Epilog

1K 43 20
                                    


Ify's side ya gaes..

.

.

.

.

Hari ini gue akan bimbingan dengan mahasiswa, seperti yang sudah gue janjikan kemarin. sebelum jam 10 pagi, gue ke tempat penitipan anak dulu. Tiba-tiba suster yang biasa mengasuh Naren dan Nanda mengabarkan kalau mereka berdua menangis ingin pulang. Gue gak bisa melepas waktu hari ini karena gue akan mengajar sampai jam 3 sore. Kebetulan Rio juga sedang kosong dan dia bisa menemani gue menjemput si kembar.

"Tumben ya Mam, mereka pengen pulang gitu? Biasanya betah sampai sore". Kata Rio bingung, sama bingungnya dengan gue. Tapi ya sudah lah, mungkin mereka mulai bosan. Ini pelajaran untuk kami berdua. Meskipun bekerja keras, anak-anak tetap tidak boleh dilalaikan begitu saja.

"Enggak tau deh! Hari ini kita cuma sampai jam tiga kan, jadi bisa lah pulang cepat". Sahut gue yang diangguki Rio.

sesampainya di tempat penitipan, gue keluar terlebih dahulu. Ada Suster Binar yang menunggu didepan bersama Naren, tak terlihat Nanda dimana.

"Mama!". Panggilnya sedikit berteriak lalu menyongsong gue. Dia memeluk gue dengan erat dan menangis sesegukan.

"Cup sayang... Abang kenapa? kok nangis?". tanya gue. Naren diam saja dan gue menatap Suster Binar meminta jawaban.

Beliau tersenyum lembut "Tadi Naren cekcok sama sama temannya, karena ada yang gangguin Nanda. Nanda juga nangis, tapi udah tenang kok didalam". Kata Suster Binar yang membuat gue menghela nafas pendek.

"Cekcoknya kenapa, Suster?". Naren beralih kedalam pelukan Rio sementara gue kedalam mengikuti Suster Binar.

"Biasalah, Bu. Masalah mainan. Nanda gak mau ngasih mainannya karena dia berpikir setiap mereka sudah punya masing-masing, jadi gak perlu pinjam sana sini. Lalu, temannya ini marah dan nyubit Nanda. Sebagai kembarannya, tentu Naren marah karena Nanda di cubit gitu aja. Alhasil mereka cekcok khas anak-anak". Jelas Suster Binar. Gue melihat Nanda yang bermain sendiri disudut keranjang. anak itu asik dengan dunianya tanpa mau ikut dengan teman-temannya.

"Sekarang temannya itu gimana, Suster?".

"Sudah dijemput pulang oleh Mama nya. Dia menyampaikan permintaan maaf ke Ibu Ify, gak enak dengan sikap anaknya". Gue mengangguk paham. Setidaknya Nanda sudah baikkan.

"Tapi mereka berdua minta pulang, katanya pengen dirumah aja. Naren juga merasa bersalah karena gak bisa melindungi adiknya, tadi dia cerita ke saya". Suster Binar melirik Naren yang digendong Rio.

"Manja mereka sepertinya kumat, Sus!". Keluh gue. Suster Binar tertawa pelan. Lalu gue pun menghampiri Nanda, tapi langkah gue sedikit melambat karena ada seorang anak perempuan cantik yang lebih dulu menghampirinya.

Anak perempuan itu berjongkok dan memberikan sebuah susu coklat untuk Nanda. Kalau dilihat, usianya di atas Nanda satu atau dua tahun. Dia begitu manis dengan lesung pipi dan mata yang sedikit sipit. Nanda menerima pemberian anak itu dan bergumam terimakasih. Setelahnya anak perempuan itu undur diri.

"Nandana Fidelis". Panggil gue. Jagoan kesayangan gue itu berbalik menatap gue dengan senyum cemerlangnya. Bisa gue lihat sisa-sisa airmata yang membekas di pipi chubbynya.

"Mama!". Dia memeluk gue dengan erat sembari mencium pipi gue.

"Adek kenapa? Kok nangis? Berantem ya?". Dia mengangguk kecil lalu sendu diwajahnya muncul.

"Maafin Adek ya, Ma! Adek nakal gak ada Mama sama Papa". Katanya pelan. Gue tersenyum lembut lalu mengelus surainya.

"Mama maafin! Lain kali ngalah aja ya! Biar aman, biar gak barentem lagi! Kita boleh ngalah, karena mengalah belum tentu membuat kita kalah, Nak". Jelas gue. Nanda mengangguk patuh dan kembali memeluk gue.

Tabula RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang