Chapter 11

1.2K 246 139
                                        

Pagi-pagi sekali, saat cahaya menyilaukan itu menampakkan mentari di sebelah timur. Hinata sudah bangun dan berencana untuk lari pagi bersama Saara. Perempuan itu kini berada di teras, seraya menunggu ia pun melakukan sedikit pemanasan. Hingga akhirnya Saara datang dengan penampilan energik, perempuan cantik itu mengenakan set training berwarna merah marun, dilengkapi dengan sepatu sport putih lalu rambutnya digelung tinggi ke atas. "Selamat pagi," katanya menyapa Hinata. "Maaf ya, Nako. Aku membuatmu menunggu lama." timpalnya lagi.

"Tidak apa, Kak. Sambil menunggumu aku jadi bisa melakukan beberapa gerakan pemanasan. Kau tidak mau mencobanya?" tutur Hinata sembari menyeka sedikit bulir keringat di keningnya.

"Kita langsung lari saja. Tapi Nako... kau tidak keberatan 'kan kalau kita hanya berlari santai." Saara berujar dengan senyum sungkan, sambil ia memegangi perutnya yang membulat.

Hinata menarik napas dalam dan membuangnya perlahan, "Aku mengerti, tenang saja, Kak. Kita lakukan sesuai dengan instruksimu. Aku siap menerima perintah." tutur Hinata dengan wajah ceria, perempuan itu tampak bersemangat hari ini, suaranya terdengar lantang menegaskan staminanya yang meluap-luap.

"Kau ini ya... selalu bisa menghiburku. Aku sungguh senang mengenalmu. Kuharap Naru pun juga merasa demikian nantinya." Saara mengusap-usap bahu Hinata dan membagi senyum manis dari wajahnya yang elok, "Apa dia masih marah padamu?"

Hinata menunduk, "Dia belum mau bicara denganku, tapi pantas kuterima. Yang kulakukan menyakiti harga dirinya, padahal belum pernah kulihat dia marah seputus asa itu."

"Maafkan dia ya, Nako. Dia memang sedikit berbeda. Bukan... tapi benar-benar berbeda. Dia tidak pernah berdekatan dengan siapa pun, penyakit itu membatasi pergaulannya. Kau lihat saja akibatnya seperti apa, dia jadi tidak memahami perasaan orang lain. Aku tahu perkataannya yang sering terdengar kasar. Tapi sebenarnya..."

"Tidak, Kak. Aku tidak berpikir begitu." Hinata menggeleng cepat, "Aku menyukainya, sejak pertama kali bertemu. Dia laki-laki yang lembut, aku dapat melihat itu diwajahnya. Bisa saja dia benar-benar mengusirku, tapi Naru tidak pernah melakukannya. Aku sudah cukup berterimakasih dia mau menampungku di sini." Hinata berujar perlahan, setiap kata-katanya terdengar tulus, apalagi Saara tidak melihat kebohongan di matanya. Hening sejenak, Hinata menghela napas. "Apa yang baru saja kukatakan?" ia bergumam kemudian meremas jari-jarinya.

"Syukurlah... aku lega karena kau tidak membencinya." senyum Saara mengembang. "Ayo, kita terlalu lama mengobrol, hari sudah mulai siang."

"Baiklah... harus tetap bersemangat." Hinata berteriak hingga menyebabkan Saara terkekeh geli. Hinata... kau pasti bisa. Selesaikan ini dan segera pulang, ia meracau dalam hati.

Di balkon, tak ada satupun dari mereka yang menyadari keberadaan Naru di sana. Laki-laki itu sudah lama mengamati dan ia menyaksikan gelagat kedua perempuan tadi. Untaian senyum tipis terulas di bibirnya. Entah hal apa yang mengubah emosinya pagi ini, dia sendiri pun tak yakin. Namun, beruntung senyum dan tawa Hinata nyatanya mampu menghangatkan hatinya yang dingin.

▪▪▪

Itachi tampak serius memantau sekelompok muda mudi berpakaian seragam khusus. Jika diamati dari patron yang menempel, mereka berasal dari perusahaan jasa kebersihan. Grup yang berjumlah tujuh orang tersebut memang kerap disewa untuk mengambil alih dan menuntaskan pekerjaan bersih-bersih di mansion besar itu. Meskipun sesekali bila ada kesempatan, Naru tidak pernah keberatan untuk melakukannya. Tapi, ketidakberadaan Konohamaru menyebabkan intesitasnya berbenah rumah kian berkurang. Bersama Konohamaru saja dia bisa menghabiskan waktu satu sampai dua harian penuh.

Derit pintu samar-sanar terdengar, Itachi mengambil langkah tenang menuju pintu depan. Laki-laki itu tersenyum saat mendapati istrinya sudah pulang. "Bagaimana lari pagimu hari ini?" tanyanya setelah mendekati Saara yang bermandikan peluh. "Luar biasa, kalau Naruto yang melihat ini. Dia pasti tidak mau mengizinkanmu untuk masuk." Itachi mengambil handuk kecil hang tersampir di leher Saara kemudian menyeka seluruh keringat yang tampak di tubuhnya.

Loving with OCD Guy ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang