19# Untold Story: Ken

19.9K 4.2K 672
                                        

Keenan Radigta Gandhi.

Ken tidak punya apa-apa selain keberanian untuk menjalani hidup. Baginya, hidup ya hidup. Tidak ada arti lain selain menghirup dan membuang napas. Hidup Ken harusnya dipenuhi oleh ribuan tanda tanya. Tapi pada akhirnya, dia memutuskan untuk tidak bertanya apa-apa. Baik mengenai orang tua kandungnya, masa lalunya, nama aslinya atau segala hal yang tidak ia ketahui. Ken memutuskan untuk melakukan segala hal yang ia mau alih-alih mencemaskan sesuatu yang belum tentu menguntungkannya.

Robert, seseorang yang telah menghidupinya sejak umur 7 tahun bahkan tidak pernah protes mengenai apapun yang ia lakukan. Setelah meninggalkan Thailand, Ken merasa lega --bukan bersyukur, karena dia saja tidak tahu apakah Tuhan itu benar-benar ada atau tidak-- karena paling tidak, Indonesia membiarkannya bernapas lebih leluasa dibanding negara tempatnya berasal.

Hidup bersama Robert mengajarinya banyak hal. Termasuk melakukan hal-hal diluar jangkauan orang biasa. Seperti yang ia lakukan pada Jo, itu perkara mudah. Apakah Ken lantas merasa bersalah? Tidak sama sekali. Robert tidak pernah mengajarinya untuk itu. Untuk berperasaan dan memiliki belas kasih.

Si tua bangka itu-- yang untungnya sekarang sudah mati, membuat Ken menjadi pembunuh untuk pertama kali saat usianya menginjak 9 tahun. Bukan manusia (untungnya). Hanya seekor anjing Doberman milik tetangga yang tanpa sengaja masuk ke pekarangan rumahnya. Lalu dengan begitu saja, membunuh menjadi satu hal yang lumrah.

Tapi ada satu hal yang membuat Ken merasa penasaran, seperti apa rasanya sedih, rasanya ketakutan, rasanya bahagia, atau perasaan apapun yang orang lain rasakan. Karena terus terang, Ken tidak punya perasaan apapun dalam dirinya. Sesuatu yang kadang membuatnya berpikir bahwa dia bukanlah manusia sungguhan. Melainkan iblis dalam bentuk yang rupawan.

Hingga suatu malam, Jovanka datang ke hidupnya. Memberinya sebuah perasaan asing yang teramat sulit untuk ia terjemahkan. Rasanya seperti kembang api yang diledakkan di langit Tokyo 6 tahun yang lalu. Kadang rasanya seperti berjalan di antara ribuan kupu-kupu. Atau terbang melintasi awan-awan lembut berwarna merah muda. Ken tidak tahu apa yang membuatnya datang menghampiri sosok Jovanka dan membelinya dengan harga sekian ratus juta. Kasarnya memang begitu, Ken membeli Jovanka dari pria tua bangka yang haus uang.

Ken hanya merasa wajah Jov kelihatan sangat menderita malam itu. Dengan bibir merah menyala dan sorot mata yang mengintimidasi, yang justru terlihat sangat memprihatinkan di mata Ken. Dia melakukan itu tanpa alasan, alias cuma-cuma. Meski di dalam kubur sekalipun Robert tahu, Ken tidak pernah sebaik itu. Tapi Jov membawa magnet tersendiri.

Ada uang, ada barang. Ken mengajak Jov pergi dari kelab dengan maksud yang lebih baik-- yang sampai sekarang Ken tidak pernah mengerti, sejak kapan dia bisa jadi orang baik? Tapi apa yang Ken dapat malam itu membuatnya kehilangan kata-kata.

"Can you kill me tonight? I'll never be able to come back home after this way. After you do what you want, you better kill me. Then I'll thank you and wish you have a good life."

Jovanka salah sangka. Saat itu Ken hanya bisa tersenyum tipis pada jalanan yang dilaluinya. Untuk pertama kalinya, Ken bertemu dengan seseorang yang meminta padanya untuk dibunuh.

"Jutaan manusia yang saat ini kena kanker aja berusaha sekuat tenaga buat hidup. Lo? Pengen mati?" Ken tertawa. Dia tidak mengerti kenapa ada orang dengan jalan pikiran seperti itu.

Di sampingnya, Jovanka tidak bersuara. Perempuan itu hanya menatap keluar jendela tanpa hasrat sama sekali. Mungkin pandangan yang sama seperti saat Ken berada dalam pesawat yang membawanya ke Indonesia untuk pertama kali.

"You look like you have a heavy burden of life." Kata-kata itu berhasil membuat Jov menoleh, "Isn't it?" Ken melanjutkan.

"You don't look like a man who likes to play girls."

Kaleidoskop✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang