Chapter 4

2.7K 347 140
                                        

Kebosanan melanda dua gadis cantik yang sebelumnya bercengkerama di kediaman Sakura. Hinata mengajak Sakura menemaninya ke salon. Memilih taksi untuk mengantar ke tempat tujuan, keduanya tak ingin merusak suasa hati bila menaiki bus yang pasti memakan waktu lebih lama di perjalanan. "Kau yakin mau mewarnai rambutmu, Hinata?

"Kalau kubiarkan, dalam waktu dekat ini orang suruhan Ibu pasti menemukanku."

"Aku hanya heran, biasanya kau langsung mengamuk jika sesuatu terjadi pada rambutmu. Dan sekarang kau sendiri yang menginginkannya. Apa sebaiknya tidak menggunakan wig saja, Hinata?"

"Masih berisiko, bisa saja terlepas dan penyamaranku langsung ketahuan. Kurang efisien juga, pekerjaanku sebagai asisten aktor, aku tidak mau mengundang kecurigaan si Rubah Seksi itu. Hah...! Aku lupa satu hal, pasti dia marah besar begitu tahu aku yang menggantikan asisten lama." Hinata mengambil satu tarikan napas penuh. Kuurus nanti, aku pasti bisa menaklukkannya.
"Kau tahu apa yang membuatku yakin melakukan ini?"

"Untuk penyamaranmu."

"Bukan hanya itu. "Ibuku sama populernya dengan public figur. Apa kau lupa fisikku dengan Ibu sangat mirip, Sakura? Bayangkan saja jika mereka melihatku dan berpikir kalau aku adalah Ibu. Bukan hanya penyamaranku yang terbongkar. Ibu akan langsung memaksaku pulang saat itu juga, apapun caranya."

"Ya, aku tau itu. Kalian malah seperti saudara kembar. Bibi Hanna terlalu cantik untuk seorang wanita seusianya."

"Ibu memang sangat cantik. Aku sendiri mengaguminya."

Taksi berhenti tepat di depan salon kecil dan sederhana. Hinata yang meminta Sakura mencarikan salon biasa untuk menghindari keramaian. Tapi, tempat ini bukanlah salon sembarangan. Kualitasnya patut diacungi dua jempol. Pemilik sekaligus Hair stylist bernama Deidara, tak diragukan lagi kemampuannya. Meskipun orang-orang tak menyadari bahwa dia adalah direktur sekaligus pemilik salon Colour Me Crazy. Salon tersebut sangat terkenal di kalangan atas. Para artis ternama, sosialita bahkan pejabat kota banyak yang menjadi pelanggan tetap di sini.

"Sakura, kau tidak salah?" tanya Hinata heran.

"Kau ini bagaimana sih, Hinata. Mintanya yang tidak mencolok, ya ini tempatnya."

"Ehm... tapi, ini terlalu biasa menurutku. Kalau rambutku rusak bagaimana? Kita cari yang lain saja, ya?"

"Hanya satu-satunya." jawab Sakura agak menekankan nada suaranya. "Kau akan terkejut begitu masuk, jangan menilai tampilan luarnya saja. Kalau kau tau siapa hair stylistnya, aku yakin kau pasti senang." ucapnya mantap.

Hinata mendengus malas. "Baiklah, kita lihat dulu."

.
.
.

"Hai, Saki?! Bagaimana kabarmu, sayang? Hair mask, hair spa, hair cut, yang mana kali ini?"

"Dei...! Aku membawa temanku." balasnya ramah sembari tersenyum. Jangan mengecewakannya, ya. Dia sempat meragukanmu tadi." bisik Sakura agar Hinata tak mendengarnya.

Dehaman yang cukup keras terlepas dari tenggorokan Hinata. "Apa yang kau rencanakan Sakimo? Kau mau mengerjaiku?"

"Eh, Sakimo?" tanya Deidara yang heran dengan sebutan aneh tersebut.

"Siapa lagi kalau bukan..." kalimat Hinata terhenti begitu Sakura membungkam mulutnya.

"Sakura! Kau membuatku sesak." pekik Hinata begitu tangan Sakura terlepas dari mulutnya.

"Jaga bicaramu, Hinata. Jangan merusak reputasiku di tempat lain."

"Kau duluan yang memulainya, mencurigakan sekali berbisik-bisik di depanku."

Loving with OCD Guy ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang