Penampilan baru King Naru menyebabkan Hinata enggan menyia-nyiakan pesona si laki-laki berambut pirang. Ya, kenyataan yang sama sekali belum pernah diketahui olehnya. Semenjak ia mengagumi aktor kenamaan Tokyo tersebut, rambut Naru memanglah sudah berwarna keperakan. Tentu pula tak pernah terpintas dalam benak jika penampilannya merupakan bagian dari tuntutan peran si aktor tampan pengidap misofobia itu. Melirik-lirik singkat, Hinata langsung berpaling bila merasa pergerakan Naru akan membuat dia kedapatan tengah mencuri-curi pandang.
Di dalam mobil, kesunyian suasana mengelilingi mereka. Naru serius dengan kendali setirnya, sementara Hinata berusaha menahan rasa penasaran yang begitu kuat mendorong untuk dicetuskan. Berdeham anggun, mimik wajah Hinata berubah serius. Perempuan itu bertanya, "Naru, kau mengubah warna rambutmu?" Ia memalingkan wajah kemudian menggigit bibirnya akibat gugup, dalam hati Hinata merutuki kenaifannya. Kenapa malah pertanyaan bodoh semacam ini yang terucap, padahal jelas tidak ada celah yang mampu menguatkan asumsi pura-puranya.
"Tidak, ini warna rambut asliku." Naru menjawab santai, tetap fokus ke depan. "Kau terkejut?" tanya lelaki itu.
"Ehm... tidak juga. Maksudku, sedikit," jawabnya terbata-bata.
"Tidak ada yang tahu, bahkan dimulai dari dramaku yang pertama kalinya... rambutku sudah dicat. Mereka bilang kemungkinan rambutku ini bisa mengurangi daya tarik penonton atau membatasi penggemar." Naru menoleh lalu mengedikkan kedua bahunya. "Kebijakan manajemen, sulit ditolak."
"Apa? Bukannya justru lebih tampan, ya?" Hinata meringis malu, kembali mengalihkan pandang dari Naru. "Maaf, tapi kalau diperhatikan, begini juga memang tampan kok," timpalnya lagi memberanikan diri.
"Pilihan, jika berada di dunia hiburan... maka harus siap dengan kemungkinan apa pun. Mereka punya standar tersendiri dan terkadang agak berlebihan, untuk sebagian orang," papar Naru, sesekali ia menatap tenang asistennya itu.
"Termasuk kau juga?"
"Sampai sejauh ini belum, kuharap juga tidak. Kalau hanya mengecat rambut tak jadi masalah buatku."
"Ternyata kau memang aktor profesional."
"Mestinya begitu 'kan? Bukan hanya aktor, berlaku untuk setiap profesi," tutur Naru demi memperkuat asumsinya.
"Kita akan ke mana?"
"Pulang. Tadinya aku berencana mampir ke supermarket, membeli barang-barang atau apa saja yang pasti dibutuhkan nantinya. Tapi sangat ramai kalau jam siang seperti ini, biar kuminta Itachi yang mempersiapkan. Omong-omong, apa kau bisa memasak spageti? Aku ingin sekali memakannya." Berniat memburu waktu ia pun meningkatkan kecepatan laju mobilnya.
"Spageti? Kalau cuma itu sih, tentu saja aku bisa," sahut Hinata tak ragu.
Naru menoleh, agak lama dan ia bilang, "Jangan terlalu pedas," dijawab anggukan langsung oleh Hinata.
Sepanjang perjalanan pulang keduanya mengobrol banyak. Perasaan yang tidak dapat didefinisikan dengan gamblang pula terus muncul di hati Hinata. Belum lagi jika semakin diabaikan, rasa itu barangkali akan kian bertambah.
"Kau baik baik saja? Kenapa tiba-tiba melamun?" tanya Naru.
"Eh, tidak. Aku tidak apa-apa," kata Hinata. Ia terdiam sejenak lalu bertanya, "Bagaimana caranya sampai kau bisa berada di tempatmu sekarang?"
"Kau bisa berpikir ini sebuah keberuntungan. Karena aku sendiri awalnya juga tidak begitu yakin. Waktu itu yang terpikir olehku adalah bisa terbebas dari penyakit ini. Ya... walaupun kenyataannya berbeda dari yang kuharapkan. Setidaknya ada beberapa orang yang bisa memaklumi dan tetap bersamaku."
"Itachi maksudmu?"
"Salah satunya dia, ada yang lain juga. Ketua Mei, Konohamaru."
"Dia tidak bekerja denganmu lagi 'kan? Kata Itachi dia berhenti untuk melanjutkan kuliahnya."
Naru mengangguk sebelum menuturkan, "Aku akan senang sekali jika dia masih mau bergabung denganku, kapan pun itu." Mendengar pengakuan Naru tersebut Hinata langsung terdiam, ia menunduk lesu.
"Kau juga boleh bekerja selama yang kau mau, aku tidak akan mengusirmu lagi. Maaf karena pernah melakukannya," ujar lelaki itu seraya mengamati wajah Hinata yang tak lagi murung.
▪▪▪
Sore hari yang cerah, di kala senja membawa matahari pergi tanpa pamit. Namun ia kerap menaburkan warna jingga sebelum berlalu hingga sang fajar mengantarkannya kembali.
Di taman belakang, Naru tengah duduk bermenung, kelihatan bingung seolah memikirkan sesuatu. Tanpa sengaja mendapati keberadaan lelaki itu, Hinata pun melangkah perlahan sampai ke pintu. Berusaha mengamati dari jarak lebih dekat. Rasa penasaran menggiring ia dan menyebabkan pula kakinya menjadi lebih ringan dan ia menghampiri Naru.
"Hei, apa aku menggaggumu?" tanya Hinata dengan seutas senyum simpul di bibirnya.
"Nako! Ah, tidak. Duduklah," tawar lelaki itu dengan sukarela.
Jelas tanpa berpikir ulang, Hinata segera mendudukkan bokongnya di atas sofa oranye empuk berlapis kain akrilik itu. Ia mendesah pelan, menatap Naru lalu bertanya, "Kau tidak alergi lagi terhadapku? Biasanya kau langsung marah dan memintaku untuk menjaga jarak darimu."
Naru terkekeh pelan, ia menyandarkan punggungnya ke sofa. "Aku juga tidak tahu, hanya saja perasaanku mengatakan kalau kau tidak berbahaya seperti orang-orang di luar sana. Lagi pula jika dilihat dari jarak dekat, aku tahu kalau kau sangat merawat kebersihan dirimu dan aku tidak bisa berpura-pura mengabaikan hal itu." Naru menjawab asal, ia sendiri pun tak paham atas apa yang keluar dari mulutnya. Namu tetap berusaha tampak biasa-biasa saja di hadapan Hinata.
Kening Hinata mengerut, justru ia lebih dari sekadar heran dengan perkataan lelaki itu. Apa-apaan maksudnya? Dasar! Apa dia lupa sudah berulang kali mencoba mengusirku? Gerutu Hinata dalam hati seraya mencebikkan bibir. "Kau memikirkan apa?"
"Seseorang." Naru bergeming sebentar, ia melirik Hinata dan berkata, "Apa tidak salah jika kau tahu? Masalahnya aku belum pernah berbagi cerita apa pun dengan orang lain. Bagaimana kalau..."
"Kalau kau ragu, tidak usah memaksakan diri. Tapi jika mau aku siap menjadi pendengar yang baik untukmu." Hinata menyela dan mencoba meyakinkan lelaki itu akan tindakan yang ingin dia perbuat.
"Lagi pula ini sudah berakhir, untuk apa aku menyembunyikannya lagi? gumam Naru pelan, tak lama ia memusatkan atensinya pada Hinata. "Aku pernah menyukai seorang gadis, dia temanku. Pertemanan yang tak biasa, karena nenek sengaja mengenalkan kami berdua, dia dokter pribadiku. Maksudku dia sempat menangani misofobiaku ini. Dia gadis dengan pesona berbeda, cerdas juga ambisius. Aku tidak yakin kapan pertama kalinya aku begitu tertarik. Sampai segalanya terlalu cepat bagiku dan saat itu dia pun pergi, dia meninggalkanku. Andai aku memahami sedari awal akan berakhir sesakit itu, mungkin lebih baik tidak perlu berteman dengannya. Tiba-tiba Naru tergelak, "Dia mempermainkanku, sudah beberapa tahun dan aku baru mengetahui perasaannya, perasaan yang sama denganku, tapi dia tega menutupi semua lalu pergi, lucu sekali." Ia menggeleng, satu sudut bibirnya terangkat, seolah sedang meremehkan dirinya sendiri.
"Mestinya kau bersikap netral dalam hal ini. Bukankah dia temanmu, bahkan sebelum perasaan itu hadir? Lalu kenapa kau seperti menyesali yang terlanjur terjadi, mungkin dia punya alasan yang memaksanya diam. Tapi kau tidak bisa hanya memikirkan dirimu, berarti kau sama egoisnya dengan dia," tutur Hinata sengaja menekankan suaranya. "Kalau kau memang menyukai gadis itu, ya berjuang untuk mendapatkannya, bukan cuma mengeluh," katanya serius meskipun dengan muka yang berubah masam. "Aku masuk dulu, tiba-tiba ngantuk," ujar Hinata lagi kemudian meninggalkan Naru dengan langkah mengentak akibat kesal mendengar kisah lelaki itu.
Berbeda dengan Naru yang bertambah bingung, kedua alisnya saling bertaut. Dalam diam ia mengamati sikap aneh Hinata dan berkata, "Dia itu kenapa sih?" Naru mendengkus. "Induk kuman memang tidak pernah waras," cibirnya lagi.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Loving with OCD Guy ✓
Roman d'amourSiapa yang bisa menolak jika harus dihadapkan pada suatu kelainan aneh. Mengidap misofobia bukanlah keinginan Naruto. Tentu saja hal ini sangat mengganggu dan bertolak belakang dengan pekerjaan yang tengah dirinya geluti. Berkutat dengan kamera, lam...
