehidupan sederhana dengan bahagia? Apapun itu, pada akhirnya Jungkook harus mengakui bahwa semua itu hanya angan-angan yang tak mungkin menjadi kenyataan.

Semua orang hanya terlihat seperti titik-titik yang bergerak lambat dari atas sini. Tapi begitupun, Jungkook seperti bisa mendengar tawa dan candaan yang mengudara di mana-mana. Terlihat seperti semua orang ditakdirkan untuk bahagia. Semua orang, kecuali dirinya.

"Bahkan sepertinya tidak ada yang sudi mendengarkan ucapan selamat tinggal dariku."

Pembatas yang hanya setinggi tujuh puluh sentimeter itu pasti akan terasa dingin jika memang syaraf dan otaknya masih berfungsi, tapi entah kenapa tidak ada yang ia rasakan selain denyutan menyakitkan di dadanya. Seperti Tuhan memang sudah siap untuk merenggut semua hal yang sempat ia miliki. Maka Memejam sejenak, Jungkook bisa merasakan tubuhnya terhuyung, kehilangan pijakan kala satu langkah kecil diambil. Dalam waktu yang singkat itu, Jungkook bisa merasakan jantungnya berdetak lambat, bersama dengan sekelebat ingatan di mana semuanya masih baik-baik saja. Sayangnya, kenyataan menamparnya dengan fakta bahwa semuanya sudah hancur berkeping-keping, berserakan. Barangkali dalam beberapa sekon, tubuhnya juga.

Selamat tinggal.

Save Me [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang