Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

26# Filosofi Billiard

18.9K 4K 993
                                        

Dia memutuskan untuk berjalan semakin cepat. Jalanan belum sepenuhnya kering bekas hujan tadi siang. Beberapa bagian masih nampak digenangi air- keruh, sebab digilas ban mobil berulang-ulang kali. Dan sekarang, gerimis lagi. Meski intensitasnya tidak separah beberapa menit yang lalu, namun rupanya cukup untuk membuat hoodie hijau lumut yang ia kenakan basah. Dan seakan-akan kesialannya belum usai, Aji menilik conversenya dengan pandangan nanar.

Keadaan sepatunya yang memprihatinkan membuatnya tidak sadar. Saat Aji sudah sepenuhnya berada di depan pintu Indomaret dan hendak membuka pintu di depannya, ada seseorang yang secara bersamaan memegang gagang pintu. Harusnya ini romantis, tapi Aji langsung menjauhkan tangannya secepat kilat.

"Hai! Setiaji?!"

Setelah beberapa saat termenung, Aji terkekeh, "Hai! Jovanka?" Lalu berinisiatif membuka pintu di depannya, "Ladies first?"

Dan sama sepertinya, perempuan itu juga terkekeh, "Thank you."

"Sendirian?"

"Iya, tadi habis mampir ke apart-nya Raja. Lo tinggal daerah sini?"

Aji mengangguk, "Kompleks sebelah. Mau mampir?"

"No, thanks!" Jov tertawa singkat, lalu mengambil satu keranjang biru seperti yang dilakukan Aji, "By the way, gue denger kalian udah baikan?"

"Well, berkat lo."

"Enggak, itu karena hubungan persahabatan kalian emang bukan kaleng-kaleng. Gue seneng banget dengernya. Raja banyak cerita tahu! Apalagi temen lo yang satunya tuh- siapa ya namanya? Gue lupa."

"Jeno?"

"Nah! Iya, Jeno! Raja sering banget ngomongin dia."

Aji mengangguk dengan senyum sumir. Untuk sesaat ia berjalan melambat dan merasa sungkan saat Jov berjalan ke arah rak berisi pembalut. Hingga tanpa suara, ia berjalan menjauh. Di antara lagu Pamungkas yang mengudara sore itu, Aji membiarkan dirinya mematung di depan chiller. Kehadiran Jovanka yang mendadak di depan matanya entah mengapa memunculkan banyak pikiran yang mengganggu.

Namun Setiaji akan tetap menjadi Setiaji. Laki-laki itu membiarkan pikiran aneh dalam kepalanya mengambang begitu saja. Kemudian ia membuka pintu chiller dengan gamang. Mengambil lima botol Ichitan Thai Milk dan dua kaleng coca-cola. Setelahnya ia berbalik, untuk memasukkan beberapa bungkus snack dan beberapa wafer pesanan Bang Erwin- kakaknya.

Jov sudah tidak lagi berada di rak pembalut saat Setiaji mengambil satu buah alat cukur dan memasukkannya ke dalam keranjang bersama shave cream. Dan setelah berputar-putar ke beberapa rak, keduanya bertemu lagi di depan kasir. Perempuan itu terlihat sudah selesai menghitung belanjaannya saat Aji sampai di sana.

"I've done! Gue duluan ya!" Aji hanya mengangguk sekilas dan membiarkan sosok Jov perlahan menjauh dari jaraknya.

"Ini aja, Mas?" Seperti biasa, mbak-mbak kasir mulai membongkar isi keranjangnya.

"Iya."

"Ada kartu membernya?"

Dua detik.

Empat detik.

Tujuh detik...

Aji mulai dibuat pusing dengan isi kepalanya sendiri. Dia bahkan mengabaikan mbak-mbak Indomaret yang mulai menatapnya seperti orang linglung dan berakhir mengscan belanjaan tanpa menginput nomor member terlebih dulu.

"Mbak, sebentar ya! Hitung aja dulu, nanti saya balik lagi!" Aji berkata dengan nada super cepat, lalu melesat keluar Indomaret dengan terburu-buru.

Kaleidoskop✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang