Bagian 6

57.6K 3.9K 33
                                    

Sejak pertemuan hari sabtu, aku sama sekali belum bertemu Mas Raksa hingga saat ini. Alasannya karena pingitan yang harus kami lakukan. Lagi pula, kalau bertemu pun mungkin hanya membuatku canggung atau salah tingkah. Mengingat tatapan terang-terangan yang dia lakukan seperti saat itu membuat perasaanku tak karuan.

Lima hari belakangan kegiatanku berpusat kepada kecantikan diri dan melakukan beberapa persiapan.

Perawatan badan ke salon, fitting baju pengantin di butik dan juga persiapan mental. Benar-benar kegiatan yang sudah dirancang baik oleh keluargaku untuk membuatku sibuk.

Tidak lupa setiap hari mendengar petuah-petuah dari Bapak, Ibu dan keluarga besarku. Mengenai menjaga keutuhan rumah tangga dan tentunya tugas seorang istri. Bagaimana menjadi seorang istri yang baik, dan juga akan menjadi seorang Ibu nantinya.

Melihat persiapan pernikahan yang sudah sepenuhnya siap, tinggal perlaksanaan di hari yang sudah ditentukan, membuatku merasa bahwa pernikahan ini disiapkan terlalu berlebihan. Juga ada kesan mewah yang aku rasakan.

Semua keluargaku sudah mulai berdatangan sejak dua hari yang lalu. Ada yang menetap dirumahku dan ada pula yang menempati kamar hotel tempat resepsi pernikahan akan dilaksanakan.

Mengingat dulu saat pernikahan Bang Wahyu, Abang sepupuku, rasanya tidak terlalu berlebihan seperti ini. Padahal keluarga Bang Wahyu merupakan keluarga yang jauh lebih berada dibandingkan keluargaku.

Apa Bapak dan Ibu tidak kesulitan dengan biaya pernikahan ini?

"Kenapa Vi? Kamu seperti ada yang dipikirkan."

Aku menoleh, mendapati Ibu yang menatapku dengan heran. Aku saat ini tengah melamun sendirian diruang keluarga. Mataku memang tertuju ke layar televisi, sementara pikiran sudah melayang kesana kemari.

Mengabaikan bunyi telapak kaki beberapa keluargaku yang berjalan. Suara anak-anak yang sedang bermain. Dan juga suara para artis ditelevisi yang harusnya mampu membuatku ikut sedih dan geram dengan kisah cerita yang diperankannya.

"Gak pikirin apa-apa, Bu," ucapku berbohong.

"Lamunan kamu itu panjang loh, Vi. Ibu perhatikan kamu dari tadi. Jujur saja sama Ibu, apa yang lagi kamu pikirkan?"

Dari pada menyimpan sendiri, lebih baik aku tanyakan langsung. Aku menghela nafas. "Entah kenapa aku merasa pernikahan ini terlalu mewah, Bu. Melihat persiapannya yang begitu ribet, tempat resepsinya dan semua hal yang berkaitan dengan pernikahan, bukankah ini membutuhkan biaya besar?"

Ibu ikut duduk disebelahku. Menyandarkan badannya ke sandaran sofa, tapi dengan kepala yang menghadap kearahku. Wajahnya sedikit terlihat lelah.

"Memangnya kenapa?"

"Apa Bapak sama Ibu gak masalah sama biayanya? Ini pasti menghabiskan banyak uang."

Bapak yang berjalan kearahku dan Ibu tersenyum, sepertinya mendengar perkataanku. Bapak segera duduk disebelahku.

"Raksa sendiri yang membiayai pernikahan ini. Awalnya Bapak sudah menolak, karena ini pernikahan kamu, putri Bapak. Bahkan Bapak sudah bersikeras bahwa kedua keluarga yang harus mengeluarkan uang, bukan hanya Raksa sendiri."

"Iya, Vi. Raksa sendiri yang membiayai seluruhnya. Ibu gak tau gimana Raksa bisa membuat Bapakmu ini akhirnya luluh setelah pembicaraan panjang yang menghabiskan waktu," sambung Ibu yang membuat Bapak terkekeh.

Aku mengernyitkan kening. "Memang Mas Raksa kerja apa, Pak? Kenapa bisa begitu mampu membiayai seluruhnya?" tanyaku.

Aku rasa Mas Raksa bukan orang biasa mengingat Mas Raksa sendiri yang membiayai pernikahan ini. Bisa juga dia cuma orang biasa, karyawan kantor atau seorang PNS. Tapi tentu saja butuh waktu lama untuknya menabung agar pernikahan seperti ini bisa terlaksana.

Mungkinkah Mas Raksa sudah menabung sejak lama untuk pernikahannya? Aku agak sedikit meragukannya.

Harga sewa ballroom hotel sepertinya tidak lah murah. Malahan kalau dilihat-lihat pasti begitu mahal karena hotel itu, salah satu hotel besar. Belum lagi sewa kamar untuk kedua keluarga yang jumlah kamar yang dipakai tidaklah sedikit. Tidak hanya untuk menginap semalam, tapi beberapa hari.

Makanan untuk resepsi pun dari restoran terkenal di kota ini, yang sekali makan disana akan menguras dompet. Belum lagi souvenir, dekorasi, baju seragam untuk kedua keluarga besar dan lainnya.

Sekaya apa sih calon suamiku itu?

"Kamu bisa tanya langsung kepada Raksa. Sekalian bisa jadi bahan untuk saling mengenal lebih dekat. Bagi Bapak, yang terpenting dia bisa menghidupi kamu dan mencukupi kebutuhan kamu, Vi."

Aku menoleh kepada Bapak yang duduk disebelah kiriku, juga kepada Ibu yang berada disebelah kananku. "Kenapa Bapak dan Ibu bisa yakin dengan Mas Raksa sehingga menerima lamarannya?"

"Bapak bisa merasakan ketulusan Raksa. Sejak dia berani datang kerumah, mengakui perasaannya didepan Bapak dan Ibu, saat itu Bapak yakin bahwa Raksa adalah laki-laki yang tepat untuk putri Bapak. Dia orang yang mengenal kamu dengan baik setelah Bapak, Ibu dan juga Revan," jelas Bapak panjang, membuatku tak tau bagaimana menanggapinya.

Mengakui perasaan ya? Satu lagi hal yang harus aku cari penjelasannya.

"Ibu dari awal pun sudah yakin dengan Raksa, hanya saja Ibu gak yakin dengan kamu," ucap Ibu disertai dengan tawa setelahnya.

"Kalau bisa Ibu buatkan list, sifat baik kamu mungkin lebih sedikit dibandingkan sifat burukmu. Tapi Raksa sama sekali tidak masalah dengan itu. Membuat Ibu merasa, Raksa yang bisa membimbing kamu menjadi lebih baik, selain Bapak dan Ibu."

"Raksa juga bisa menjadi Imam yang baik untuk kamu. Akhlak dan agamanya juga baik. Setahu Bapak, sifatnya, sikapnya dan tingkah lakunya tidak pernah aneh-aneh," lanjut Bapak.

Berani tatap aku yang bukan mahram nya dengan terang-terangan itu tandanya memiliki agama yang baik gak sih? Atau Mas Raksa saat itu khilaf?

Dan juga, memangnya selain menilai sendiri, dari siapa Bapak bisa tau bagaimana Mas Raksa?

"Tapi aku sama sekali tidak mengenal Mas Raksa Pak, Bu. Mas Raksa hanya seperti laki-laki yang baru aku temui sabtu lalu, yang ternyata sudah memiliki status sebagai calon suamiku."

Ibu mengelus rambutku. "Kalau begitu, mulailah mengenal Raksa seperti bagaimana dia mengenal kamu dengan baik. Ibu akan beri tau kamu satu hal bahwa Raksa dan kamu sebelumnya pernah bertemu. Pertemuan hari sabtu kemarin bukanlah pertemuan pertama kalian. Sisanya kamu sendiri yang cari tau. Kenali dirinya dengan cara kamu."

"Kapan tepatnya aku pernah bertemu dengan Mas Raksa, Bu? Karena aku merasa bahwa sabtu kemaren adalah pertemuan pertama kami," ucapku walau tak yakin. Aku tidak ingat pernah bertemu, tapi juga tidak yakin.

"Kamu bisa tanyakan langsung padanya. Kamu bisa coba untuk mengingat sendiri atau mencari tau dari orang sekitarnya."

Aku menganggukkan kepala paham.

Dua hari lagi adalah hari dimana aku akan menjadi seorang istri, tepat diumurku dua puluh dua tahun. Istri dari laki-laki yang belum aku kenal bagaimana dirinya. Hanya saja berdasarkan ucapan Bapak dan Ibu, ada sedikit keyakinan yang membuat perasaanku terasa lega.

Mas Raksa mengenalku dengan baik. Dan tugasku lah untuk mengenal Mas Raksa sama baiknya.

***

Mas Raksa disimpan dulu sama keluarganya, biar gak tatap-tatap Vivian sebelum resmi halal.

Ntar munculnya pas nikahan aja, biar makin ganteng wkwkwk

Semoga Suka 🤗


Salam Sayang 😘
~fansdeviyy,

P.S you can call me Dev 😉

Taken by Him [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang