Rio's side ya gaes.
.
.
.
.
.Benar kata pepatah, bahagia lah sewajarnya lalu sedih sewajarnya. Karena kita gak tau kapan bahagia dan sedih itu datang dan berlalu. Gue merasakan betul bahagia itu pergi begitu cepat.
Kebahagiaan gue dan Ify yang mendapatkan gelar bersama, lulus bersama hingga sampai di titik dimana kemudian kami harus merelakan kebahagiaan itu mencari tempat lain.
Dada gue masih dirundung pilu melihat keadaan kekasih surga gue itu. Dia terbaring tak berdaya pasca operasi. Mata nya belum terbuka, organ-organ nya masih dibantu oleh alat-alat medis untuk hidup.
Pasca operasi pun, gue belum melihat bayi kembar kami. Mereka dilahirkan prematur. Iya, mereka selamat ke dunia. Setelah pertikaian panjang dengan diri sendiri, gue mengutuk tak guna. Gue mengutuk diri ini karena masih menyimpan ego untuk tidak melihat mereka.
Dua hari--
"Rio!". Itu Papa gue. Beliau datang ketika Ify operasi. Selalu setia mendampingi dan menguatkan gue.
"Ayo ke ruang NICU". Ajak nya. Gue menggeleng lemah. Masih terpaku untuk duduk di samping ranjang Ify. Dua hari gue tanpa mau melihat si kembar itu terbaring di inkubator NICU. Gue masih bersikeras untuk menunggu Ify bangun agar kami bisa melihat nya bersama.
Maafkan papa, nak.
"Rio, kalau kamu terus seperti ini anak-anak kamu tidak ada yang menguatkan! Kasihan mereka". Kata Papa. Gue diam saja.
"Apa kamu rela mereka tersakiti seperti ini--".
"Aku lebih sakit liat Ify yang seperti ini Pa!". Tandas gue tanpa mau repot melihat ekspresi Papa.
Helaan nafas pun terdengar dari beliau "jenguk lah mereka! Apa yang sudah terjadi itu karena kamu turut andil memilihnya!". Lanjut Papa sebelum beliau keluar dari kamar ini.
Gue menghela nafas panjang, berusaha untuk tidak menangis. Masih terngiang di telinga gue ketika mereka lahir dan dibawa ke ruang NICU karena berat mereka di bawah standar, pernafasan mereka mengalami masalah. Tidak cukup satu penderitaan ini.
Disinilah titik terendah gue seperti diuji. Gue mengelak melihat mereka. Padahal mereka gak salah apa pun kan?
"Anak-anak Papa nanti kalau sudah keluar, harus gendong terus dengan Papa, ya! Biar bonding kita kuat satu sama lain".
"Trus sama mama enggak digendong ya?".
"Iya digendong juga! Atau mau Papa yang gendong mama?".
Sekelebat bayangan hampa itu terputar kembali. Gue tersenyum miris sembari mengelus punggung tangan Ify.
"Kamu kapan bangun sih? Anak kita udah lahir, sayang".
"Aku belum lihat mereka, aku mau lihat bareng kamu. Aku gak kuat sendiri, Fy!". Luruh sudah air mata ini ketika mengatakan nya.
Gue terlalu takut, rasa bersalah semakin memuncak jika gue menuruti nurani untuk melihat mereka. Dosa kah gue?
Ponsel gue berdering menampilkan id call Shilla. Gue belum mengabari Orang-orang di Pekanbaru sampai sekarang.
"Hallo assalamu'alaikum, Rio!".
"Waalaikumsalam, Shilla. Ada apa?". Tanya gue.
"Lo kenapa Yo? Lesu gitu. Eh iya, Ify dimana? Kalian jadi pulang besok kan?".
Dada gue bergemuruh hebat. Gue melirik Ify yang belum juga terjaga " Shilla--".
"Kenapa Yo? Ada masalah ya?".

KAMU SEDANG MEMBACA
Tabula Rasa
ChickLitMenolak lupa akan rasa yang pernah singgah. percayalah, tidak semua persinggahan menjanjikan kenyamanan. tapi ini, aku menemukan rasa ternyaman untuk tetap tinggal disisi mu.