Ify's side ya gaes..
.
.
.
.
.
.
**
"Faris?".
"Ya".
"Apa kamu sudah move on dari aku?".
Setelah bertanya demikian, gue ketar ketir menunggu jawaban Faris. Tiga detik berlalu Faris hanya tersenyum dan memeluk gue secara tiba-tiba.
"Aku sayang kamu, Fy!". Dada gue seperti dihantam godam tak kasat mata. Sakit rasanya mendengar dia bilang sayang sementara posisi kami tak lagi bisa bersama.
"Apa kamu sayang aku juga Fy?". Dia malah bertanya saat kami masih dalam mode berpelukan. Demi apa gue malah diam gini? Kok jadi kaku?
"Kamu belum jawab pertanyaan ku tadi". Cicit gue dalam pelukan nya.
Faris pun semakin mengeratkan pelukan nya membuat gue dirundung gelisah. Takut kalau ada yang memergoki kami saat ini.
"Bisa kamu lepas kan aja dan jawab langsung?". Pinta gue. Faris akhirnya menurut dan melepaskan pelukan nya.
Kami saling menatap dengan penuh kerinduan. Eh rindu? Apa iya? Malah sekarang gue sanksi dengan rindu itu.
"Sejak kamu memutuskan untuk bersama orang lain, jujur hati ku gak pernah baik-baik aja Setelahnya". Gue mengalihkan pandangan ke arah lain. Tak sanggup untuk menatap mata sipit nya yang menatap sendu ke arah gue.
Air mata gue lolos begitu saja "Jangan seperti ini, Faris. Aku mohon". Lirih gue tak enak.
Gue akuin kalau gue memang merindukan Faris. Tapi gue harus memahami posisi sekarang yang sudah berbeda. Demi Tuhan gue gak bermaksud untuk menduakan Rio. Gak sama sekali. Entahlah, rindu itu datang tiba-tiba saja.
"Aku harus apa Fy? Sudah setahun belakangan ini aku mencoba lepas dari bayang-bayang kamu tapi gak pernah bisa!". Kata Faris nyaris putus asa.
"Itu karena kamu gak bener-bener usaha, Ris!". Dia menatap gue dengan pandangan remeh.
"Gak usaha kata kamu? Tau apa kamu tentang aku setelah kita berpisah, Fy? Enggak ada, gak ada sama sekali!". Bentak nya. Gue terkejut lantaran baru kali ini dia membentak gue. Praktis, gue semakin menangis terisak dengan menundukkan kepala.
Sekali lagi Faris memeluk gue, menumpahkan gejolak yang ia pendam selama ini. Gue gak membalas tindakan nya ini karena gue terlalu syock.
"Kamu tau akan seperti apa akhirnya kalau kamu tetap bersikukuh dengan rasa yang gak pernah kamu relakan ini, Faris". Bisik gue.
"Kamu sendiri gak menampik pelukan kita sekarang, Fy. Aku tau kamu merindukanku juga atau mungkin kamu juga masih mencintai aku". Kata nya
"Cinta dan rasa sayang aku bukan lagi untuk kamu, begitu pula sebaliknya. Aku bukan lagi milik kamu".
"Kamu---".
"Karena Ify milik gue dan selama nya akan tetap begitu!". Gue terkejut bukan main saat suara familiar itu menggema di sudut pendengaran gue.
Cepat-cepat gue mendorong Faris dan menatap Rio dengan berkilat emosi dihadapan kami.
Gue gelagapan, tentu saja. Rasa bersalah langsung melingkupi gue saat ini.
"Hai Pak Gub! Sudah lama gak ketemu ya!". Sapa Faris tanpa beban. Demi Tuhan dia baru aja meluk istri rival nya ini. Dan dia bisa sesantai itu.
"Masuk ke mobil Fy!". Kata Rio. Gue menunduk takut karena aura permusuhan yang tercipta. Tanpa menunggu perintah dua kali, gue pun memasuki mobil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tabula Rasa
Romanzi rosa / ChickLitMenolak lupa akan rasa yang pernah singgah. percayalah, tidak semua persinggahan menjanjikan kenyamanan. tapi ini, aku menemukan rasa ternyaman untuk tetap tinggal disisi mu.
