Sepasang suami istri sedang menikmati afternoon tea di paviliun yang berada di belakang mansion utama. Menginjak paruh baya menyebabkan keduanya lebih sering menghabiskan waktu untuk berleha-leha, seperti kegiatan sederhana ini, duduk santai di tengah keheningan, jauh dari riuh ramai pula rutinitas yang sibuk, hanya benar-benar berdua seakan kualitas kebersamaan boleh jadi berkurang akibat kehadiran pihak lain.
Paviliun yang di dominasi warna putih tersebut merupakan tempat istimewa bagi pasangan Namikaze. Kushina, wanita bersurai merah dan tetap terlihat muda di usia tuanya. Istri dari Namikaze Minato ini menerima gelar kehormatan langsung dari Ratu Inggris sebagai eternal red roses (mawar merah abadi). Sebuah gelar khusus yang ia dapat sebab kecantikan dan keanggunannya melekat kuat tak habis ditelan masa.
Minato sendiri adalah keturunan asli kerajaan, namun ia memutuskan untuk melepas segala gelar kebangsawanan demi kebahagiaan anak istrinya. Pria itu tak menginginkan aturan rumit pula kekangan yang malah dapat membelenggu kenyamanan keluarga, terlebih pada satu-satunya penerus, anak semata wayangnya, Namikaze Naruto. "Kapan kau berangkat ke Tokyo? Sudah mengatur jadwal? Sudah bilang padanya?" pria itu berujar setelah menyesap tenang secangkir early grey jenis teh bercitarasa pahit dan asam yang khas.
"Ibu suri memintaku membentuk manners anak-anak, dia memberi waktu sebulan. Menolaknya juga tidak mungkin, sudah menjadi kegiatan tetap untukku sejak kita meninggalkan istana." pandangannya tak lepas dari sang suami, selesai memaparkan alasan ia menyesap hati-hati cangkir tehnya.
"Aku hampir lupa. Maaf, kalau Ibuku selalu memaksa," raut sesal tergambar di wajahnya. "Harusnya kita tidak usah kembali, kurasa lebih nyaman berada di Tokyo, aku rindu puteraku." Minato menghela napas cukup dalam kemudian menunduk dan tiba-tiba tertawa.
"Kau aneh? Ada apa?" Kushina menatapnya sangat heran.
"Tidak, puteramu membuatku merasa lucu," ia menghentikan tawanya. "Kau ingat apa yang dia lakukan sebelum memelukku?" senyumnya masih mengembang, tapi Kushina belum juga memahami maksud suaminya dan belum lagi bertanya Minato mendengus. "Aku harus mandi dan mencuci tangan tujuh kali. Bukan cuma itu, dia mengujiku dengan detektor bakteri. Setiap kali aku bertanya, alasannya sama. Aku terlalu lama berada di luar, terlalu banyak interaksi, jadi... aku sangat kotor." Minato kembali terbahak. "Naruto mirip sekali denganmu, dulu kau juga begitu. Apa tidak bisa mengubahnya?" ia menjadi lesu, kehilangan semangat.
Kushina menatap prihatin suaminya, akhirnya dia mengerti, Minato hanya ingin lebih akrab dengan putera mereka, bercerita banyak hal, minum kopi atau bir bersama hingga masalah serius perihal perusahaan yang nanti diwariskan pada Naruto. Sayangnya mysophobia itu membatasi semua rencana Minato. "Bersabarlah sedikit lagi, itu tujuanku berkunjung ke Jepang bulan depan. Aku akan mencari dokter khusus yang bisa menanganinya." Kushina mengusap lengan Minato, ia bahkan sangat menyadari bahwa suaminya tersebut memendam kecewa sedari lama.
Banyak waktu berharga yang terlewat semasa Naruto masih berada di Inggris. Kesibukannya di istana membuat sang istri mengambil tanggung jawab seorang diri dalam mengurus putera satu-satunya. Padahal Minato tahu, membiarkan hal ini maka peristiwa yang sama akan terulang. Kushina juga pengidap mysophobia, wanita ini menerapkan cara hidup yang sama dengan sang putera, hingga suatu hari Minato menyadari lalu mengajukan pengunduran diri kepada pihak kerajaan.
"Naruto pasti sembuh, kan? Kau ibunya, aku percaya kau bisa melakukan itu."
"Ayahnya juga berperan besar. Apa kau lupa karenamu aku sembuh?" Kushina menarik napas dan mengembuskannya secara perlahan. "Maaf, salahku terlalu memaksanya hingga menyebabkan dia seperti itu."
"Sudah... tak ada yang perlu disesali. Kupikir kita berdua bertanggung jawab dalam hal ini, tak guna menyudutkan diri masing-masing. Aku pun akan berusaha mencari cara demi kesembuhan Naruto. Bulan depan, kan?" Minato mengamati serius, dijawab anggukan oleh istrinya. "Masih ada waktu menyelesaikan semua pekerjaan, nanti aku coba bicara dengan ayah, kalau boleh kita pergi ke Tokyo bersama."
□■□■□
"Kau sedang apa?" Naru terkesiap saat Hinata tiba-tiba saja menghampiri dan mengejutkannya. Ia mendelik, menggeram marah lalu mengembuskan napasnya singkat.
"Sekarang kau mengakui jati dirimu, iya kan?" Naru bersandar di meja dapur, menyilangkan kaki sembari bersedekap. Memandang angkuh gadis itu dengan alis yang saling bertaut. Tak lama ia mengambil apron lalu mulai mengiris bawang-bawang, paprika, jamur dan jenis sayur lain yang sebelumnya ia persiapkan di atas meja.
"Jati diri? Aku tak paham maksudmu." satu dua langkah ia mencoba mendekati Naru.
"Tetap di tempatmu! Aku bosan setiap kali mengingatkan ini, Sadako. Kau datang diam-diam, tanpa suara, persis hantu." Naru menoleh, "Jadi, kau dengar ini baik-baik untuk yang terakhir kalinya. Hanya tiga meter, itu jarak aman keberadaanmu dariku. Sekarang mundur, kau terlalu dekat." ia mengarahkan, tapi disambut malas oleh gadis itu. Hinata mengabaikan perkataan Naru dan malah santai meniup-niup kukunya yang baru saja dipoles cat kuku.
"Hei, mulut samyang, ramahlah sedikit. Kalau begini terus, aku khawatir orang-orang malah membencimu nanti. Bila penggemarmu melihatnya, kau sendiri yang rugi."
"Kau mengancamku? Kau pikir sejak kapan aku seperti ini? Setahun? Dua tahun? Aku tidak pernah peduli. Terserah apa katamu, kau hanya orang baru." agak mengintimidasi, Naru menekan nada suara, jengah mendapati sikap Hinata yang keras kepala dan seolah tahu segalanya. Ia mengambil wajan berikut spatula lalu memanaskan minyak, kemudian menumis bahan-bahan yang sebelumnya sudah diiris.
"Aku tidak bermaksud, aku tahu kok yang terjadi padamu. Justru itu, harusnya kau mengobati mysophobiamu. Memangnya kau tak ingin sembuh, hidup normal layaknya orang-orang?" Hinata mengimbuhkan, lalu tak ragu untuk duduk di meja makan. "Apa yang kau masak?"
"Tumis daging."
Hinata mendengus, "Aku ingin berdamai denganmu, bagaimanapun kita harus bisa bekerjasama dan terbiasa satu sama lain, aku ini asistenmu." gadis itu meliriknya, tapi Naru belum juga menanggapi. "Aku minta maaf, mulai sekarang tolong beritahu apa yang mesti aku lakukan."
"Apa boleh buat, tidak ada pilihan lain." Naru mengaduk-aduk tumisan sayur, membubuhkan bubuk merica, garam, gula dan lainnya untuk menambah rasa. Lima menit selanjutnya dia menambahkan daging sapi segar dan kembali mengaduk sejenak sebelum memberi sedikit air juga kecap ke dalam tumisan.
"Jadi... kita berdamai?" Hinata menuturkan, cukup heran menyaksikan Naru yang langsung setuju dengan rencananya tanpa bantahan.
Tentu saja Naru punya alasan kuat, bukan sembarang menuruti. Jadwal syuting yang semakin dekat, ketidak beradaan Konohamaru, Naru sudah tahu apa yang membuat mantan asistennya tersebut meminta izin cuti, sampai batas waktu yang tak bisa dipastikan. Pemuda itu akan melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda dan Naru sangat menghargai keputusannya. Meskipun sedikit menyesalkan sikap tertutup Konohamaru hingga ketidakjujurannya, mustahil ia memaksa pula keberatan.
"Tapi kau harus ikut peraturanku." ucap Naru selagi ia menata masakan ke piring dengan hati-hati, menghidangkannya di atas meja kemudian. "Yang pertama jangan lagi mengancamku, aku sadar kau sengaja dan aku tidak pernah bercanda soal kebersihan. Cuci tanganmu tujuh kali, semprot ini ke seluruh pakaianmu, juga kursi yang kau duduki, jika sudah kau boleh kembali duduk." titah Naru sembari menyodorkan desinfektan pada Hinata.
"Kau serius memintaku...?"
"Jangan membantah, Sadako. Aku tidak pernah main-main soal kebersihan atau perdamaian batal bila kau tak mampu mengikuti aturanku." ia mengamati dengan sorot mata menuntut pada Hinata.
"Namaku Nako, bukan Sadako." dengan terpaksa gadis itu menyanggupi, Hinata mulai menyemprot desinfektan ke seluruh pakaian dan kursi lalu melangkah ke wastafel dan membersihkan tangannya di sana."
"Sediakan nasinya, kau boleh makan bersamaku setelah membersihkan diri."
"Bagaimana kau tahu? Aku belum bilang kalau aku lapar." kernyitan di dahinya muncul, saat sepintas ia menoleh pada Naru.
"Apa lagi yang kau tuju ke dapur selain mencari sesuatu untuk di makan? Dan aku tak pernah menyimpan makanan instan apa pun di kulkas."
Hinata tersenyum kikuk, "Terimakasih dan maaf karena pernah berpikir kau hanya pria yang dingin."
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving with OCD Guy ✓
RomanceSiapa yang bisa menolak jika harus dihadapkan pada suatu kelainan aneh. Mengidap misofobia bukanlah keinginan Naruto. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan bertolak belakang dengan pekerjaan yang tengah dirinya geluti. Berkutat dengan kamera, lam...
