Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

05# Memorella

20.8K 4.7K 1.4K
                                        

Jam dinding sudah menunjuk pukul dua lewat lima puluh. Raja sendiri tidak yakin, kenapa dia baik-baik saja saat Davina berkeliaran seperti arwah gentayangan di rumahnya. Padahal si Kuning Bluberry itu berisiknya bukan main. Ada saja hal-hal random yang ditanyakan olehnya. Seperti kenapa Roro Jonggrang menolak cinta Bandung Bondowoso? Kenapa Anusapati membunuh Ken Arok? Atau alasan dibalik kematian Patih Gajah Mada.

Jelas Raja ngamuk. Di antara banyaknya pertanyaan, kenapa dia harus menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu. Disaat Raja bertanya dengan wajah garang, Davina dengan seenak jidat menjawab, "Nggak pa-pa, aku penasaran aja."

Baru juga dibaikin, sifat menyebalkannya sudah membuat darah mendidih. Davina akan tetap jadi Davina!

"Mau kemana?"

Raja baru saja keluar kamar saat Davina bangkit sambil menyangklong tasnya punggungnya. 2 bungkus Roma Sari Gandum dan sebungkus Oreo rasa vanilla yang tadi sempat dibeli Raja nampak berjejalan di sana. Sedikit nggak tahu diri, tapi Raja membiarkan perempuan itu menjarah snack-snacknya.

"Kerja sampingan."

"Bukannya tadi kamu bilang mau jadi budak saya?"

"Kan udah." Davina mengedip-ngedip lucu.

"Apanya yang udah?"

"Jadi budaknya lah, budak cinta!" Suara cekikik Davina kedengaran seperti suara setan.

Raja memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut. Pening selalu menyerangnya setiap Davina berubah seperti ini. Bisa tidak sih Davina normal 1 x 24 jam? Belum juga setengah hari, sudah kelainan lagi.

"Yaudah, Yang Mulia.. aku pamit. Kalau kangen telpon aja. Oke?" Dav membulatkan jarinya, sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi kinclongnya.

Sementara Raja hanya geming. Mengantarkan Dav berjalan menuju pintu dengan pikiran melayang-layang entah kemana.

"Arghh-"

Davina langsung menoleh, hanya untuk menemukan Raja memegangi kepalanya sambil bersandar pada tembok. Laki-laki itu nyaris saja tumbang seandainya dia tidak datang dengan cepat.

"Yang Mulia!!"

"Dav--" suaranya kedengaran lirih.

"Yang Mulia nggak pa-pa? Ini berapa?" Dav panik, tapi masih sempat bertanya berapa jumlah jari yang ia tunjukkan.

Sementara Raja memicing. Menatap jari Davina dan wajah perempuan itu secara bergantian. "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam----"

"ENAM??? YANG MULIA INI CUMA DUAAAA!!"

Davina sudah histeris, sementara Raja mati-matian mengigit bibirnya agar tidak tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi lucu Davina.

"Saya ikut kamu aja deh."

Dav melotot, "Apa? Nggak nggak nggak!! Yang Mulia lagi sakit gini masa ikut? KALAU NANTI YANG MULIA KENAPA-NAPA GIMANAAA?!!"

Untuk sejenak, Raja menahan napas dari teriakan super dahsyat Davina. Raja pikir dia sudah terbiasa dengan cara bicara Davina yang selalu #NgegasForLife, tapi rupanya dia masih sering kaget.

"Justru kalau saya di rumah sendirian, nggak akan ada yang tahu kalau tiba-tiba saya kenapa-napa. Nih, kalau kepala saya mumet-mumet terus kepala saya kepentok kulkas terus mati gimana? Kamu mau tanggung jawab kalau saya mati kepentok kulkas?"

Davina meringis, benar juga apa kata Raja. Kalau dia kenapa-napa tanpa seorang pun yang tahu gimana? Kalau dia betulan kepentok kulkas terus mati, manusia homo mana lagi yang bisa dia buntuti?

Kaleidoskop✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang