Ify's side ya gaes..
.
.
.
**
Gue masih gak percaya kalau ada nyawa yang berkembang di rahim ini. Praktis, gue mengelus perut rata yang masih belum merasakan pergerakan janin gue.
Rio tersenyum kepada gue, sepeninggal dokter dia terus menggenggam tangan gue seolah tak ingin lepas.
"Kita akan menjadi orang tua, Fy". Kata Rio senang. Gue ikut tersenyum, haru dan bahagia karena 7 bulan menanti kebahagiaan ini.
"Pokoknya kamu gak boleh capek-capek ya! Kamu gak boleh banyak pikiran biar kalian berdua sehat dan kuat". Rio mengelus perut gue dengan lembut. Gue hanya bisa mengangguk mengikuti kemauan nya.
Sejenak gue memejamkan mata, mengusir lelah karena dari tadi lari-larian. Tiba-tiba gue ingat kejadian di parkiran tadi.
"Kamu/Aku". Tanpa sengaja kami ingin berbicara tapi malah berbarengan.
"Aku minta maaf tentang kejadian--". Gue mengalihkan pandangan ke arah jendela. Masih sesak akan perlakuan Sandra yang tak pantas dimata gue.
"Aku minta maaf, aku benar-benar gak tau kalau dia bakalan megang ujung baju ku, Fy. Demi Allah!". Ujar nya. Gue menghela nafas panjang lalu menatap dirinya.
"Sudahlah. Aku juga minta maaf karena bersikap labil gini. Aku marah-marah gak jelas ke kamu--". Rio menggeleng.
"It's over, it's done! Kita harus saling menguatkan, harus saling jaga. Maafin aku juga ya. Aku gak bisa jaga jarak". Gue mengangguk paham. Dan yah, kami selesai dengan percekcokan tadi.
Setelah menyelesaikan segala administrasi rumah sakit, gue dan Rio pulang kerumah. Gue butuh istirahat karena merasa lelah. Sebelum pulang pun dokter memberikan gue vitamin dan obat mual-mual, sekiranya gue mengalamai morning sickness lagi.
Hari sudah sore dan gue memilih singgah ke dapur untuk melihat menu makan malam ini.
"Kita beli makanan aja ya! Kamu nggak usah masak dulu". Kata Rio tepat di belakang gue.
"Beli mulu, kita juga harus berhemat Yo. Lagian aku masih kuat kok". Kata gue Bersikukuh untuk tetap memasak. Dan Rio pun bersikukuh untuk melarang.
"Hari ini aja. Gaji aku masih cukup kok untuk makan kita hari ini". Satu hal yang gue gak suka dalam rumah tangga. Mengungkit gaji suami atau istri. Iya gue tau kalau Rio juga bekerja, tapi seolah gimana ya. Seperti membandingkan gitu. Hah sudahlah.
"Yaudah terserah kamu". Kata gue akhirnya. Gue mengalah dan mengikuti dia ke mobil.
***
Hari-hari gue lalui dengan penuh warna. Campur aduk semuanya, gue melewati masa kehamilan muda yang kini akan memasuki bulan ke empat. Cepat sekali, bukan? Awal-awal kehamilan membuat gue mual dan dianjurkan bedrest oleh dokter. Dan ketika itu, gue harus bedrest selama dua minggu pasca pemulihan. Hah, rasanya capek padahal lo ga ngapa-ngapain.
Kalau kalian bertanya soal masalah setelah kejadian di hari itu, alhamdulillah gue dan Rio masih adem ayem aja. Gue tetep kuliah, Rio tetap PLK dan kuliah. Organisasi tetep jalan. Dan status gue sebagai istri yang sedang hamil pun sudah di ketahui oleh banyak orang di FMIPA. Gak masalah sih, kan universitas juga memperbolehkan mahasiswanya menikah.
"Woii rapat nanti sore jangan lupa!". Kata Gege. Hari ini senin dan gue udah siap kuliah. Dosen gue gak masuk untuk matkul jam terakhir. Jadinya pulang cepat.
Gue melenggang santai ke dalam sekre hmj dan membuka salad buah yang gue beli tadi.
"Fy, lo makan apaan?". Tanya Agni. Praktis mereka mendekat ke arah gue.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabula Rasa
Literatura FemininaMenolak lupa akan rasa yang pernah singgah. percayalah, tidak semua persinggahan menjanjikan kenyamanan. tapi ini, aku menemukan rasa ternyaman untuk tetap tinggal disisi mu.
