Terima kasih untuk kalian yang masih memberi apresiasi pada cerita ini 🧡
▪
▪
▪
Pertengkarannya dengan Hinata pagi kemarin menyebabkan suasana hati Naru berubah dingin. Ia kehilangan semangat dan tampak kurang berminat pada hal apa pun. "Kau persis bocah kecil kalau masih juga berwajah kusut seperti itu. Mau kubelikan es krim atau permen agar kau merasa lebih baik?" Itachi mengimbuhkan mendapati sikap Naru yang tampak membosankan baginya. "Kau bukan remaja belasan tahun lagi, dewasalah sedikit Naruto. Kau harus memafkannya... Nako yang akan menemanimu semasa di sana. Aku tidak bisa berlama-lama mendampingimu sampai syutingmu selesai. Sara sedang hamil, karena itu aku membawanya ke mansion. Aku tidak bisa melepasmu sendirian, tapi mana mungkin mengabaikan tanggung jawab terhadap istriku." Itachi menerangkan panjang lebar isi pikirannya, kedua tangan pria itu masih berpangku pada stir mobil sembari mengamati Naru dengan serius.
"Aku tahu. Tapi dia sengaja mengerjaiku, berulang kali. Apa dia pikir penyakitku ini pantas ditertawakan? Aku sendiri kadang merasa bosan melakukannya tapi tak bisa kutahan dan semakin lama dia justru menikmati perbuatannya." dengan frustasi Naru mengungkapkan.
"Dia orang baru, butuh waktu untuk memahami keadaanmu. Kalau karena begitu saja kau sudah membatasi diri, lalu bagaimana dia akan tahu? Dia sendiri sudah mengakui kesalahan dan langsung meminta maaf. Saara sampai kagum dengan keberaniannya." Itachi menghela napas. "Lalu apa lagi masalahnya?"
"Aku pernah tanpa sengaja mendengar, dia menggunakan cara licik agar aku menurutinya. Sebelum kejadian kemarin aku menawarkan kesepakatan, dia bilang bisa menyanggupi lalu kupikir mencoba menerima keberadaannya dan memaafkan. Tapi dia malah menganggap semua ini cuma lelucon."
Itachi lagi-lagi mendesah pelan. "Kuharap kau berpikir ulang. Aku tidak tahu harus apa kalau kau juga keras kepala." pria bersurai panjang itu mulai menyalakan mesin mobil, menyetir dengan kecepatan tetap setelah menarik persneling. "Ketua Mei akan membicarakan jadwalmu selama di Seoul nanti, jangan sampai perihal ini merusak konsentrasimu. Jika kau menyelesaikan tugas-tugasmu dengan efektif, aku jamin kau bisa kembali ke Tokyo lebih cepat".
"Baiklah." jawab Naru enteng. Ia membenarkan letak maskernya lalu bersandar pada punggung jok, memilih tidur selagi Itachi mengemudi.
"Ngomong-ngmomg, sudah tahu Sasuke di Tokyo?" Itachi melirik singkat.
"Tidak tahu." jawaban cuek dari Naru.
"Naskah itu miliknya... dia juga yang menunjuk langsung pemerannya." masih bergeming enggan menanggapi, Itachi melihat Naru menutup telinganya dengan earphone.
"Menempatkanku dalam kesulitan ini? Terserah, aku tidak peduli."
□■□■□
Biasanya hanya teh atau kopi yang menyambut kehadiran mereka. Tapi berbeda sekarang, di atas meja tersedia berbagai jenis kue berikut dua gelas kopi dan sebotol air mineral. "Maaf Ketua Mei, aku tidak tahu hari ini ulang tahunmu." Itachi mengungkap rasa sungkannya, ia duduk dengan elegan, mengangkat sebelah kaki dan mengaitkan jemari tangannya.
"Kau salah paham... jamuan ini bukan perayaan. Ada artis baru yang bergabung di agensi. Dia sengaja membawa makanan manis sebagai perkenalan." ketua Mei menjawab kebenarannya.
"Selamat untukmu Ketua Mei. Semoga saja dia artis yang berkompeten juga pragmatis."
"Kuharap begitu. Pihak agensi tidak main-main saat audisi pemilihan talent. Dari puluhan artis, dia berhasil unggul pada tahap pertama. Masa trainee sampai pre debut dia selalu memenuhi harapan, masih muda, cantik dan berbakat." ketua Mei mengimbuhkan dengan antusias. "Aku hampir lupa, dia yang akan memerankan leadfemale... partnermu selama syuting film ini, Naruto. Aku dan penulis mempertimbangkan matang-matang artis yang cocok untuk bersanding denganmu. Bukan berarti aku meremehkan artis senior atau yang setingkat denganmu, hanya saja kriteria tokoh yang digambarkan sangat cocok dengan visual juga kepribadiannya, karena itu kontrak perjanjian langsung disepakati tanpa pemberitahuan awal padamu."
"Semoga saja tidak mengecewakanmu. Aku akan berusaha bekerjasama dan seprofesional mungkin untuk projek kali ini." Naru mengimbuhkan. Dia memang aktor andalan bagi agensi, sebab itu segala kebutuhan dan kenyamanan pula tanpa pikir panjang menjadi prioritas bagi ketua Mei. Meskipun Naru bukanlah artis manja yang suka memanfaatkan karir. Tapi ketua Mei selalu berupaya memberi layanan khusus bagi pria mysophobia tersebut.
"Nama aslinya Miku Shion, nama panggung Shion Angela. Usia dua puluh tahun tapi cukup mandiri kupikir. Dia sedang tidak terikat hubungan dengan pria manapun. Jadi, kriteria pilihan bukan? Angela bukan gadis biasa, dia baru saja menamatkan pendidikannya di perguruan tinggi." ketua Mei memberi sebuah foto pada Itachi.
"Gadis ini yang kau maksud?" tanya Itachi setelah memperhatikan lekat-lekat foto di tangannya, dijawab anggukan pasti oleh ketua Mei.
"Kau lihat, Naruto. Gadis yang cantik, masih muda tapi kupikir tak kalah seksi dengan wanita dewasa." berbeda dengan Itachi yang sumringah, Naruto hanya menatap datar lembar foto itu.
"Dari info yang kudengar, sudah banyak agensi berencana memboyongnya namun dia menolak. Wajah cantiknya berkarakter, itu keistimewaan. Beruntung dia datang lalu mengikutsertakan diri dalam audisi kita. Aku hampir menyerah dan memutuskan Moegi yang memerankan. Tapi penulis juga tidak menginginkan sembarang artis. Besok Angela akan datang, bicarakan secara terbuka dan serius. Ini drama pertamamu bersamanya, aku tidak pernah meragukanmu Naruto, walaupun dengan keterbatasan kondisi, kau tetap menampilkan segalanya dengan sangat baik." ketua Mei menyesap kopinya tenang, suhu panas dari kopi berangsur turut hilang bersama obrolan panjang mereka. "Minum kopimu, Itachi. Terlalu asyik bercerita, aku hampir lupa meminumnya."
"Terimakasih, ketua Mei." Itachi menyesap kopinya pelan kemudian melirik Naru yang tampak berpikir. "Sayangnya jamuan ini sama sekali tak bisa dinikmati Naruto." gurau Itachi demi menghapus suasana kaku yang seketika menguasai begitu ketua Mei selesai dengan pengumumannya. Tawa ringanpun mengudara, menutup pertemuan santai di antara mereka.
□■□■□
Hinata mengelap piring-piring yang sudah dicuci. Dia tak menyangka bahwa Saara adalah wanita menyenangkan. Pasalnya bila diingat dari pengalaman yang pernah ia tapaki, sangat jarang di antara perempuan yang baru saling mengenal untuk akrab, jika bukan menyangkut masalah bisnis. Mustahil baginya lupa, sejujurnya Hinata paham betul tatanan prilaku seorang perempuan terhormat. Bersikap manis dan ramah pula dengan gelagat nan anggun. Iya yakin betul, apa yang dia saksikan dari Saara bukanlah sandiwara semata. Kepribadiannya hangat walau ia sedikit lebih berterus terang.
"Kata Itachi, kau berasal dari tempat lain. Boleh aku tahu?" Saara menuturkan selagi dia menanti timer oven berdenting, ia sedang memanggang daging ayam utuh untuk hidangan makan malam.
"Aku berasal dari desa. Aku juga..."
"Sungguh? Maksudku, aku agak terkejut karena kau bilang dari desa, rasanya aku tidak percaya." Saara meneliti tubuh Hinata dari atas ke bawah. "Eh... maafkan aku, lupakan saja. Anggap tak ada yang kau dengar," senyumnya mengembang, mendapati Hinata berubah gugup ketika dia coba memastikan asal gadis itu. "Orang tua Naruto akan berkunjung ke Tokyo, tapi kau harus janji merahasiakan ini, jangan sampai dia tahu. Bulan depan, setelah pekerjaan paman rampung, bibi bilang akan mengunjungi putera kesayangannya."
"Mereka datang darimana?" sedikit tertarik Hinata menoleh pada Saara.
"Inggris, kampung halaman paman Minato. Karena urusan bisnis dan tuntutan keluarga besar paman, mereka jadi menetap di sana."
"Lalu, Naru...?"
"Awalnya ia berpikir berinteraksi dengan orang banyak bisa mengurangi kelainan itu. Dia lebih suka suasana Tokyo yang ramai, meskipun belum sepenuhnya benar. Tapi, dia menolak keras untuk ikut tinggal di sana. Apa kau tahu, kesepian membuatnya murung, tidak bicara dan enggan keluar. Rumah utama keluarganya bahkan tiga kali lipat lebih besar dari mansion ini." senyum kepuasan terulas di bibir Saara kala timer oven berdenting nyaring. Ia pun mengambil sangat hati-hati daging ayam yang sudah matang untuk kemudian menaruhnya di baki.
"Kau bercanda?"
"Aku yakin sekali ini tidak pantas dijadikan sebuah gurauan."
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving with OCD Guy ✓
RomanceSiapa yang bisa menolak jika harus dihadapkan pada suatu kelainan aneh. Mengidap misofobia bukanlah keinginan Naruto. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan bertolak belakang dengan pekerjaan yang tengah dirinya geluti. Berkutat dengan kamera, lam...
