TR 32

781 47 9
                                    

Ify's side ya gaes...
.
.
.
.
.

***

Hari senin adalah hari yang melelahkan menurut gue. Kenapa? Karena hari senin jadwal gue padat merayap sampai jam enam sore. Gila gak tuh?!

Oh iya, buat kalian yang penasaran kenapa gue bisa sadar. Ya bisa dong, kuasa Allah. Gue bisa apa? Muehehe.

Tujuh tahun berlalu, gue berhasil berjuang setelah operasi. Meskipun gue koma selama dua hari, tapi itu suatu bentuk perjuangan melahirkan si kembar. Meskipun mereka lahir prematur, tapi mereka tetap bertahan hingga usia tujuh tahun.

Ketika gue sadar dari koma, detak jantung gue berhenti sejenak. Rio seperti orang gila yang menepi di sudut ruangan, kata bunda dan ayah. Ah, suami mana yang tidak hampir gila melihat istrinya begitu. Mungkin ada, tapi gue gak tau deh.

Selepas gue sadar itu, gue bisa melihat wajah-wajah orang yang gue cintai. Ayah, bunda, rio dan papa mertua gue. Mereka disisi gue. Terlebih ketika koma dua hari, gue selalu mendengar suara mereka yang meminta gue kembali.

Hal yang paling membuat gue berusaha untuk bangun adalah suara pekikan bayi yang baru lahir dari perut gue. Mereka menyiksa gue dengan tangisan itu. Gue gak bisa mengelak jika mereka adalah bayi yang selalu gue nantikan kehadirannya. Mereka anak gue.

Dan dari situlah, semua terjadi begitu saja. Gue seolah mendapatkan kekuatan untuk bangun meksipun tertatih. Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan gue tetap menjadi makmum Rio. Uh, sayang!

Ketika sadar gue pun mendapat kesempatan menggendong si kembar. Ajaibnya, si adik yang tadinya kata dokter Qolbi memiliki kelainan di bagian pernafasan perlahan berangsur membaik. Kuasa Allah, memang tiada tandingannya.

Tujuh tahun berlalu, gue dan Rio sama-sama bekerja sebagai dosen di Universitas tempat kami kuliah dulu. Ya, kami masih di Pekanbaru.

Kami meneruskan perjuangan para pendidik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Ah, sangat diplomatis sekali kan!

Gue bertemu dengan dosen-dosen gue yang dulu, tentu saja. Meskipun ada beberapa yang sudah pensiun dan digantikan yang baru. Om Dewa masih ada, Pak Gavin dan Pak Megan juga ada. Dan kalian tau, Pak Gavin sudah menikah dengan Ashilla. Kejutan yang sangat mengejut kan, bukan? Jodoh gak ada yang tau.

"Ibu Ify!". Seorang mahasiswa menyapa gue sembari berlari tergesa-gesa.

"Iya, ada apa Bagas?".

"Buk, ibu sibuk gak?".

"Kenapa? Ibuk hari ini full, cuma free saat makan siang aja". Dia mendesah lelah. Mungkin kecewa dengan jawaban gue.

"Saya mau bimbingan, Buk--". Katanya. Gue mengulas senyum tipis. Sebagai dosen yang sudah PNS, gue mendapatkan mahasiswa bimbingan untuk skripsi. Dua kali lipat kerja nya.

"Besok saja ya, pagi jam sepuluh". Kata gue. Praktis Bagas mengangguk patuh dan tersenyum sumringah. Dia pun berpamitan dengan gue karena hanya ingin menyampaikan hal itu saja.

Gue masuk ke kantor jurusan dan bertemu dengan dosen-dosen yang sepantaran dengan gue. Ada Shilla tentu nya. Seperti nya, hidup gue gak bisa jauh dari dia deh. Shilla juga salah satu dosen di sini. Dua sahabat kami, Agni melanjutkan bidang nya di bagian perusahaan industri. Kan dia dulu prodi nya kimia murni. Sedangkan Via, menjadi seorang guru di disalah satu sekolah swasta di Pekanbaru. Meskipun wanita keturunan Tionghoa itu juga bergelar master pendidikan, tapi dia hanya ingin mengabdi di sekolah, tidak di kampus.

Apapun itu, kami berempat tetap saling berkomunikasi dan menyempatkan bertemu jika sama-sama senggang.

"Hai bumil!". Sapa gue. Shilla terkekeh lalu mengusap perut buncit nya yang sudah memasuki usia sembilan bulan. Dia tetap mengajar meskipun sudah seharusnya cuti melahirkan. Sungguh, perjuangan yang luar biasa.

Tabula RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang