Sudah 5 hari Raja berada di rumah sakit. Dia tidak heran jika Tante Mirna terus-terusan datang untuk menumpahkan berbagai macam perhatian. Atau NCT cabang Depok yang datang hanya untuk membuat isi kepalanya semakin mumet. Tapi dia tidak menduga bahwa Marli dan antek-anteknya akan datang dan membawa berkeranjang-keranjang buah. Dengan sedikit makian karena saat dia di rawat di rumah sakit, dia sama sekali tidak bilang-bilang.
Kemudian Raja berpikir, bukankah jadi makin aneh kalau dia tiba-tiba Raja menelpon Marli hanya untuk bilang, "Marli, aku sakit. Kamu mau nggak jenguk aku? Kayaknya aku bakalan langsung sembuh deh kalau udah ketemu kamu."
Ewh, Raja malah bergidik membayangkannya.
Di hari ketiga dia di rawat, saat ia sedang sendirian sebab Tante Mirna dan Lala baru saja pulang- sementara Davina sedang ada kerjaan, Jeno dan Natta datang hanya untuk pamer kalau mereka akan segera menikah.
Lalu entah bagaimana, sebuah perjanjian aneh tercetus saat Raja meminta Natta untuk memulai lagi terapinya. Satu hal yang Raja sesali saat itu, kenapa ia malah iya-iya saja?
"Nikah, Ja! Bukannya malah enak ya? Di saat lo capek-capek pulang kerja, ada istri lo di depan meja makan sambil senyum cerah terus bilang 'Sayangku, gimana hari ini?' Setelah itu punya anak, hidup bahagia! Lo nggak mau hidup bahagia?"
Saat itu Raja tidak menanggapi apa-apa. Ia hanya berdecak, malas meladeni Natta yang kini sudah menyerahkan segenap jiwa raganya untuk sepenuhnya mencintai Jeno. Orang-orang menyebutnya budak cinta. Padahal bagi Raja, untuk sebuah akhir yang bahagia tidak pernah semudah itu. Hal yang paling menyakitkan adalah, kadang- hidup itu tidak pernah sesuai ekspetasi.
Lalu tiba-tiba, Natta berkata seperti ini; "Gini deh. Let's make a deal! Gue bakal terapi lagi seperti kemauan lo. Tapi sebagai balasannya, lo harus punya rencana buat nikah suatu saat nanti. Gimana? Jangan ginilah. Masa lo menjomblo seumur hidup, kasian muka lo. Terlalu ganteng untuk jadi jomblo sampai mati."
"Oke."
Dan mengingat wajah penuh kemenangan Natta hari itu, Raja hanya bisa menghembuskan napas panjang. Memandang kumpulan awan-awan cumulus nimbus di pagi menjelang siang kala itu malah membuatnya semakin nelangsa.
"Kenapa gue malah bilang oke? Apanya yang oke? Ja, Ja.. sejak kapan lo jadi lemot kayak gini?" Raja mengerang. Sesekali ia menjambak rambutnya dan merintih seperti orang yang sedang depresi berat.
Beberapa pasien dan perawat yang melintas tidak jauh dari tempatnya bahkan sampai terheran-heran. Sebagian lagi sibuk menduga-duga. Apakah pasien laki-laki itu sedang kesambet penunggu pohon trembesi di atasnya?
Tapi Raja, dia mana mau peduli. Kemudian ia menyandarkan kepalanya pada punggung kursi, hanya untuk menyipitkan mata saat cahaya matahari menembus dedaunan. Siang itu angin berhembus sejuk. Menerbangkan rambut keabu-abuannya yang mulai sedikit lebih panjang. Dia bahkan terkekeh saat ingat Davina mengomel-ngomel sepanjang hari agar ia segera potong rambut begitu keluar dari rumah sakit.
Ah, Davina. Baru juga ditinggal pulang, kenapa Raja tiba-tiba jadi rindu? Dan entah bagaimana bisa, wajah perempuan itu muncul dari sela-sela daun trembesi yang tumbuh rindang di atasnya. Memamerkan cengiran lebar kesukaannya.
"Kamu tuh cantik loh, Dav. Tapi kenapa hobinya ngomel-ngomel mulu sih?" Lagi-lagi, segala ingatan tentang Davina membuat Raja tertawa. Hingga membuatnya teringat- sebelum bertemu dengan perempuan itu, ia tidak pernah tertawa sesering sekarang.
Di saat senyum itu merekah sebab bayang-bayang Davina, Raja dikejutkan oleh kemunculan anak laki-laki tepat di depannya. Dengan cengiran lebar khas anak-anak. Harusnya cengiran itu kelihatan lucu. Tapi begitu Raja menyadari siapa bocah itu, sekujur tubuhnya seakan-akan berubah jadi batu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kaleidoskop✔
Romance[SUDAH TERBIT] TRILOGI BAGIAN 2 Bagi Davina, dia dan Jovanka adalah dua hal yang berbeda. Hidupnya terlalu rumit untuk dijelaskan, seperti terjebak dalam labirin waktu yang membingungkan. Tapi bagi Raja, keduanya sama saja. Raja mencintai Davina dan...
