Jika dunia ini adalah sebuah panggung opera sabun, maka Davina adalah pemeran figuran nomor sekian. Yang bahkan terkadang tidak mendapat skenario atau tempat di atas panggung. Bagi Davina, hidupnya adalah sebuah perjalanan panjang di atas lapisan es yang tipis. Sewaktu-waktu dia bisa saja jatuh terperosok pada kedalaman yang tak terhingga. Kabar buruknya, bisa jadi tidak akan ada satupun yang mau menolongnya. Kalau Davina masih mau hidup, maka sederhana. Dia harus berjuang untuk dirinya sendiri.
Sudah hampir 3 jam dan hujan di luar masih enggan berhenti. Gemuruh bersahut-sahutan dengan gelegar angkuh. Dibalik dinding kaca, angin juga nampak bertiup kencang. Davina suka desember, atau suara dan aroma hujan yang menenangkan. Tapi dia tidak suka cuaca ekstrem seperti ini. Sama sepertinya, desember ternyata punya dua sisi yang berbeda. Desember yang menenangkan atau desember yang menakutkan.
Sore itu kedai kopi tempatnya bekerja nampak sepi. Maklum, di luar masih hujan deras. Tidak banyak orang-orang yang mau berkeliaran disaat-saat seperti ini untuk secangkir kopi atau teh. Mereka punya opsi lebih baik untuk membuatnya sendiri di rumah. Itu fakta, sebab Davina juga kerap kali melakukannya. Dan lagi-lagi, hujan selalu berhasil mengingatkannya dengan laki-laki itu. Namanya Attala Rajasa. Bagi Davina, laki-laki itu ibarat bunga flamboyan yang mekar di awal bulan desember. Atau kadang seperti ampas kopi hitam yang sengaja dibiarkan berjam-jam. Attala Rajasa adalah definisi dari kata rumit. Tapi anehnya, selalu ada dalam diri Raja yang membuat Davina tertarik. Apapun itu.
Raja bisa menatapnya dengan sorot mata datar yang dingin dan menakutkan. Atau pandangan yang teduh meski tanpa senyum dan kata-kata manis. 2 tahun mengenal Raja, Davina tahu laki-laki itu tidak terlalu banyak bicara. Dalam sebuah pertemuan di hari yang sama, Davina bisa menghitung dengan jari tangan kanannya sebanyak apa laki-laki itu bicara. Semakin jauh Davina mengulik soal Raja, semakin dia merasa tertarik. Dan itu adalah saat-saat dimana ia semakin sering memperhatikan Raja diam-diam.
Attala Rajasa punya segudang misteri. Kadang Davina menemukan laki-laki itu menatap kosong ke luar jendela dengan secangkir americano panas di sudut pantry. Davina tidak berani bertanya apa yang sedang laki-laki itu pikirkan. Jadi tanpa berusaha menarik perhatian, Davina akan duduk di sudut lain untuk menemani laki-laki itu. Satu jam. Dua jam. Dua setengah jam, sampai Raja pergi tanpa sempat meminum kopinya sama sekali.
Atau seperti sekarang, hujan mengingatkan Davina pada Raja berkali-kali lipat dibanding biasanya. Laki-laki itu selalu ketakutan saat hujan turun. Entah rasa takut pada hujan atau pada petir, Davina tidak tahu. Dan sekarang dia tiba-tiba cemas pada laki-laki itu. Di luar hujan turun begitu lebat, apa yang akan dia lakukan disaat-saat krusial seperti ini?
Di kesempatan lain, Davina selalu menemukan Raja dalam kondisi memprihatinkan. Ketika laki-laki itu tiba-tiba mimisan. Ketika laki-laki itu tiba-tiba berjalan sempoyongan. Hingga di suatu pagi, Davina menemukan Raja menelan banyak sekali pil-pil aneh. Davina bertanya-tanya, apakah saat ini Raja sedang sakit parah? Sebuah pertanyaan yang berhasil menghasilkan denyut nyeri di sebelah dadanya.
Kini, perempuan itu hanya bisa menghela napas gelisah. Dia menumpukan dagunya di atas counter dengan pandangan jauh menembus dinding kaca. Entah sejak kapan, hujan perlahan-lahan tidak sederas sebelumnya. Dan sekarang, hujan itu mengingatkannya pada kampung halaman yang belum juga ia jenguk tahun ini.
Davina hanya satu dari sekian anak rantau yang mengadu nasib di Jakarta. Ayahnya hanya pensiunan guru SD yang sekarang bekerja sebagai petani di kampung. Menggarap sepetak sawah peninggalan kakeknya sebagai warisan. Ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. 3 adiknya masih sekolah. Tiga-tiganya masih duduk di bangku sekolah dasar. Biaya pendidikannya bukan main, sampai-sampai membuat bapak kewalahan dan nyaris membuat adik tertuanya putus sekolah.
Awalnya bapak menentang Dav jauh-jauh pergi ke Jakarta untuk pergi bekerja. Tapi Dav bersikeras pergi dan lambat-laun berhasil mengalahkan kekhawatiran bapak. Dia pontang-panting survive di kerasnya ibu kota. Melamar ke sana ke mari berbulan-bulan dengan modal ijazah SMK. Susah, tapi kalau Dav menyerah-- bagaimana dengan nasib keluarganya di kampung? Hasil panen sawah bapak tidak bisa diandalkan jika sudah digunakan untuk menutup lubang hutang di bank. Kalau tiba waktu tanam, hutang lagi untuk modal bibit dan perawatan. Dibayar lagi kalau sudah panen. Buka tutup lubang terus, tapi bapak tidak punya pilihan lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaleidoskop✔
Romance[SUDAH TERBIT] TRILOGI BAGIAN 2 Bagi Davina, dia dan Jovanka adalah dua hal yang berbeda. Hidupnya terlalu rumit untuk dijelaskan, seperti terjebak dalam labirin waktu yang membingungkan. Tapi bagi Raja, keduanya sama saja. Raja mencintai Davina dan...
