Perlahan-lahan, Davina menghembuskan napas ringan. Terus terang, ini tidak berdampak banyak. Keringat dingin masih membanjiri kedua pelipisnya. Bahkan sekujur tubuhnya masih tidak henti bergetar. Menit-menit sebelumnya, Dav bahkan keluar masuk kamar mandi karena kegugupan ini benar-benar memperbudak kantung kemihnya.
Sementara itu Aksara mendesah pelan, disusul Ecan yang tiba-tiba saja mendorong satu kotak tissue tepat di hadapan Davina. Membuat gadis itu menoleh dengan decak kesal.
"Siapa tahu aja lo butuh tissue." Ecan mengangguk mantap.
"Meskipun lo gagal, ini bukan akhir dari segalanya, Dav." kali ini Aksara bersuara lebih rasional dari sebelum-sebelumnya. Lantas tanpa suara, ketiganya kembali mengamati layar laptop yang sengaja Davina letakkan di tengah-tengah kursi. Berjajar dan berjongkok dengan perasaan was-was.
Setelah berbulan-bulan yang lalu menjalani serangkaian ujian tes yang menguras emosi dan tenaga, Dav akhirnya menjumpai hari ini. Jika dia mendapat email tepat di jam 4, maka artinya ia lolos dan berkesempatan untuk mengenyam pendidikan musik di Tokyo, Jepang. Tapi jika waktu melebihi jam ketentuan, maka Dav harus berbesar hati untuk membiarkan mimpinya dihembus angin bulan Juni. Lenyap begitu saja.
Tapi setelah apa yang ia lakukan selama ini-- datang ke Jakarta dan mengorbankan banyak hal, harusnya dia tidak gagal begitu saja. Dav bukan hanya membawa mimpi itu bersamanya, melainkan segenggam harapan dari keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Detik dimana Dav kembali menghembuskan frustasi, ia merasakan Ecan menepuk-nepuk punggungnya. "Udah fix lo gagal." cercahnya.
"Nggak bisa gini!" adegan itu perlahan-lahan membuat Ecan dan juga Aksara menampilkan raut nanar. Sedikit tidak tega saat mereka harus melihat Davina meremas rambutnya dengan rintihan dramatis. Seolah-olah ia baru mengalami patah hati hebat.
"Udah jam 4 lewat, Dav." kata Aksara.
"Udah gue bilang dia gagal."
Praktis membuat Aksara melotot, "Boss? Belum pernah disengat belut listrik ya?"
"Ya buktinya? Nggak ada email masuk kan?" Ecan mencibir dengan raut wajah yang menjengkelkan. Lantas katanya, "Udah paling bener lo kawin aja sama Raja. Nggak usah sekolah jauh-jauh ke Jepang. Begitu lulus juga nggak ngejamin lo jadi hokage."
"Dia ke Jepang buat sekolah musik kali, Boss. Bukan mau sekolah Shinobi."
"Ya siapa tahu aja kan, awalnya sekolah musik tapi akhirnya ikut ujian chunin. Jadi hokage dengan lulusan terbaik. Menjaga perdamaian Konoha yang selama ini gonjang-ganjing."
"Beneran belum pernah disengat belut listrik ini orang." Aksara geleng-geleng kepala.
"Heh! Cacing Fernandez! Lo tahu itu belut listrik? GUE YANG BELIIN TOKENNYA!"
"Kalian ini kenapa sih? Bisa nggak, sebentar aja bersimpati sama kekhawatiran aku?!"
Hanya dengan begitu saja keduanya kehilangan kata-kata. Lantas dalam keheningan, ketiganya mengamati detik-detik dimana Davina kembali merefresh kolom emailnya.
Satu menit..
Dua menit..
Hanya diisi dengan hela napas putus asa. Memorella sore itu ramai seperti biasanya. Mesin coffee maker dan milk steamer beradu dengan lagu-lagu sendu seperti sore-sore sebelumnya. Juga pembicaraan hangat para pelanggan yang datang silih berganti.
Semuanya terjadi seperti biasanya. Tapi sore itu, seolah-olah hanya Davina yang terjebak dalam pusaran waktu. Saat ia menilik jam di pergelangan tangannya, jam 4 sore sudah berakhir. Ia gagal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaleidoskop✔
Romance[SUDAH TERBIT] TRILOGI BAGIAN 2 Bagi Davina, dia dan Jovanka adalah dua hal yang berbeda. Hidupnya terlalu rumit untuk dijelaskan, seperti terjebak dalam labirin waktu yang membingungkan. Tapi bagi Raja, keduanya sama saja. Raja mencintai Davina dan...
