17. Kangen Kak Iqbaal (2)

2.1K 182 8
                                    

17. Kangen Kak Iqbaal (2)

(Namakamu) mengetuk-ketukan sepatunya pada trotoar taman. Matanya menyapu area taman mencari seseorang yang berjanji akan menyusulnya beberapa menit lalu. (Namakamu) menghela napasnya gusar, apakah iqbaal sudah dibumi hanguskan oleh anak-anak georbit?

(Namakamu) menggeleng, ia menggapai tasnya beranjak untuk berdiri. Saat ini yang harus dilakukannya adalah menghampiri iqbaal dan melihat keadaannya.

"Mau kemana?"

Suara berat tersebut membuat (namakamu) mengurungkan niatnya. "Kak iqbaal?"

"Gue kan udah nyuruh lo buat nunggu disini, terus lo mau kemana?"

(Namakamu) tersenyum tipis. "Aku tadinya mau nyusulin kak iqbaal. Aku kira--kak iqbaal abis sama anak-anak georbit."

Iqbaal tertawa ringan. Entah mengapa hatinya menghangat mendapatkan sebuah perhatian dari gadis mungil didepannya. "Gue nggak papa. Lagian kan gue udah janji nyusulin lo, bukan lo yang nyusulin gue."

Iqbaal mendudukan tubuh pada bangku taman. Ia menarik pergelangan (namakamu) agar duduk disampingnya. Cowok itu memberikan kotak p3k yang berada ditangannya. "Gue tadi nyari ini dulu,"

"Oh, itu alasannya kak iqbaal lama?"

Iqbaal mengangguk. "Tolong obatin,"

"Aku?" (Namakamu) menunjuk dirinya sendiri. "Aku--nggak jago obatin orang, kak."

Bukannya bohong, (namakamu) memang tidak mahir dengan urusan obat-mengobati. Pernah sekali ia mengikuti eskul PMR dan ya! Tidak sampai seminggu namanya sudah keluar dari anggota eskul tersebut. (Namakamu) paling ngeri melihat luka-luka lebam apalagi sampai berdarah.

"Cuma bersihin, kasih obat merah, plester doang masa nggak bisa,"

(Namakamu) menyerinyit. Ia memandang iqbaal dengan tatapan menyelidik. "Itu kak iqbaal tau, kenapa harus minta tolong ke aku?"

"Adeknya vanessa nggak tau terima kasih banget sih." Sindir iqbaal. "Kalo tau begini mending nggak usah ditolongin,"

Raut wajah (namakamu) mencibir. Ia merampas kotak p3k dari genggaman iqbaal. Dengan telaten ia mengobati luka cowok yang sudah membatunya. Pandangannya fokus pada luka-luka lebam diwajah sang idola. Dalam hatinya terus menahan gemuruh bahagia yang rasanya ingin meledak.

Tatapannya tidak sengaja bertemu dengan mata elang iqbaal. Dengan sengaja ia menekan salah satu luka iqbaal. "Kalo nggak ikhlas, mending nggak usah nolongin."

"Bukan ke aku aja, tapi ke semua orang." Sambungnya

Iqbaal diam tak memikirkan ucapan (namakamu). Sampailah (namakamu) untuk mengobati bagian pelipis cowok itu. Tangannya gemetar namun segera ia menetralisirnya. "Kak iqbaal,"

"Hm,"

"Kak iqbaal nggak sayang apa?"

Alis iqbaal menyatu. "Sayang?"

"Iya. Muka kakak 'kan ganteng--ganteng banget malah. Sayang kalo ada lebam-lebam begini," ucap (namakamu) dengan polosnya

Dalam diam iqbaal tersenyum. Ia memilih untuk tidak menanggapi obrolan (namakamu) yang menurutnya berlebihan.

"Makasih,"

(Namakamu) mengangguk. "Sama-sama."

Iqbaal membereskan kotak p3k, selepas itu ia menggandeng (namakamu) meninggalkan taman. Ia memasuki mobil bersama dengan gadis yang ia bawa.

Buru-buru (namakamu) mengeluarkan ponselnya. Ia merekam isi mobil iqbaal, mengambil foto iqbaal diam-diam, membuat instastorry untuk ditujukan kepada salsa.

IMPOSSIBLE (IDR><NK)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang