35. Labirin
Note : Komen sebanyak-banyaknya kalo mau aku upload besok malam!
"Disini kamu masih ingusan. Aku inget banget waktu kamu ketawa sampe ingusnya keluar!"
Devano tertawa ringan. Bukannya tersinggung dengan pernyataan teman lamanya ini, justru perkataan itu menjadi boomerang yang berbanding balik.
Duduk meminum kopi susu late dicaffe terdekat rumah, mengobrol ria, bercanda riang, saling mengenang masa lalu, itulah yang dilakukan Devano saat ini dengan Qila.
Qila, teman kecil Devano dimana sesuatu hal penting membuatnya pergi ke luar negeri sampai beberapa tahun, dan ini adalah kali pertamanya ia menginjakan kaki dikota Jakarta lagi. Rindu? Sudah pasti! Rindu dengan suasana, teman-teman, dan keadaan.
Senyuman manis terbit dibibir Devano ketika memandangi wajah imut Qila yang sedang memainkan bibir-kebiasaannya sejak kecil jika melamun. Masih sama, Devano merasa perempuan didepannya ini adalah gadis kecil berambut pendek. Yang membedakan hanya fisik yang semakin cantik dan anggun.
"Oya!" Seru Qila mengeluarkan sesuatu dari tas kecil. "Ini ada beberapa universitas terbaik yang udah aku pilih tercocok buat kamu. Dulu kamu minta aku nelisikin beberapa kampus disana, kan?"
Devano mengangguk. "Kamu bener-bener udah nelisikin lebih dalem?"
"Udah. Setiap ada waktu luang, aku selalu keliling liat-liat kampus disana demi kamu!"
"Harus dong. Aku kan sahabat terbaik dan terganteng kamu."
Qila mendesis. "Jangan pede!" Tangannya mengobrak-abrik rambut Devano.
"Biarin. Didepan aku cuma ada kamu ini jadi gak perlu jaga image. Kamu kan udah tau bebet bobot nya aku. Jadi kenapa harus sok pura-pura cool? Yang ada kamu bully aku."
Qila terkikik kecil. "Oh begitu, ya? Syukur deh kalo nyadar. Lagian mana ada cewek yang tergila-gila sama tampang kamu!"
"Dih?" Mata Devano menyorot Qila tidak terima. "Belum aku tunjukin aja. Nanti kalo aku tunjukin kamu bisa pingsan ditempat. Karena cewek yang suka sama aku itu sebelah dua belas kayak member black pink."
"Oh Woww! Dia khilaf?"
"Qilaaaaaa," rengek Devano menyadari Qila terus menggoda dirinya.
Merasa keganjalan, Qila menyentuh mata serta dahi Devano. "Kamu lagi gak enak badan? Pucet begini."
"Enggak."
"Enggak Qila. Aku itu udah biasa begini. Apalagi kalo kena sinar matahari, bisa kebakar." Canda Devano.
"Ish! Emang kau vampir!"
*****
Saranghae (N) from I
"Kamu tau kenapa aku tulis tulisan ini dipohon beringin ini?" Tanya Iqbaal.
(Namakamu) menggeleng meski sejujurnya ia sangat bahagia menulis tulisan ini disini. "Enggak. Emang kenapa?"
"Katanya pohon beringin itu banyak hantunya. Jadi, kenapa aku tulis disini itu biar kamu selalu dihantui sama muka aku." Gurau Iqbaal.
"Ih! Gak lucuuuu,"
Iqbaal tertawa renyah. Posisi mereka kini sedang didepan labirin besar dimana nantinya ia akan berpisah dan mencari jalan sendiri-sendiri agar bisa terbebas dari tempat itu.
Namun, bukan Iqbaal kalau tidak menuangkan bucinannya terlebih dahulu. Jelas Iqbaal tidak mau dikalahkan oleh Dilan. Dilan saja bucin masa Iqbaal tidak.

KAMU SEDANG MEMBACA
IMPOSSIBLE (IDR><NK)
Roman pour AdolescentsIqbaal menggeleng dan melepaskan jaket yang ia pakai lalu mengikatnya dipinggang (namakamu) sehingga menutupi bagian paha. "Bukan apa-apa, cuma mau nutupin paha lo doang," ujar iqbaal disela-sela kegiatannya Seteah selesai ia berdiri mengsejajarkan...