Ify's side ya gaes..
.
.
.
.
.
***
Hari ini gue ke kampus, gak ada jadwal mengajar dan gue mau bimbingan dengan Om Dewa. Udah lama gue gak ketemu beliau.
"Ifyyyyy!!!!". Suara cempreng si emak-emak rempong siapa lagi kalau bukan Via mengusik pagi cerah gue ini.
"Apa sih mama nya Joan". Keluh gue. dia malah terbahak melihat ekspresi kesal gue.
"Bumil tumben ke kampus? Biasanya kan di sekolah". Dia mengelus perut buncit gue, seakan menyapa 'kacang tanah' yang 3 bulan lagi akan keluar.
"Gak ada jadwal ngajar dong! Gue mau bimbingan bab 4 sama Pak Dewa. Doakan gue ya Mams!". Dia mengangguk antusias lalu menyuruh gue agar lekas ke ruangan Om Dewa.
Gue berjalan santai karena janji gue dengan Om Dewa adalah jam 9, tapi sekarang masih jam setengah 9. Kurang santai apalagi sih?
Ponsel gue bergetar menampilkan Id call ayah, langsung saja gue mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo Assalamu'alaikum, ayah!".
"Waalaikumsalam, nak. Kamu lagi dimana?". Tanya bapak.
"Ify di kampus, Yah. Mau bimbingan dengan Om Dewa sebentar lagi".
"Kebetulan kalau gitu. Ayah ada titipan paket untuk Om Dewa, nanti kamu ambil ya!".
"Ambilnya dimana Yah? Ayah suruh kurirnya antar ke kampus aja deh. Kalau dirumah nanti gak ketemu Ify sama Rio". Kata gue.
"Iya makanya ayah tanya kamu dimana dulu, biar ayah bisa bilang kurirnya". Hah, untunglah.
"Emang paketnya apaan Yah?".
"Kemarin ayah sama bunda pulang dari Batam. Ada acara disini, sekalian ketemu sama tante dan diajak jalan-jalan". Ohh oleh-oleh khas Batam pasti.
"Untuk aku gak ada ya?". Tanya gue. Ayah malah terkekeh diseberang sana.
"Ada, ada kok". Gue pun bersorak senang. Setelah mematikan sambjngan telepon, gue menunggu kurir paket yang akan mengantarkan ke kampus.
"Ify ya?". Gue menoleh dan mendapati seorang gadis menyapa gue. Lantas gue tersenyum ramah.
"Iya!--".
"Aku Katrina, teman sejurusan Rio". Senyum gue langsung pudar ketika dia memperkenalkan diri. Runtuh sudah mood gue. Jangan salahkan karena gue lagi hamil ya. Gue tonjok lo pada!
"Ada perlu apa?". Tanya gue tanpa basa basi. Udah basi duluan. Gue emang tipe cewek pencemburu. Gak heran gue gak suka kalau apa yang gue punya di lirik oleh orang lain. Gue selalu memantau segala sesuatu yang menjadi warning untuk hubungan gue dan Rio. Sekali lagi, jangan salahkan hormon kehamilan ini.
"Ehmm, kamu sibuk gak?".
"Iya! Aku mau bimbingan". Dia terlihat sungkan ketika berbicara dengan gue. Entahlah, gue mikir gitu aja.
"Aku pinjam waktu kamu sebentar, mau ngomong boleh?".
"Bukannya dari tadi udah ngomong ya?". Dia terdiam.
Tepat pada saat itu ponsel gue kembali bergetar dari nomor tak dikenal, gue rasa dari kurir paket. Dan benar saja, ketika gue mengangkat panggilan tersebut dia sudah berada di depan gedung laboratorium.
Setelah mengambil paket, gue kembali ke dalam dimana si Katrina itu masih ada "sorry gak bisa sekarang, jadwal bimbingan ku mau mulai". Tampaknya Katrina mengay pasrah lalu melepaskan gue ke ruangan om Dewa.
***
"Pagi om Dewa!". Sapa gue saat gue sudah berada di ruangan. Beliau tersenyum ramah.
"Hai Alyssa! Gimana kabar kamu? Kabar cucu-cucu om?". Gue terkekeh sembari mengelus perut ini.
"Alhamdulillah baik-baik saja om. Kami sehat semuanya. Om sendiri apa kabar? ".
"Alhamdulillah sehat juga. Kamu bawa apa itu?".
"Ini paket dari ayah untuk Om Dewa". Gue menyerahkan paket yang di bungkus menggunakan plastik hitam. Beliau sedikit bingung dan mungkin bisa dibilang penasaran dengan isinya.
"Ayah sama bunda pulang dari Batam, Om. Oleh-oleh buat om katanya". Beliau langsung tertawa ketika mendengar kata oleh-oleh.
"Nanti om telfon ayah kamu--". Gue mengangguk santai.
"Oh iya, ini hasil dari bab 4 nya om!". Gue memperlihatkan proposal gue yang sudah sampai bab 4. Beberapa hari disekolah, gue sudah menyelesaikan penelitian dan tak sulit menurut gue, karena pihak sekolah mempermudah jalan gue. Alhamdulillah.
Om Dewa mengecek tulisan yang gue buat, kami terlibat diskusi hingga jam makan siang tiba.
***
Saat makan siang, gue sudah berjanji dengan Shilla, Agni dan Via untuk makan bersama. Sudah jarang kami kumpul berempat, biasanya dulu sebelum tahun akhir kamu sering makan Sama-sama, hangout. Tapi semenjak sudah lengser dari organisasi dan menyandang gelar anak tahun akhir, kami disibukkan dengan urusan masing-masing.
"Kita makan dimana nih?". Tanya Shilla.
"Di kantin biasa aja yuk! Kita pesen duluan, biar nanti Agni sama Via langsung makan pas mereka dateng". Shilla mengangguk setuju dengan ide gue. Agni sedang menemani Via untuk menjemput Joan karena anak wanita itu ada di tempat penitipan anak.
Biasanya Via akan meninggalkan Joan bersama mertua wanita itu, tapi karena mertua via sudah pindah alias pulang kampung, yang mengurus Joan saat via ke kampus dan Alvin mengajar di kampus sebelah tidak ada lagi. Alhasil, sepasang suami istri itu sepakat menitipkan jagoan mereka di tempat penitipan anak dekat dengan kampus kami.
"Cembokur lo liat suami lo duduk sama cewek lain?". Tebak Shilla tepat sasaran. Masalah gue melihat Rio dan katrina duduk berdua, eh enggak berdua juga sih. Mereka berempat. Si katrina itu duduk di sebelah Rio. Dan itu deket banget.
"Menurut lo aja dah!". Sahut gue malas. Tak lama Via dan Agni datang. Ada Joan juga.
"Salam dulu sama tante-tante nya, Bang". Kata Via. Joan pun patuh dan menyalami gue dan Shilla.
Semenjak Joan lahir, kami bertiga mendapat panggilan khusus. Contohnya Shilla, karena gayanya yang lebih modis dibanding kami bertiga, dia mendapat panggilan 'Mami'. Agni yang gaya nya agak setengah girly gitu dipanggil 'Aunty'. Sedangkan gue yang sudah menikah dan akan punya anak di panggil "Bunda".
Ahh, bahagia nya.
"Joan apa kabar nak?". Tanya gue. Dia anak yang penurut dan mudah akrab dengan siapa saja.
"Baik bunda! Adik bayi nya kapan kelual bunda?". Joan bertanya dengan bahasa cadel nya. Khas anak usia 2 tahun. Dia termasuk anak pintar.
"Tiga bulan lagi, Jo. Sabar ya nak". Dia mengangguk antusias. Jo mengelus lembut permukaan perut gue. Seperti ada kupu-kupu yang beterbangan. Lucu sekali.
"Nih pesanan udah ada. Ayo makan!". Kata Shilla. Sedang lahap-lahapnya gue makan, dua orang manusia datang menghampiri meja kami. Salah satunya orang yang seranjang dengan gue.
"Hai Ify! Ketemu lagi". Damn it! Kenapa Rio bawa si katrina itu di saat mood gue lagi gak bagus sih?
***
#SalamAnakRantau
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabula Rasa
Chick-LitMenolak lupa akan rasa yang pernah singgah. percayalah, tidak semua persinggahan menjanjikan kenyamanan. tapi ini, aku menemukan rasa ternyaman untuk tetap tinggal disisi mu.
