Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

37# Meteorschauer

16K 3.8K 509
                                        

Jangan lupa streaming!😘

***

Sore itu, Dav membiarkan dirinya tenggelam dalam kegamangan panjang. Di apartemen Raja yang sepi, ia tinggal seorang diri. Laki-laki itu masih berada di pemakaman sementara ia memutuskan untuk pulang dan membiarkan Raja menyelesaikan segala persoalannya di sana. Namun apa yang ia dapati justru terdengar seperti sebuah ancaman yang bisa membunuhnya kapan saja.

Saat ia memutuskan untuk bersih-bersih, Dav tanpa sengaja menemukan sebuah tindik berwarna perak di bawah kolong sofa. Ia bahkan nyaris lupa bagaimana caranya bernapas. Hanya melihat gantungan salib dibagian bawahnya saja sudah cukup bagi Dav untuk menerka-nerka. Lagipula, ia hampir tidak pernah melihat Raja menggunakan aksesoris semacam ini. Hanya dengan begitu saja dugaannya seakan-akan mengarah dengan benar. Dav pernah melihat Ken memakai tindik itu beberapa kali. Itu artinya, Ken pernah bertemu dengan Raja.

Beberapa kali Dav menimang-nimang untuk menghubungi Ken dan bertanya langsung mengenai tindik yang kini tengah digenggamnya. Tapi memikirkan pertengkaran mereka beberapa bulan yang lalu, Dav hanya bisa menarik napas panjang. Hubungannya dengan Ken berakhir sudah. Nyaris 2 bulan lamanya Dav berusaha menghindari Ken saat laki-laki itu berusaha mencarinya.

Bukannya Dav mengibarkan bendera permusuhan dengan Ken. Hanya saja Dav berharap, kejadian ini bisa membuat Ken berpikir panjang. Bahwa apa yang ia lakukan selama ini adalah salah.

Tapi jika benar tindik ini adalah bukti pertemuan Ken dengan Raja, kenapa Raja tidak mengatakan apa-apa padanya?

Pertanyaan sepihak itu buyar begitu saja saat suara tombol pengaman pintu ditekan dari luar. Dav buru-buru menyakui tindik itu saat sosok Raja muncul dari balik pintu. Senada dengan pakaian yang laki-laki itu kenakan, sepasang mata Raja dipenuhi kekelabuan. Raut wajah yang sayu, sarat akan rasa lelah yang mendera.

Tanpa suara, Dav merentangkan kedua tangannya. Membawa raga lelah Raja ke dalam pelukannya. Untuk sekali saja, Dav ingin mengemis pada Tuhan agar membiarkan Raja bernapas dengan tenang. Sebab segala pintanya tak kunjung dijawab. Ini adalah titik dimana Dav merasa putus asa dengan harapannya. Untuk itu ia bersedia mengemis belas kasih di hadapan Tuhan dan melupakan segala macam harga dirinya.

"Kamu tahu nggak?" Raja menarik dirinya dengan senyum nanar. "Aku kaya raya sekarang." ada sebuah tawa di sana. Namun Dav sama sekali tidak melihat hal yang sama dalam sepasang matanya.

Saat Raja mengulurkan sebuah amplop coklat padanya, Dav tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"Ini... apa?"

"Surat kuasa peralihan saham Papa."

Dav terhenyak. "Buat kamu?" yang hanya dijawab anggukan lemah oleh Raja.

Untuk ukuran orang yang baru saja mendapat rejeki nomplok, Raja sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia baik-baik saja dengan apa yang ia dapatkan. Dav tahu, Raja sama sekali tidak menginginkan hal semacam ini sejak awal. Baginya, kembali bisa menerima keberadaan Papa saja sudah lebih dari cukup. Bisa memaafkan Papa saja sudah luar biasa sekali rasanya.

Dengan hela napas panjang, Dav menyentuh pipi Raja yang dingin. "Kamu mau makan apa? Aku bikinin." setelah menyerahkan kembali amplop itu pada Raja, Dav berlalu begitu saja. Perempuan itu memutuskan untuk tidak membahas lagi sesuatu yang tidak seharusnya dibahas saat ini.

"Tadi aku udah masak nasi. Kamu mau dibikinin apa buat lauknya? Kebetulan aku lagi pengen ayam geprek mozarella. Kamu mau--"

"Aku mau peluk kamu dulu."

Dav berhenti bergerak saat Raja tiba-tiba saja mendekap punggungnya. Lantas dengan perasaan berdebar, ia membiarkan laki-laki itu bersandar pada pundaknya.

Kaleidoskop✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang