14. Malam Yang Panjang

1.7K 154 0
                                    

14. Malam Yang Panjang

Malam ini (namakamu) berniat menceritakan kejadian tadi sore pada salsa. Ia mengotak-atik ponselnya mencari nomor salsa. Setelah ketemu ia langsung mengklik tulisan Call.

5 menit-10 menit-15 menit tidak ada jawaban dari salsa. Aneh, biasanya anak itu tidak pernah tidak menjawab telepon darinya. Dengan inisiatif (namakamu) mengirimkan pesan padannya, berharap salsa akan membaca dan balik menelfon.

Me
Sal, lo kok nggak jawab telefon dari gue?
Gue mau cerita banyak sama lo!
Ini tentang pangeran gue.

(Namakamu) melempar ponsel digenggaman ke samping dirinya. Ia membayangkan wajah iqbaal tadi sore. Saat dia tertawa, terkekeh, dan banyak lagi. Uh! Rasanya (namakamu) ingin mengulang kembali kejadian itu.

(Namakamu) tersentak saat sebuah panggilan masuk. Ia tersenyum kala nama salsa tertera disana. "Halo sal! Lama banget deh jawabnya,"

"Gue tadi sore pulang dianterin iqbaal. Gue sama dia mampir ke restorant dulu malah! Gue sih nganggepnya itu nge-date. Bodo amat kalo dia nganggep cuma makan biasa,"

"Oya! Dia juga bercandain gue, sal. Gue suka banget pas dia ketawa didepan gue! Maklum, biasanya kan gue cuma bisa liat dimedsos, sekarang secara live!"

"Pokoknya gue seneng banget, sal! Sal? Lo kok diem aja? Terus kok brisik gitu sih? Lo lagi nggak dirumah?"

(Namakamu) baru menyadari jika terdengar dentuman brisik disebrang sana. Dimana salsa sekarang? Tumben malam-malam keluyuran.

"Jangan ganggu salsa. Salsa lagi sama gue!" Setelah terdengar suara cowok telepon itu mati dengan sepihak.

Jatung (namakamu) berdebar membayangkan yang tidak-tidak. Ia segera mencari nomer devano dan menelfonnya. Saat ini hanya devano yang hanya bisa membantunya.

Nomer devano tidak aktif. (Namakamu) melirik jam yang menunjukan pukul 22.45 malam. Mungkinkah devano sudah tidur? Ia menatap Cindy yang sudah pulas disampingnya

Tanpa menunggu lama (namakamu) menyambar jaket dan kunci mobilnya. Ia menuruni tangga dan bertemu dengan Renata dan Reno-sang papa.

"Mau kemana dek malem-malem?" Tanya Renata sambil menatap putrinya

"Aku mau ijin keluar sebentar mah, pah. Boleh, kan?"

Reno mematikan televisi disebrang meja. Ia memandang (namakamu) sambil menggeleng. "Kembali ke kamar, dek."

(Namakamu) menyatukan telapak tangannya bermaksud memohon. "Pleas, yah. Sebentar doang kok. 20 menit,"

"Adek, udah malem. Papa nggak bakal ijinin. Udah masuk ke kamar," tegas Reno

"Ini gawat, pah." (Namkamu) memforsir otaknya untuk mencari alasan. "Buku catetan aku disalsa. Besok kan ada pelajarannya,"

(Namakamu) berharap Reno akan percaya dan mengijinkannya untuk keluar sebentar. Masa bodo jika ia ketauan berbohong, sekarang yang paling penting adalah sahabatnya.

Reno melipat tangannya didepan dada. "Papa dulu juga pernah muda, dek. Sejak kapan kamu berani bo'ong sama papa?"

Glek!

(Namakamu) menelan salivanya kuat-kuat. "Aku-aku nggak bo'ong pah. Bener deh, aku janji nggak bakal lama,"

Reno mengangguk. "Masuk ke kamar adek!"

"Papah salsa bahaya! Salsa dalam bahaya! Tadi aku nelfon dia, tapi yang ngangkat cowok. Gimana kalo entar dia diapa-apain?" (Namakamu) sudah tidak bisa menahanya lagi. Ia berharap Reno langsung mengijinkannya

IMPOSSIBLE (IDR><NK)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang